Berita

M Jasin

Wawancara

WAWANCARA

M Jasin: Kalau Dulu Gampang Korupsi, Sekarang Langsung Dijewer

MINGGU, 05 AGUSTUS 2012 | 08:57 WIB

Di tengah penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan Alquran, Kemenag menggaet bekas Wakil Ketua KPK M Jasin menjadi Irjen.

M Jasin berjanji konsentrasi membenahi Kementerian Agama (Kemenag). Pernah sebagai wakil ketua KPK, tentu banyak menge­tahui permasalahan di kemen­te­rian yang dikomandoi Suryadhar­ma Ali itu.

“Saat saya masih di KPK, se­ring melakukan kajian ke berba­gai instansi, salah satunya Keme­nag. Kajiannya berupa sistem pengelo­laan dana, termasuk dana abadi umat,” kata M Jasin kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, ke­marin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa saja yang Anda ketahui soal Kemenag? 

Selama di KPK saya menanga­ni bidang pencegahan. Dengan pengalaman dan pengetahuan itu tentu menjadi modal untuk mem­benahi Kemenag agar tidak terja­di korupsi.

Apa itu saja modal Anda mem­benahi Kemenag?

Saya sudah punya modal awal karena waktu di KPK melakukan kajian di kementerian. Dengan modal itu bisa melakukan refor­masi di Kemenag.

Anda yakin bisa membuat Kemenag bersih dari korupsi?

Di Kemenag ini masih banyak yang berkomitmen. Kalau kami bersama-sama dengan orang yang komit untuk membenahi Kemenag. Maka harapan itu bisa terwujud.

Apa yang mulai diperbaiki?

Intinya, harus ada perbaikan sis­tem agar korupsi atau penyim­pangan di Kemenag ini bisa diminimalisir atau bahkan bebas dari korupsi. Kami harus berhasil mewujudkan itu.

Anda tidak khawatir malah bisa ikut arus?

Kementerian Agama itu kan sumber moral. Harusnya menjadi acuan instansi lain. Dengan ada­nya saya di Kemenag sebagai Ir­jen, ingin merubah bahwa kalau du­­lu oknum-oknum tertentu gam­pang korupsi dengan mela­ku­kan penyimpangan. Sekarang ini langsung dijewer, tidak gampang lagi melakukan korupsi.

Kenapa Anda begitu optimistis?

Harus optimistis dong. Kan di Kemenag kerja bersama, ada Pak Menteri, Wamen, Dirjen-dirjen,  termasuk Pak Anggito Abimanyu sebagai Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh.

Dengan adanya teman saya, Pak Anggito, saya optimistis bisa membenahi Kemenag agar terbebas dari korupsi.

Bagaimana jika masih ada yang nakal?

Kalau misalnya masih ada yang bandel, kemudian  Irjen tidak tahu, laporkan saja ke Irjen. Saya akan membuat kemudahan laporan masyarakat atas penyim­pangan itu. Orang-orang yang melakukan penyimpangan itu akan diproses secara hukum.

Memangnya harus ada lapo­ran dari masyarakat?

Itu kan kalau tidak diketa­hui Irjen. Memang dibutuhkan ke­­terlibatan masyarakat untuk ber­sama-sama mengawasi.

Laporan seperti apa yang dimudahkan itu?

Dengan adanya sistem laporan yang mudah ini, silakan masya­ra­kat yang mengetahui adanya pe­nyim­pangan untuk segera me­la­por­kan, ter­masuk soal penye­leng­ga­ra­an ­haji, umroh, dan pela­yanan publik. 

Apa ada lobi dengan KPK un­tuk menuntaskan kasus du­gaan korupsi pengadaan Alquran?

Kalau yang sudah masuk ke ra­nah hukum, silakan penegak hu­kum yang menanganinya. Saya akan berusaha agar ke depan ka­sus seperti ini tidak terjadi. Ja­ngan sampai ada lagi. Kami akan te­rus pantau hingga ke seluruh satker Kemenag yang saat ini jumahnya 4.467 di seluruh In­donesia.

Bagaimana caranya agar Satker-satker itu tidak mela­kukan korupsi?

Perlu adanya dorongan pema­ha­man terhadap pencapaian ki­nerja yang baik tanpa korupsi. Kalau bisa, antar Satker itu ber­lomba bebas dari korupsi.

Masing-masing Satker ber­lomba untuk melakukan sistem administrasinya bagus, pengola­han keuangan bagus, sistem pe­laksanaan kerja yang profe­sional, dan pengelolaan keuangan yang baik. Harapan saya seperti itu.

O ya, apa Anda tetap mengajar?

Saya sudah sampaikan ke Pak Men­­teri Suryadharma Ali, kalau di luar jam kerja saya ada tang­gung jawab untuk mendidik anak bangsa. Dengan mengajar, bisa men­didik agar generasi muda itu benar-benar tidak melakukan penyimpangan. Tapi kegiatan saya se­bagai do­sen ini di luar jam kantor atau hari Sab­tu dan Minggu. Kata Pak men­teri, nggak apa-apa asalkan tidak meng­ganggu tugas po­koknya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

Memalukan! Rismon Ajukan Restorative Justice

Kamis, 12 Maret 2026 | 02:07

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

UPDATE

Polisi Berlakukan One Way Sepenggal Menuju Wisata Lembang Bandung

Minggu, 22 Maret 2026 | 18:11

Status Tahanan Rumah Yaqut Buka Celah Intervensi, Penegakan Hukum Terancam

Minggu, 22 Maret 2026 | 17:38

Balon Udara Bawa Petasan Meledak, Atap Rumah Jebol

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:54

Prabowo: Lebih Baik Uang Dipakai Rakyat Makan daripada Dikorupsi

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:47

Puncak Arus Balik Lebaran 2026 Terbagi Dua Gelombang

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:37

Trump Ultimatum Iran: 48 Jam Buka Hormuz atau Pusat Energi Dihancurkan

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:27

KPK Cederai Keadilan Restui Yaqut Tahanan Rumah

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:03

Prabowo Tegaskan RI Tak Pernah Janji Sumbang Rp17 Triliun ke BoP

Minggu, 22 Maret 2026 | 16:01

Istana: Prabowo-Megawati Berbagi Pengalaman hingga Singgung Geopolitik

Minggu, 22 Maret 2026 | 15:46

Idulfitri di Kuala Lumpur, Dubes RI Serukan Persatuan dan Kepedulian

Minggu, 22 Maret 2026 | 14:47

Selengkapnya