Berita

Suswono

Wawancara

WAWANCARA

Suswono: Pengusaha Tempe & Tahu Ingin Tambahan Untung

MINGGU, 29 JULI 2012 | 08:46 WIB

Melonjaknya harga kedelai sangat menguntungkan petani dalam negeri.  Yang dirugikan sebenarnya konsumen. Bukan pengusaha tahu dan tempe.

“Nggak mungkin pedagang itu rugi. Sebab, sudah tahu hitung-hi­tungannya,’’ kata Menteri Per­ta­nian Suswono kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, saat ini stok ke­delai masih cukup untuk meme­nuhi kebutuhan hingga lebaran. Hanya saja pasar internasional harga kedelai sedang naik.

“Makanya para pelaku usaha tempe dan tahu ingin menda­pat­kan keuntungan tambahan de­ngan menaikkan harga,” ujar­nya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Faktor apa lagi yang mem­buat produksi kedelai minim?

Berkaitan dengan lahan. Kita ini tidak bisa mengembangkan le­bih jauh karena terkendala lahan untuk menanam kedelai.

Apa yang sudah Anda laku­kan?

Sejak awal saya menjadi men­teri, untuk swasembada kedelai di­perlukan tambahan lahan mi­nimal 500 ribu hektar. Tapi sete­lah tiga tahun kabinet ini berjalan, lahan yang diharapkan dari BPN belum bisa diwujudkan sampai sekarang. Padahal ada sekitar 7,2 juta hektar yang diindikasikan telantar.

Dalam rapat dengan Menko Ekonomi (Rabu, 25/7) sudah di­pu­tusakan, bea masuk sebesar 5 persen akan dibebaskan. Tapi ini untuk sementara saja. Maksimal sampai akhir tahun saja.

Kok lama sekali lahan dari BPN ini tidak terealisasi?

BPN sedang menyisir lahan dari 7,2 juta hektar itu ada berapa peluang yang bisa diakses petani, khususnya petani kedelai dan tebu. Sebab, tebu juga butuh la­han besar.

Apa pemerintah tidak bisa menekan kenaikan harga kedelai?

Sebetulnya harga kedelai seka­rang ini menarik bagi petani. Ideal­nya, kalau waktu dulu ketika harga beras relatif murah, harga kedelai itu 1,5 dari harga beras. Ar­tinya bisa lebih mahal dari beras.

Kalau sekarang harganya Rp 7.000-Rp 8.000 per kilogram, itu  sudah bagus bagi petani. Sebab, dengan produksi 2 ton per hektar maka petani akan mendapatkan Rp 16 juta dengan biaya sekitar Rp 5 juta-an.

Kondisi ini hampir sama men­dekati harga jagung yang bisa diproduksi 7 ton per hektar de­ngan harga Rp 2.300-an per kilo­gram. Maka petani akan men­da­patkan Rp 16 juta juga.

Pengusaha tempe dan tahu keberatan dengan kenaikan harga kedelai itu, solusinya ba­gaimana?

Saya kira perlu diselidki lebih jauh. Sebab menurut informasi, pabrik-pabrik tempe dan tahu ini biasanya berhenti produksi di awal Ramadhan. Biasanya ada yang seperti itu dan pada perte­ngahan Ramadhan akan pro­duksi lagi.

Tapi tidak mustahil juga naik­nya harga kedelai ini, imbas dari kenaikan kedelai oleh para im­portir. Sebenarnya, bagi pengu­saha tahu dan tempe itu tidak ada masalah kalau harganya naik.

Bukankah bisa membuat pabrik tempe dan tahu gulung tikar?

Nggak juga. Mereka tinggal menyesuaikan saja harga tahu dan tempenya di pasaran, se­hingga tidak mengalami keru­gian. Memang kalau harganya ma­hal, konsumen yang dirugi­kan. Nggak mungkin pedagang itu rugi. Sebab, sudah tahu hi­tung-hitungannya.

Memangnya berapa persen impor kedelai saat ini?

Saat ini kita impor kedelai hingga 60 persen dan 40 persen produksi dalam negeri. Sebab, ter­kendala tidak adanya tam­ba­han lahan itu.

Jika lahan ditambah 500 ribu hektar, bisa mengurangi impor berapa persen?

Kalau ada tambahan 500 ribu hektar, kita ini punya potensi tam­bahan produksi kedelai hingga 1 juta ton. Saat ini, impor kedelai sebanyak 1,5-1,7 juta ton per ta­hun. Agar kita kokoh pada komo­ditas kedelai, paling tidak harus punya 1,5 juta hektar. Saat ini yang ada hanya sekitar 700-an hektar.

Kalau ada lahan, tapi petani tidak tertarik menanam kele­dai, itu bagaimana?

Ada beberapa faktor yang membuat produksi kedelai da­lam negeri tidak bisa digenjot. Da­ri sisi harga, kedelai masih ku­rang menarik sehingga banyak petani yang beralih ke komoditas ja­gung.

Para petani menilai jagung le­bih menarik, sehingga banyak petani menanam ja­gung diban­ding­kan dengan ke­delai. Maka­nya, jika harga ke­delai me­narik, dipastikan peta­ni akan lari ke ke­delai dan ja­gung akan berkurang.

Padahal, lahan yang digunakan jagung dan kedelai itu sama, wak­tu menanamnya pun sama.

Makanya, petani akan me­milih mana yang lebih menarik. Selama ini harga jagung lebih menarik. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya