Berita

jokowi

Wajar PKS Tolak Jokowi Karena Tak Bisa Beri Kepastian Tak Loncat Lagi

RABU, 15 AGUSTUS 2012 | 11:43 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Sebagian umat Islam, wajar-wajar saja apabila berpikir dua kali kalau memilih pasangan Joko Widodo-Basuki T. Purnama. Karena umat tidak ingin pengalaman di Solo terulang di Jakarta.

Pengamat sosial-politik Mustofa B. Nahrawardaya mengungkapkan, Wakil Walikota Solo, yang mendampingi Joko Widodo saat ini adalah FX Hadi Rudyatmo, yang beragama Katolik.

"Bila nanti Jokowi terpilih jadi gubernur Jakarta, otomatis FX Hadi Rudyatmo akan jadi walikota. Itu sudah otomatis," jelasnya kepada Rakyat Merdeka Online (Rabu, 15/8).

Nah, di Jakarta, saat ini Jokowi berpasangan dengan pria yang akrab disapa Ahok, yang beragama Kristen. Bila nanti Jokowi tidak menghabiskan masa jabatannya sebagai gubernur, karena mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, otomatis Ahok yang akan menggantikan. Bila itu terjadi sama saja umat Islam memilih pemimpin nonmuslim. Padahal, umat Islam diperintahkan, untuk memilih sesama muslim sebagai pemimpin.

"Orang Islam hanya menjalankan perintah Tuhan. Rahasia perintah Tuhan pasti mengandung kebaikan," ungkapnya sembari melanjutkan, sebaliknya larangan Tuhan memiliki mudhorat kalau dijalankan.

Menurut Mustofa, umat Islam masih bisa menerima kalau memilih calon gubernur muslim dan wakilnya nonmuslim. Tapi, umat Islam berpikir jangka panjang kalau kejadian di Solo terulang.

"Makanya PKS minta, kalau mau lima tahun (memimpin), PKS akan pilih Jokowi. Tapi Jokowi tidak mau. Jadi sudah betul itu PKS (tidak mendukung Jokowi)," tandasnya. (Baca: Inilah Syarat yang Pernah Diajukan PKS untuk Jokowi)

Sebelumnya, mantan Presiden PKS yang juga calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid menegaskan, syarat PKS baru mau mendukung Jokowi di putaran kedua harus bersedia memimpin Jakarta lima tahun kalau terpilih, bukan karena alasan SARA. (Baca: Hidayat Nur Wahid Tak Rela Jokowi Jadi Kutu Loncat Lagi...) [zul]


Populer

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Skandal Hibah Daerah, KPK: Rp83 Triliun Rawan Bancakan

Senin, 20 April 2026 | 12:16

Spirit KAA 1955 Bukan Nostalgia tapi Agenda Ekonomi Global Selatan

Senin, 20 April 2026 | 12:05

Keresahan JK soal Ijazah Jokowi Mewakili Rakyat Indonesia

Senin, 20 April 2026 | 12:01

Lusa, Kloter Pertama Jemaah Haji RI Mendarat di Madinah

Senin, 20 April 2026 | 11:55

Harris Bongkar Peran Netanyahu di Balik Keputusan Perang Trump

Senin, 20 April 2026 | 11:43

Emas Antam Merosot, Ini Harga Terbarunya

Senin, 20 April 2026 | 11:27

Amanah Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

Senin, 20 April 2026 | 11:25

Tangkapan Ikan Sapu-Sapu di Jakarta Tembus 6,98 Ton

Senin, 20 April 2026 | 11:06

Wapres AS Kembali Pimpin Delegasi ke Islamabad untuk Negosiasi Iran

Senin, 20 April 2026 | 10:55

Iran Akui Kapalnya Dibajak AS, Ancam Serangan Balasan

Senin, 20 April 2026 | 10:34

Selengkapnya