Berita

PKS Galau Pilih Fauzi Bowo atau Joko Widodo

KAMIS, 26 JULI 2012 | 17:39 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Hingga saat ini, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terkesan masih galau antara memilih berkoalisi dengan Joko Widodo atau Fauzi Bowo dalam pertarungan Pilgub DKI putaran kedua.

Sebelum melangkah lebih jauh, menurut pemerhati sosial politik dan hukum dari The Indonesian Reform, Martimus Amin adanya baiknya dicermati dulu kerugian apa bagi PKS jika mendukung Fauzi Bowo. Begitu sebaliknya, bila PKS mendukung Joko.

Sederhananya, dalam pandangan dia, ada tiga kerugian yang akan diderita PKS apabila sampai mendukung Fauzi Bowo. Pertama PKS dianggap pragmatis dan eksklusif. Bertolak belakang dengan jargon disandang dan dicanangkannya sebagai partai bersih dan inklusif'.

Kerugian kedua, meskipun, misalnya, Fauzi Bowo memenangi pilgub DKI jakarta putaran kedua, beban dosa pemerintahan masa lalu dan sedang dijalankannya turut ditanggung PKS.

Namun yang lebih fatal lagi kerugian yang harus ditanggung PKS adalah calon yang didukungnya yakni Fauzi Bowo tidak terpilih, maka popularitas dan elektabilitas PKS akan makin jeblok.

Lain halnya jika PKS mendukung Joko Widodo. PKS akan tetap dipandang publik sebagai partai bersih, terbuka dan pro perubahan. Meski sebagian konstituen PKS yang memilih Hidayat Nur Wahid pada putaran pertama, karena alasan tertentu menolak untuk memilih Joko pada putaran kedua.

Namun jika Joko terpilih kemudian mampu membenahi keadaan ibukota Jakarta, maka mereka yang memilih Hidayat pada putaran pertama segera menyadari kesalahan dan memberi apresiasi atas ijtihad politik PKS. Amin yakin Jokowi, sapaan Joko Widodo, dapat menjadi sosok gubernur yang baik, teladan dan berprestasi.

"Mudah saja bagi kita menganalisisnya, cukup melihat jejak rekamnya selama ia menjadi Walikota Solo," ucapnya, seperti dikutip dari JakartaBagus.Com sesaat lalu (Kamis, 26/7).

Lebih lanjut Amin mengatakan, ajang koalisi PKS dengan Joko juga dapat dijadikan rekatan awal partai pimpinan Lutfi Hasan Ishaq dan Gerindra sebagai Partai Nasionalis untuk menjajak format koalisi calon presiden dan calon wakil presiden 2014. [zul]


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Realisasi Penerimaan Pajak Tembus Rp1.607 Triliun, Naik 24,1 Persen

Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:26

Isu Parliamentary Threshold 1 Persen Mengemuka untuk Keadilan Demokrasi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:23

Pertamina Kerek Kualitas Pengelola Homestay Lokal Naik Kelas

Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:12

TNI Harus Terbuka Ungkap Tuntas Judi Online di Rumah Dinas

Jumat, 09 Oktober 2026 | 14:09

Jelang Akhir Pekan Harga Minyak Dunia Bertahan di 103 Dolar AS

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:59

Putin Janji Bantu Iran Akhiri Perang di Timur Tengah

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:57

DPR Kebanjiran Aspirasi Masyarakat Soal Putusan MK tentang Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:50

Tanpa Restu Gerindra, DPR Diyakini Tidak akan Berani Makzulkan Gibran

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:47

Usut Tuntas Aktor di Balik Praktik Judi Online di Rumah Dinas TNI

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:37

Loncat dari Lantai Dua, Wanita Ini Selamatkan Anak saat Kebakaran di Rawamangun

Jumat, 09 Oktober 2026 | 13:36

Selengkapnya