Berita

ilustrasi

Janji-janji Kemerdekaan Masih Jauh dari Realitas

JUMAT, 17 AGUSTUS 2012 | 15:35 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Enam puluh tujuh tahun lalu, pendiri bangsa berjuang dengan harta dan jiwa untuk melepaskan Indonesia dari belenggu penjajah.

Belenggu penjajah ini yang membuat bangsa ini tidak berdaulat dalam politik; tidak mandiri dalam ekonomi; dan tidak berkepribadian dalam budaya atau dalam bahasa Bung Karno Trisakti.

Ketiga hal tersebut adalah jembatan emas/pintu gerbang untuk melindungi
seluruh bangsa dan tumpah darah, mencerdaskan dan mensejahterahkan rakyat, serta turut menciptakan perdamaian dunia.

"Pertanyaanya apakah setelah 67 tahun kita merdeka, janji-janji kemerdekaan itu semakin dekat untuk terwujud atau semakin jauh berlari ke belakang?" tanya anggota Komisi III DPR Ahmad Yani (Jumat, 17/8).

"Menurut saya semakin jauh berlari ke belakang. Karena rakyat sulit untuk
mendapatkan pendidikan yang bermutu dengan tanpa biaya atau dengan biaya murah," sambung Yani.

Karena faktanya, rakyat semakin susah; lapangan pekerjaan semakin terbatas; harga-harga semakin membumbung tinggi; daya beli semakin merosot. Tak hanya itu, sumber daya alam baik itu minyak dan gas, lahan pertanian dikuasai korporasi, baik itu swasta nasional atau asing.

"(Sementara) BUMN, rakyat, semakin termarginalkan," tegas Yani.

Agar janji-janji kemerdekaan bisa terwujud, dibutuhkan pemimpin yang satu antara kata dengan perbuatan. Tak hanya itu, pemimpin tersebut juga memberikan harapan dalam suasana yang tidak ada harapan, bukan pemimpin yang  selalu meratap.

"Pemimpin yang hadir secara nyata di tengah-tengah  rakyat, bukan yang hadir dengan pencitraan, yang selalu merespon kenyataan dengan alibi-alibi tertentu dan menyalahkan orang lain/ mengkambinghitamkan orang lain," ungkap Yani.

Pemimpin itu juga bertanggung jawab atas seluruh tumpah darah dan rakyat Indonesia. "Pemimpin tidak hanya pandai pidato, tapi pemimpin yang mampu menyeselaikan seluruh problema kebangsaan," demikian Yani. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Subsidi Biaya Haji 2027 jadi Kabar Baik bagi Calon Jemaah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:30

Hanya PDIP Berani secara Vulgar Menyerang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 04:07

Sangat Aneh Parpol di DPR Tidak Tegas soal Putusan MK terkait Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:41

Kumpulkan 800 Pati TNI-Polri: Kekuatan Harus Berujung Rasa Aman Rakyat

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:30

Suyudi Bakal Bawa Korps Bhayangkara Makin Profesional

Jumat, 09 Oktober 2026 | 03:10

Komisi I DPR Usul Dua Rekomendasi soal Status Kavling TNI AL Pangkalan Jati

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:46

Soal Putusan MK, Jokowi-Gibran sedang Menuai Hasil

Jumat, 09 Oktober 2026 | 02:01

PPTQ Al-Ghozali Majalengka Pastikan Isu Perundungan Hoaks

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:26

AHDAA Raih Penghargaan Indonesia Halal Awards 2026

Jumat, 09 Oktober 2026 | 01:09

Industri Percetakan Butuh Kolaborasi Lintas Kementerian

Jumat, 09 Oktober 2026 | 00:36

Selengkapnya