Berita

Jusuf Kalla

Wawancara

Jusuf Kalla: Hasil Pilkada DKI Jakarta Barometer Pilpres 2014

JUMAT, 13 JULI 2012 | 09:56 WIB

RMOL. Bekas Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai, hasil Pilkada DKI Jakarta memperlihatkan ketokohan lebih penting daripada dukungan parpol.

“Pemilihan itu tergantung dari figur tokohnya, bukan dari par­pol pendukungnya,” kata Jusuf Kalla kepada Rakyat Mer­deka, kemarin.

Menurut bekas Ketua Umum Partai Golkar itu, kekalahan pa­sangan Alex Noerdin-Nono Sam­pono dalam Pilkada DKI Jakarta   bisa mempengaruhi capres Gol­kar 2014.

Seperti diketahui, hasil peng­hitungan cepat dari Lembaga Sur­vei Indonesia (LSI), pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono mem­peroleh suara 4,37 persen.  Fauzi Bowo-Nahrowi Ramli  34,17 persen. Sedangkan pa­sa­ngan Joko Widodo-Ahok  43,04 persen.

Jusuf Kalla selanjutnya menga­ta­kan, saat ini masyarakat sudah bisa menilai dari track record ma­sing-masing calon, baik dalam pil­kada maupun pilpres. Pero­lehan suara partai belum tentu sama dengan perolehan dari ma­sing-masing calon.

“Kalau partainya dapat 20 per­sen, belum tentu orangnya juga  mendapatkan 20 persen,” je­lasnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

    

Bagaimana peluang Aburizal Bakrie pada Pilpres 2014 se­te­lah melihat Pilkada DKI Ja­karta?

Saya tidak tahu. Yang jelas, tren sekarang ini, orang lebih me­lihat track record dari si calon, ketimbang partainya.


Bukankah Pilkada DKI Jakarta bisa dijadikan barome­ter pada Pilpres 2014?

Ya. Itu menjadi barometer. Pil­kada DKI sekarang ini menun­jukkan tren yang bagus. Cara berfikir masyarakat sudah bagus.

   

Alex Noerdin didukung dari Partai Golkar tapi kalah telak, kok bisa begitu?

Pak Alex itu sebagai gubernur yang baik di Sumatera Selatan. Tapi belum terkenal di Jakarta. Saya akui, memang Pak Alex ini bisa membikin terobosan. Itu saja tidak cukup kalau tidak dikenal masyarakat ibukota.

   

Apakah hal itu yang mem­buat Alex kalah?

Saya kira Pilkada DKI kali ini me­rupakan titik balik sebagai suatu realita bahwa masyarakat sudah jauh lebih paham. Artinya, masyarakt memilih sosok dari masing-masing calon itu berda­sarkan track record, kejujuran, dan sebagainya.

   

Apakah track record Alex Noer­din kurang baik sehingga ku­rang diterima warga Ja­karta?

Seperti yang saya katakan tadi bahwa Pak Alex ini kurang dike­nal saja. Saat ini masyarakat tidak melihat janji-janji dari semua calon gubernur DKI, tapi melihat berdasarkan track recordnya.

Pak Joko Widodo (Jokowi) ini me­mimpin Solo dengan baik. Semua orang melihat bahwa dia jujur, sederhana, dan low profile. Itu sudah bagus. Pemilu juga akan lebih menarik dengan cara-cara seperti itu.

   

Wilayah Solo dengan Jakar­ta itu kan berbeda?

Saya kira walaupun Solo lebih kecil dari Jakarta tetapi dengan ca­ra melihat dari sisi penyele­saian masalah, saya yakin Jokowi bisa menata Jakarta.

   

Sepertinya Anda memilih Jokowi?

Pilkada itu kan bebas rahasia. Jangan tanya siapa yang dipilih. Boleh terka-terka. Tapi kan bebas rahasia.


Masalah apa yang paling krusial di Jakarta?

Ada empat hal, yakni kemace­tan, banjir, kekumuhan, dan  kea­manan.


Bagaimana solusinya untuk mengatasai masalah-masalah tersebut?

Sebenarnya, semua itu sudah ada konsepnya dengan bagus. Mi­salnya mengenai banjir, kan su­­dah ada program banjir kanal timur. Terbukti banjir tidak terla­lu ken­cang lagi. Begitu juga dengan ke­macetan sudah ada konsepnya. Mi­salnya ada jalan rel di atas, tapi di­­hen­­ti­kan. Beginilah keadaannya.

   

Bagaimana cara mengatasi kekumuhan di Jakarta?

Kekumuhan akan bisa teratasi kalau Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo (Foke) itu ikut pro­gram 1.000 tower, bisa langsung selesai masalah kekumuhan itu. Tapi Foke tidak mendukung pro­gram ini. Beginilah akibatnya.

Sejak dulu saya bilang, kalau beberapa masalah di Jakarta itu selesai maka Jakarta akan lebih baik dan nyaman.


Anda menilai Foke kurang berhasil?

Saya tidak ingin menilai itu. Lihat saja hasilnya. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

UPDATE

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

TNI AL dan Kemhan Belanda Bahas Infrastruktur Bawah Laut Kritis

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:00

Beda Imlek dan Cap Go Meh, Ini Makna dan Rangkaian Tradisinya

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:52

Kabar Baik! Bansos PKH dan Bencana Bakal Cair Jelang Lebaran

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:36

KPK Sita 50 Ribu Dolar AS dari Kantor dan Rumah Dinas Ketua PN Depok

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:27

Mengupas Multi Makna Kata 'Lagi'

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:18

Keberadaan Manusia Gerobak Bakal Ditertibkan Jelang Ramadan

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:07

Prabowo Diyakini Bisa Dua Periode Tanpa Gibran

Selasa, 10 Februari 2026 | 17:02

KPK Endus Pencucian Uang Korupsi Sudewo Lewat Koperasi

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

Kejagung Tetapkan 11 Tersangka Korupsi CPO dan POME Rp 13 Triliun, Ini Daftar Namanya

Selasa, 10 Februari 2026 | 16:49

Selengkapnya