Berita

Selesaikan Masalah Papua dengan Pendekatan Kesejahteraan

JUMAT, 31 AGUSTUS 2012 | 17:51 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kekerasan demi kekerasan yang terus berlangsung di wilayah Papua tidak perlu menyurutkan semangat bangsa dan negara Indonesia mengedepankan pendekatan kesejahteraan dalam membangun Papua.

Pendekatan kesejahteraan yang diamanahkan oleh UU Otsus sepanjang sepuluh tahun terakhir perlu lebih ditingkatkan kualitasnya, melalui evaluasi secara rutin dan membenahi sasaran-sasaran pembangunan sesuai dengan kepentingan penduduk asli Papua, khususnya.

Namun, persoalan Papua tidak perlu masuk dalam tema-tema disintegrasi, referendum ataupun pelurusan sejarah.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC), Syahganda Nainggolan dalam diskusi publik "Save Papua; Save Indonesia" di Kampus ITB Bandung, Jumat (31/8).

Diskusi publik "Save Papua; Save Indonesia" ini diprakarsai Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB. Selain Syahganda Nainggolan, juga hadir sebagai pembicara Direktur Center of Indonesian Public Policy Studies (CIPPS) Ramadhani Pratama; Ketua Nasional Papua Solidaritas (NAPAS) Marthen Go dan Presiden KM ITB Ajar Dimara Sakti.

"Persoalan integrasi dan Indonesia sebuah negara kesatuan dari Sabang sampe Merauke sudah selesai,"  ujar Syahganda.

Syahganda melanjutkan bahwa globalisasi memang seringkali mendorong adanya semangat etno nasionalisme, yakni kesadaran nasional berdasarkan etnik. Hal ini dimulai dari era 90-an di Balkan, eks Uni Sovyet. Namun, ia yakin bahwa Indonesia yang tumbuh berkembang dalam sejarah multi etnik yang panjang akan dapat bertahan dan maju sebagai sebuah bangsa.

Problem pokoknya adalah membangun kesadaran rakyat untuk memperjuangkan nasibnya melawan hegemoni negara yang ditunggangi kepentingan kapitalisme.  "Kita harus membangun front rakyat untuk mempertahankan negara dan kepentingan rakyat kita, tidak harus bergantung pada negara," ujar Syahganda. [zul]


Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya