Berita

Triyatno

Wawancara

WAWANCARA

Triyatno: Pesimis Dapat Bonus, Uang Saku Cair Usai Pertandingan

SELASA, 07 AGUSTUS 2012 | 11:16 WIB

Mungkin Anda geleng-geleng kepala mendengar pernyataan Triyatno,  atlet angkat besi yang meraih medali perak Olimpiade London.

Menurut pria kelahiran Kota Metro, Lampung, 20 Desember 1987  itu, uang saku diberikan setelah bertanding. Bahkan uang sa­ku saat di pelatnas belum di­da­patkannya.

“Walau begitu semangat saya ti­dak kendur. Saya mencoba mem­berikan yang terbaik. Upaya saya tidak sia-sia. Saya senang bi­sa meraih perak,’’ kata Triyatno ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Seperti diketahui,  Triyatno  ber­hasil melambungkan bendera merah putih dengan menyum­bang­kan medali perak pada Olim­piade London 2012 kelas 69 kilo­gram dengan total angkatan 333 kilogram.

 Triyatno selanjutnya mengaku ke­cewa dengan pengelolaan keu­angan pelatnas dan pemberian uang saku saat Olimpiade London.

“Kecewa sih, tapi mau bilang apa lagi. Yang penting saat ber­tan­ding, masalah itu tidak mem­pengaruhi saya,’’ katanya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Kalau uang saku saja seperti itu, bagaimana dengan bonus yang dijanjikan pemerintah?

Saya tentu pesimis mendapat­kan bonus besar dari pemerintah, terutama dari Kementerian Pe­muda dan olahraga (Kemenpora). Sebab, pemberian uang saku saja terlambat.

Bagaimana kalau benar dapat bonus besar?

 Kalau benar ada, dan saya mendapatkan bonus itu, tentu sa­ya senang sekali.


Akan digunakan untuk apa?

Tentu saya gunakan untuk masa depan. Insya Allah akan sa­ya tabung untuk nikah.


Kapan?

Kalau tidak ada halangan dan uangnya cukup, mudah-mudahan setelah Pekan Olahraga Nasional (PON) ini akan dilaksanakan resepsinya, he-he.


Bagaimana ceritanya uang saku terlambat diberikan?

Ya, saya nggak tahu. Memang ke­ter­lambatan itu dikeluhkan atlet, termasuk saya. Kenapa sam­pai uang saku diberikan setelah bertanding.

Uang saku itu digunakan untuk belanja ya?

He-he-he, setelah meraih pe­rak, saya belanja di Westfield Shop­ping Centre. Sebab, lokasi­nya dekat athlete village di Olym­pic Park, tempat menginap saya.


Kalau boleh tahu, memang berapa besar uang sakunya?

Ah, tidak enak disebut-sebut jumlahnya, he-he-he.


Kalau boleh tahu, memang berapa besar uang sakunya?

Ah, tidak enak disebut-sebut jumlahnya, he-he-he.


Kalau uang saku pelatnas, ke­napa sampai terlambat juga?

Ini juga dikeluhkan. Uang saku bu­lanan selama 3 bulan belum di­berikan sampai saya pulang seka­rang ini. Tapi itu tidak menja­dikan saya patah semangat.

Kami dari tim angkat besi tidak memikirkan macam-macam. Se­telah bertanding, baru hal lainnya seperti uang saku, dana pem­binaan, dan bonus dibicarakan.


Memangnya uang saku pelatnas berapa?

Setahu saya uang saku pelat­nasnya sebulan sebesar Rp 5 Juta. Tapi itu setelah dipotong pajak 10 persen.

Apa Anda menilai keterlam­ba­tan uang saku ini ada kaitan­nya dengan kasus dugaan ko­rup­si Hambalang dan Wisma Atlet?

Ya. Pasti dua kasus itu berdam­pak pada kami para atlet. Dengan kasus itu makanya sulit menge­luarkan duit buat uang saku pe­latnas para atlet. Saya berharap ja­ngan dikorupsi pejabat dong.

Kami sudah latihan berjuang keras memenangkan pertandingan dan membawa kehormatan bangsa, tapi jangan dana  pembinaan kami dikorupsi.

Apa semua atlet terlambat uang sakunya?

Wah, kalau itu saya tidak tahu. Coba tanya kepada mereka. Yang saya bicarakan khusus atlet angkat besi.


Bagaimana Anda melihat atlet China?

Kalau saya lihat atlet China, wa­lau kalah mereka tetap bisa senyum. Sebab, semuanya sudah diperhatikan, uang sakunya su­dah aman, bahkan masa depan­nya diperhatikan. Kalau atlet kita, kalau menang malah bingung.


Berapa perbandingan uang saku atlet kita dengan atlet China?

Saya dengar  uang saku atlet Chi­na cukup besar. Waduh kalau kita dibandingkan dengan mereka perbedaannya sangat jauh sekali.

Kalau begitu perlu meniru China?

Ya. Kalau olahraga Indonesia mau lebih maju, apa salah kita mengikuti pola China. Misalnya, pembinaan dilakukan 3 sampai 4 tahun. Ini artinya sudah diper­siap­kan jauh hari. Kemudian uang sa­ku sebagai penyemangat atlet ja­ngan diper­sulit, karena keme­na­ngannya toh juga untuk meng­ha­rumkan nama Indonesia.


Apa harapan Anda?

Kami berharap pemerintah memperbaiki sistem pemberian uang saku. Tanpa disadari salah satu motivasi dan tetap semangat adalah dengan adanya uang saku. Apalagi masa depan atlet masa depannya suram. Kalau uang sa­ku saja seret, udah deh, parahlah kondisi atlet itu.

Apa Anda menjadi atlet saja?

O, tidak. Selain jadi atlet, saya ju­ga sudah diangkat menjadi Pe­ga­wai Negeri Sipil (PNS) di Sa­ma­rinda. Kemudian tahun 2007, Pak Adhiyaksa Dault (Menpora saat itu) memberikan atlet bonus besar agar atlet lebih bersemangat lagi. Saat itu sudah agak lumayan kehidupan para atlet.


Apakah itu diperjuangkan Pengurus Besar Persatuan Ang­kat Besi, Berat dan Binaraga Se­luruh Indonesia (PB PABBSI)?

Ya benar. Selain itu juga karena prestasi saya yang dinilai cukup baik. Kemudian  pemerintah dae­rah Samarinda sudah berjanji akan mengangkat atlet-atlet berprestasi menjadi PNS.


O ya, bagaimana perasaan­nya bisa meraih medali perak di Olimpiade?

Saya hampir tidak percaya bisa meraih medali di Olimpiade. Sebab, semua lawan saya cukup kuat, yakni dari China, Korea Utara, dan Kolombia. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya