Dahlan Iskan
Dahlan Iskan
(Tulisan ini saya buat di BB sambil tiduran di sela-sela pemeriksaan kesehatan di rumah sakit SGH setelah flu yang tidak sembuhsembuh sejak pulang dari Mekkah dan Baghdad, dua pekan lalu).
INILAH bukti bahwa birokrasi kita tidak jadi faktor penghambat. Katakata itu diucapkan dengan semangat oleh RJ Lino, Direktur Utama PT Indonesia Port Corporation, nama baru PT Pelindo II (Persero). Nadanya seperti promosi. Juga seperti melawan arus besar yang hidup di masyarakat.
Tapi Lino memberikan bukti. Mungkin Lino sendiri kaget bahwa proyek besar yang dia prakarsai itu akhirnya bisa berjalan. Tidak gagal, misalnya, karena ruwetnya birokrasi.
Padahal proyek yang dia gagas dan dia perjuangkan ini bukan proyek sembarangan. Besar skalanya, besar urusannya, dan besar biayanya.
Inilah proyek yang kalau jadi nanti bisa mengubah peta logistik nasional. Inilah SATU proyek yang kalau jadi nanti nilainya lebih besar dari apa yang sudah diÂbangun di Tanjung Priok seÂlama 130 tahun.
Inilah proyek yang akan membuat pelabuhan di Indonesia sejajar dengan pelabuhan-pelaÂbuhan besar di dunia. Kalau pun tidak menang, kita tidak akan kaÂlah lagi dari Malaysia atau SiÂngapura. Inilah pelabuhan yang dalamnya sampai 16 meter seÂhingga kapal terbesar di dunia pun bisa bersandar di Jakarta.
Inilah The New Tanjung Priok.
Dunia perkapalan memang puÂnya kecenderungan baru; kian taÂhun kian besar saja ukuran kapal yang dibuat. Ini untuk mengejar efisiensi angkutan barang. Kian besar kapalnya kian banyak yang bisa diangkut. Dan kian murah biaya angkutannya. Akibatnya kian banyak saja kapal yang tidak bisa mampir ke Indonesia.
Indonesia pun kian terkucil. Pelabuhan-pelabuhan Indonesia haÂnya bisa jadi feeder untuk pelabuhan-pelanbuhan besar di negara lain. Sekarang ini misalÂnya sudah ada kapal yang begitu beÂsarnya sehingga bisa meÂngangÂkut 18.000 kontainer. Pelabuhan kita kian jauh dari itu. Pelabuhan sebesar Tanjung Perak Surabaya pun hanya mampu menerima kapal 3.000 kontainer. Medan, Makassar, dan Batam hanya bisa menerima kapal 1.000 kontainer. Betapa jauhnya kapasitas yang harus kita loncati.
Lino tergolong CEO BUMN yang tidak pantang menyerah. Dia tembus semua kesulitan. Dia gedor semua pintu. Dia hadapi semua persoalan. Wajar jika di ajang Anugerah BUMN tahun lalu di mendapat gelar CEO BUMN Paling Inovatif.
Tapi Lino juga beruntung. MenÂko Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof Armida Alisyahbana, dan terutama MenÂteri Perhubungan EE ManginÂdaÂan, berada dalam satu barisan. BahÂÂkan Presiden dan Wakil PreÂsiden memonitor terus proyek ini.
Masalah terakhir yang sangat melegakan adalah ketika Menhub EE Mangindaan memberikan hak konsesi selama 70 tahun. Dengan keluarnya keputusan itu tidak ada lagi masalah birokrasi yang diÂnanti. Kini semuanya tinggal menÂjadi tanggung jawab Lino. Mulai dari bagaimana memÂbaÂngun fisiknya hingga bagaimana menÂcari uangnya yang sebesar gajah bengkak itu.
Proyek ini memang tidak mengÂgunakan dana dari negara sama sekali. Tidak ada dana dari APBN. Begitu kuatnya keinginan agar proÂyek ini segera tereaÂliÂsaÂsikan (tahap satu harus sudah bisa diresmikan tahun 2014), sebelum hak konsesi didapat pun semua persiapan sudah diselesaikan. Dengan demikian begitu semua perizinan beres proyek langsung bisa dimulai.
Minggu ini kontrak pekerjaan sudah bisa ditandatangani antara Lino dan Bambang Triwibowo Dirut PT PP (Persero) Tbk. PP adalah BUMN yang sudah sangat berpengalaman membangunm pelabuhan. Saya akan minta begiÂtu hari itu tanda tangan kontrak dilakukan, besoknya PT PP sudah harus mulai bekerja.
Lantaran letak pelabuhan baru ini di tengah laut (untuk mendaÂpatÂkan kedalaman yang cukup), maka Lino juga menggagas perÂlunya jalan tol baru yang langÂsung menuju pelabuhan ini. SeÂkaÂligus ikut mengatasi padatnya lalu lintas truk di kawasan Priok. Proyek jalan tol sepanjang 7 km iniÂlah yang Jumat lalu juga diseÂpaÂkati untuk langsung saja dibaÂngun oleh PT Jasa Marga (PerÂsero) Tbk. Proyek ini juga meÂlibatkan PT Kawasan Berikat NuÂsantara (Persero) karena harus menggunakan tanah miliknya.
Begitu pelabuhan baru dan jalan tol baru mulai dikerjakan, empat perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelabuhan mulai menjalankan program peÂningkatan kapasitas di beberapa pelabuhan utama.
Dengan demikian pelabuhan seperti Medan, Batam, Surabaya, dan Makassar akan berubah menÂjadi pelabuhan yang bisa dimaÂsuki kapal 3.000 kontainer. MeÂreka juga akan membuat pelaÂbuÂhan baru yang langsung berukuÂran besar di Sorong.
Semua perubahan tersebut tenÂtu perlu segera diantisipasi oleh kalangan bisnis, terutama bisnis perkapalan. Misalnya saja sampai saat ini belum ada pengusaha kaÂpal kita yang memiliki kapal keÂlas 3.000 kontainer. Tentu seÂkaÂrang perlu menyiapkan diri agar kelak bisa benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri. ***
Populer
Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25
Senin, 02 Februari 2026 | 13:47
Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34
Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07
Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50
Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41
Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51
UPDATE
Jumat, 06 Februari 2026 | 23:47
Jumat, 06 Februari 2026 | 23:33
Jumat, 06 Februari 2026 | 23:13
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:37
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:25
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:15
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:12
Jumat, 06 Februari 2026 | 22:05
Jumat, 06 Februari 2026 | 21:53
Jumat, 06 Februari 2026 | 21:29