Berita

ilustrasi/ist

JOURNALIST DIARY

Ketika Fotografer Pemula Kehilangan Nyali

SABTU, 22 SEPTEMBER 2012 | 16:51 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sebenarnya saya kurang tertarik dengan dunia fotografi. Termasuk untuk kepentingan diri sendiri, dalam arti mendokumentasikan foto-foto pribadi di setiap ada acara atau saat berwisata dan bepergian ke daerah-daerah.

Tapi, seiring perjalanan waktu, saya mulai suka menjepret. Terutama, setelah ada anjuran dari Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online bahwa setiap wartawan harus mengirim foto dalam setiap moment. Foto-foto yang dikirim juga tidak harus seperti jepretan fotografer profesional.

Maklum, untuk mengambil foto juga hanya pakai Blackberry merk Curve, dalam konteks diri saya sendiri. Asal, jelas angle-nya.

Karena saya bukan liputan di lapangan, bidikan saya biasanya tertuju pada peristiwa-peristiwa di sepanjang perjalanan dari rumah, di Rawakalong, Bogor ke kantor, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Setiap hari, saya menggunakan tiga jenis angkutan dari rumah ke kantor. Yaitu, sepeda motor, kereta api, dan angkotan kota.

Terkadang, saya turun dari motor, bila melihat sesuatu yang unik. Tapi, saya akui, kebanyakan saya mengambil foto di stasion dan di dalam kereta. Itu pun untuk kereta, hanya jenis KRL ekonomi dan kereta ekonomi jurusan Jakarta-Rangkas Bitung, yang kerap disebut sebagian orang kereta-kereta "odong-odong."

Memang, dua jenis kereta terakhir ini, kebanyakan ditumpangi kelas menengah ke bawah. Di kereta itu, biasanya tumpleg, tidak hanya penumpang. Ada pengamen, penjual asongan, dan pengemis. Semua jenis pengamin, pengemis, dan pedagang berhimpitan dengan penumpang, yang bila pada jam kerja sangat padat, bahkan sampai tidak bisa bergerak.

Sudah bisa ditebak, foto-foto saya tidak jauh dari peristiwa orang bawahan." Misalnya, keluarga buta yang sedang mengamen, orang yang tertidur di lantai kereta karena mabuk, ibu-ibu membawa anak berhimpitan dengan penumpang sambil menjajakan makanan.Tentu saya harus mencuri-curi agar objek yang dijepret tidak tahu. Karena umum saya mengambil dari jarak dekat.

Kemarin malam, saya mendapatkan moment cantik untuk dijepret. Tapi bukan di kereta. Melainkan di angkot. Yaitu, seorang sopir angkot yang buang air kecil. Tapi, entah kenapa, saya tidak berani melakukannya.

Ceritanya, pada satu sore, saya keluar dari kantor mau pulang ke rumah. Saya menumpang angkot 09 menuju stasion Kebayoran Lama.  Di perempatan lampu merah dekat rumah sakit Media Permata Hijau, sore itu macet, dan memang selalu macet saban sore.

Sewaktu berhenti karena menunggu lampu hijau, Pak Sopir yang kira berumur 60-an membuka pintu lalu turun. Setelah itu, dengan pintu dibiarkan terbuka, dia buang air kecil dengan mengarahkan ke ban depan.

Saya baru ngeh. Dan langsung saya siapkan BB untuk menjepret. Tapi saya tidak berani melakukannya. Karena kuatir dia tersinggung. Kalau saya jepret, tentu dia akan tahu. Karena posisi saya dari depan. Saat itu, saya duduk di depan, sebelah kursi sopir. Saya menduga dia sudah sering melakukannya dan mungkin juga sopir-sopir lain. Hal ini tentu sangat tidak patut.

"Bapak buang air kecil?" tanyaku sesaat setelah dia naik kembali.

"Ya, daripada sesak," timpalnya singkat.

Saya sebenarnya ingin menanyakan banyak hal ke Pak Tua tersebut. Tapi entah kenapa, saya sungkan. Sampai di Pasar Kebayoran Lama, saya sama sekali tidak ngobrol dengan dia. Saya pun tidak bisa mengingatkan dia bahwa apa yang dia lakukan itu sungguh tak elok. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya