Berita

Ada Api Asmara Di Balik Tragedi Berdarah Sampang

RABU, 29 AGUSTUS 2012 | 09:31 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Presiden dan sejumlah pejabat tinggi di pemerintahan menyatakan bentrokan berdarah di Sampang bukan murni urusan agama. Ada latar belakang konflik internal, masalah pribadi, di antara dua kelompok.

Apakah benar begitu?

Kemarin, wartawan grup koran ini mewawancarai warga Desa Nangkernang yang kini mengungsi di gedung Tenis, Sampang. Salah satu pengungsi di situ adalah Iklil Almilal, kakak kandung Tajul Muluk. Tajul adalah pimpinan penganut Syiah dari desa tersebut. Iklil menceritakan konflik pribadi yang memicu bentrokan itu.

"Yang jelas, ini awalnya permasalahan keluarga. Saya nggak tahu kenapa bisa didramatisir," katanya kemarin, seperti dikutip dari Harian Rakyat Merdeka.

Di kampung dia, ada gadis bernama Halimah. Rois kabarnya tertarik pada wanita ini. Halimah pun diminta datang ke tempat Rois untuk membantu-bantu isterinya. Tetapi ayah Halimah melarang. Mungkin karena Rois sudah beristri. Mungkin juga karena beda aliran. Ayah Halimah adalah pengikut Tajul Muluk. Sedangkan pandangan agama Rois kerap beda dengan Tajul, yang juga kakak kandungnya.

Singkat cerita, Halimah akhirnya dipinang oleh salah seorang santri, pengikut Tajul Muluk. Rupanya, ini memicu kemarahan Rois. Cinta bertepuk sebelah tangan, memanaskan suasana. Maka, keluarlah bermacam isu yang mendiskreditkan penganut Syiah dan pengikut Tajul Muluk.

Tahun 2011 konflik jadi parah. Sebuah mushola milik Tajul Muluk dibakar. Juga madrasah dirusak. Satu orang divonis penjara 3 bulan. Sedangkan Tajul malah dihukum hakim 2 tahun penjara dengan tuduhan penistaan agama. Sampai kini, Tajul masih menjalani hukuman. Sementara, Desa Nangkerang, tempat dia dan keluarganya tinggal kini juga hancur akibat dibakar massa, tiga hari lalu.

Menurut Iklil, keberadaan penganut Syiah di desanya sudah ada sejak 2005. Memang ada perbedaan keyakinan, tapi tidak pernah bentrokan. Pemicu bentrok adalah urusan keluarga, yang dimulai di awal 2011.

Sampai kemarin, pengungsi di Tenis indoor berjumlah 300-an orang. Kebutuhan sehari-hari diurus oleh Pemerintah Kabupaten Sampang. Mereka menginginkan kembali ke desa secepatnya. Tetapi suasana dianggap belum kondusif.

Komnas HAM meminta pemerintah tidak menyederhanakan tragedi Sampang. “Kasus Sampang sangat serius. Bukan hanya masalah keluarga. Turunnya petinggi negara ke sana, menunjukkan masalah yang serius,” kata Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh di kantornya, Jalan Latuhanhary, Jakarta Pusat.

Pada Desember 2011, Komnas HAM pernah mengeluarkan tiga rekomendasi untuk penyelesaikan konflik Syiah Sampang.

Pertama, semua pelaku penyerbuan harus ditindak tegas. Kedua, Kementerian Agama harus melakukan tindakan persuasif dan mendorong tolerasi beragama. Ketiga, pemda melakukan perlindungan kaum minoritas. “Sayangnya, rekomentasi ini tidak dilaksanakan. Akhirnya, peristiwa Desember 2011 berulang dan bahkan lebih besar,” tuturnya.

Polda Jawa Timur menetapkan satu tersangka dalam kasus tersebut berinisial R. “Jam 11 siang telah dilakukan penahanan karena diduga kuat sebagai pelaku terkait penganiayaan dan termasuk penggerak massa di sana,” ujar Kabiro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Boy Rafli Amar. [zul]


Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya