Berita

syahganda nainggolan

Waspadai Ancaman Junta Kapitalis di Indonesia!

SENIN, 03 SEPTEMBER 2012 | 17:14 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Segenap komponen bangsa diharapkan mewaspadai ancaman junta kapitalis yang mengedepankan kekuatan modal dalam segala hal termasuk upaya perebutan kepemimpinan nasional pada Pemilihan Presiden 2014 mendatang.

Harapan itu disampaikan Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Senin (3/9).

"Dahulu bangsa ini pernah mengalami junta militer dari Soekarno ke Soeharto. Namun setelah reformasi justru yang berkembang adalah desakan kapitalisme internasional, dengan kekuatan-kekuatan kapitalis di tanah air yang berusaha menguasai negeri dan kekuasaan politik secara nasional," kata Syahganda

Karenanya, dalam bidang politik bebas pascarezim Soeharto yang dimulai sejak era reformasi, yang masa depannya cenderung tak terbungkus Pancasila itu, dikhawatirkan melahirkan penguasaan hidup rakyat secara membabi-buta atas keserakahan politik uang dari kekuasan kaum pemodal, untuk kemudian menjauhkan harapan rakyat terhadap kemajuan hidupnya di berbagai bidang khususnya kesejahteraan ekonomi.

Untuk itu, katanya, seluruh kekuatan prokerakyatan harus saling bahu-membahu melawan kepentingan-kepentingan kapitalisme yang ingin terus menggerogoti bangsa ini. "Kapitalisme itu kejam, tak menghiraukan suara rakyat bahkan bisa membeli suara rakyat," ujarnya, mengingatkan.

Syahganda mengatakan, kekuatan kapitalisme saat ini sedang berusaha mencengkeram lawan-lawannya termasuk dalam memperebutkan kekuasaan menjelang Pemilu 2014. "Kaum kapitalis dalam negeri bahkan menggalang kekuatan kapitalis asing untuk menancapkan pengaruhnya di negeri ini," katanya, tanpa menyebut pihak-pihak tertentu yang mengedepankan kapitalisme.

Ia menambahkan, situasi keberadaan bangsa bahkan ditentukan oleh para pemilik modal dan bukan lagi berdasarkan nilai-nilai luhur beragama termasuk dengan meninggalkan Pancasila yang seharusnya dipertahankan.

Pada sisi lain, lanjutnya, kemajemukan bangsa pun dilepaskan dari ikatan Pancasila, yang menjadikan makna persatuan tidak terkelola dengan baik karena dihadapkan pada kepentingan kelompok atau perseorangan yang lebih kuat.

Ia juga menegaskan, wajah keislaman berikut nilai-nilai keindonesiaan dengan semangat Pancasila, yang sejak lama tumbuh kuat di tanah air terpaksa menghadapi ketergerusan akibat meluasnya praktik kehidupan serba konsumtif yang sekadar mengedepankan kepuasan individu, dan fenomena itu jelas mengabaikannya aspek kesadaran sosial dalam mengupayakan kemartabatan hidup masyarakat baik ekonomi maupun politik.

"Itu terjadi, semata-mata karena merajalelanya budaya kapitalisme di negara ini yang semakin dinikmati oleh para pemimpin dan kelompok menengah atas," katanya.

Syahganda menjelaskan, perdebatan panjang oleh para pemuka bangsa dalam mengharmonikan Islam dan Pancasila demi mengukuhkan persatuan nasional ternyata semangat historisnya telah dikubur dalam-dalam, sekaligus tidak mengemuka ke permukaan selama era reformasi akibat merebaknya kapitalisme di Indonesia.

"Hal itu lantaran kehidupan keumatan sepenuhnya dicekoki oleh paham kapitalisme global, sehingga membuatnya terjebak dalam kehidupan yang hedonis, pragmatis, egois/individualistik, dan terlanjur materialistik,” demikian kandidat Doktor Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia ini. [zul]


Populer

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Fuad Hasan Punya Peran Sentral Skandal Korupsi Kuota Haji

Kamis, 09 April 2026 | 16:31

UPDATE

Analis Ungkap 3 Faktor Penentu Reshuffle Kabinet di Era Prabowo Subianto.

Sabtu, 18 April 2026 | 09:43

Harga BBM Non Subsidi Naik, Perrtamax dan Dexlite Nyaris Rp24 Ribu per Liter

Sabtu, 18 April 2026 | 09:18

Menuju Kuartal II-2026: Sektor Furnitur Siap Ambil Alih Kendali Pertumbuhan

Sabtu, 18 April 2026 | 09:08

Harga Emas dan Perak Kompak Menguat di Penutupan Pekan

Sabtu, 18 April 2026 | 08:47

Trump Kembali Kecam NATO, Tegaskan AS Tak Butuh Bantuan di Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 08:30

Harga Minyak Anjlok setelah Hormuz Dibuka

Sabtu, 18 April 2026 | 08:17

Wall Street Hijau: Nasdaq Terbang Tinggi

Sabtu, 18 April 2026 | 08:03

Sempat Viral, Ini Fakta di Balik Visual Balita pada Kemasan AMDK

Sabtu, 18 April 2026 | 07:55

Bursa Eropa Menghijau Efek Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Sabtu, 18 April 2026 | 07:41

Hormuz Dibuka tapi AS Tetap Menekan Iran

Sabtu, 18 April 2026 | 07:18

Selengkapnya