Berita

yanuar rizki/ist

Diungkap, Manipulasi Pertumbuhan dan Puja-puji Bangsa Asing

SABTU, 11 AGUSTUS 2012 | 11:50 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pemerintah selalu membanggakan keberhasilan ekonomi dari persepektif makro. Kebiasaan selalu berbicara angka makro itu sebetulnya manipulatif.

Pengamat ekonomi, Yanuar Rizki, mengatakan hal itu karena nyatanya pertumbuhan ekonomi yang dibangga-banggakan pemerintahan SBY tidak melihat pada kenyataan bahwa kelompok kaya bertambah kaya sering dengan cara-cara curang, sementara kelompok yang sudah miskin semakin terpuruk dalam kemiskinannya.

"Apakah makin senjang? Apakah yang kaya makin kaya? Pertumbuhan ekonomi itu tinggi kata orang, tapi 70 persen pertumbuhan itu dari konsumsi. Dan konsumsi kita dari mana? Trennya dari impor," terang dia dalam diskusi "Merdeka Itu Relatif" di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (11/8).


Menurut Yanuar, banyak negara maju dan modern yang memuji Indonesia karena Indonesia memposisikan dirinya sebagai importir setia di berbagai bidang, termasuk pertanian atau pangan sampai ke bahan baku tempe.

"Struktur pertumbuhan kita andalkan konsumsi. Nah, apakah untuk meningkatkan itu pemerintah perlu kerja keras?" ucapnya.

Dia menguraikan bahwa sifat masyarakat di segala lapisan adalah konsumtif. Bahkan, masyarakat kelas menengah yang pas-pasan selalu mencari cara untuk mendapatkan barang-barang yang mereka inginkan. Salah satu caranya adalah dengan berlangganan kartu kredit.

"Data BI menunjukkan nilai kartu kredit yang digunakan meningkat. Masyarakat di kalangan menengah pas-pasan mengatasi kekurangan uang dan harag barang yang melambung itu dengan cara menggesek. Ada eskalasi orang atasi persoalan kenaikan harga lewat cara berisiko," paparnya.

Dia juga secara cermat mengamati pertumbuhan ekonomi dengan pemasukan pajak negara yang merosot tajam. Peran negara menggerakkan kelompok-kelompok kaya untuk taat pajak selalu minim.

"Mereka (kelompok kaya) bisa leluasa lakukan penunggakan pajak, sementara daya dukung APBN untuk belanja kesejahteraan rakyat semakin minim," terang dia. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya