Berita

ilustrasi

SBY Harus Tegas Hentikan Penyebaran Kekerasan

KAMIS, 06 SEPTEMBER 2012 | 10:16 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Tatanan harmoni sosial bangsa dan rasa kedamaian di tanah air kini dirasakan semakin hilang, sekaligus tersingkir oleh berkembangnya kekerasan dalam masyarakat luas baik berupa konflik horisontal, aksi teror, sengketa keagamaan, maupun perseteruan lain menyangkut kepentingan rakyat dengan kekuasaan.


Karenanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perlu segera menghentikan bentuk-bentuk penyebaran kekerasan di tengah kehidupan berbangsa secara tegas dan berani.

"Hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat menciptakan malapetaka serius bagi bangsa. Fenomena kekerasan ataupun ‘disorder’ harus diatasi dengan kewibawaan Presiden SBY dan penegakan hukum, termasuk mengedepankan aspek
kesejahteraan ekonomi demi hidup rakyat yang bermartabat," kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, Kamis, (6/9).

Ia menegaskan, praktik kekerasan terjadi akibat peran pemerintah yang lemah dalam memerangi akar kemiskinan, di samping adanya ketidakberdayaan hukum dalam membela nasib rakyat sehingga mendorong hilangnya kepercayaan sosial terhadap elemen pemerintah.

Lebih lagi, tambahnya, kenyataan di sekitar elit nasional serta pihak berkuasa kerap mencerminkan ketidakserasian yang bahkan berujud pertengkaran. Hal itu tentu dipandang sebagai wujud ketidakpedulian para pemimpin di tingkat atas guna menyelesaikan permasalahan bangsa.

Sementara itu, keteladanan moral yang tidak tampak berikut keengganan hidup sederhana di antara pemuka masyarakat, bangsa, serta elit kekuasaan di berbagai tingkatan telah mempersubur ketidaknyamanan rakyat. "Jelas saja, kenyataan ini ikut melahirkan rasa jengah sosial, yang kemudian diarahkan kepada wilayah perlawanan atau kekerasan," ujarnya.

Syahganda menilai, peran Presiden SBY diperlukan untuk mengembalikan tertib sosial serta harmoni kebangsaan, agar segala konflik dan budaya kekerasan tidak tumbuh menghebat gejalanya.

Ia bahkan mengusulkan, Presiden harus melibatkan tokoh-tokoh utama bangsa yang berpengaruh di masyarakat, untuk terlibat meluruskan benang-merah persoalan bangsa yang terbilang tidak main-main dalam sifat kadar dan lingkarannya itu.

"Semua pihak yang layak harus dihadirkan, dan Presiden SBY pula yang musti berada di barisan paling depan, sebab siapa pun hanya akan menunggu langkah konkret Presiden SBY," jelas kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia itu.

Di balik itu, Syahganda mengritik langkah sporadis yang sering digunakan aparat kepolisian dalam melawan kekerasan serta aksi teror, yang dilihatnya sekedar menunda kekerasan itu sendiri melalui penembakan semata-mata.

"Intinya, setiap kekerasan dalam masyarakat memerlukan penuntasan dengan langkah yang integral. Dengan demikian, aparat keamanan tidak bisa sendirian bila ujungnya adalah Indonesia yang damai, sejahtera, dan bermatabat," pungkasnya. [zul]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya