Berita

Mahfud MD

Wawancara

WAWANCARA

Mahfud MD: Saya Dianggap Luar Biasa Padahal Hanya Biasa-biasa

SELASA, 03 JULI 2012 | 08:36 WIB

RMOL. Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD tetap merendah meski digadang-gadang menjadi capres dan cawapres 2014.

“Alhamdulillah saya men­dapatkan apresiasi dari se­bagian masyarakat yang mem­punyai kepedulian terhadap masa depan bangsa dan negara,” kata Mahfud MD kepada Rakyat Mer­deka, kemarin.

 Padahal, lanjut bekas Menhan itu,  selama ini di­ri­nya hanya be­kerja biasa-biasa saja. Apa yang diker­jakannya standar sebagai pejabat negara.

“Tapi saya diapresiasi se­perti itu. Tentu saya meng­­ucapkan te­rima kasih,” ujarnya.

Berikut kutipan se­leng­kapnya:


Kalau kerja Anda bia­sa-biasa saja, kenapa di­ga­dang-gadang men­jadi capres dan ca­wapres 2014?

Orang yang bekerja standar dan biasa-bia­sa saja sekarang ini mendapat apresiasi dari masyara­kat. Se­bab, banyak yang be­ker­ja tidak standar.

Kerja biasa-biasa sekarang ini dianggap luar biasa karena orang lain bekerjanya sudah tidak biasa.


Apa Anda sudah siap dipi­nang?

Tentunya saya sendiri tahu diri. Sebenarnya kapasitas saya itu belum memungkinkan untuk ber­pikir ke arah sana. Tetapi tentu sa­ja saya syukuri bahwa masih banyak kalangan mencari orang baik.

Jika nanti pilihannya kepada saya, tentu ini perlu dipikir ulang, ditinjau kembali.


Kenapa begitu, bukankah Anda sudah dinilai layak?

Jujur saja, saya sendiri tidak me­rasa memenuhi syarat menjadi ca­pres atau cawapres. Banyak orang yang menganggap saya luar biasa. Padahal, saya sendiri merasa biasa-biasa saja.

    

Apa tanggapan Anda terha­dap sosok Abrurizal Bakrie, Me­­gawati Soekarnoputri, dan Pra­­bowo Subianto yang dise­but-se­but bakal menjadi capres 2014?

Siapapun kalau mempunyai mi­nat dan potensi boleh me­nam­­pil­kan diri untuk capres atau ca­wapres. Karena kita men­diri­kan negara Indonesia mer­deka ini kan agar setiap orang dapat meng­­­gunakan hak politik untuk men­jadi pemimpin dan me­la­kukan apapun sesuai hak asa­sinya.

Maka muncullah Pak Ical, Pak Prabowo, Ibu Megawati, dan lain­­nya. Menurut saya berilah peluang secara konstitusional kepada siapapun. Itu sebagai hak konstitusional. Tidak boleh dicela dan tidak boleh dihalangi.


Apa Anda siap menjadi pen­damping Aburizal Bakrie?

Saya tidak bisa menjawab itu sekarang. Saya sebagai hakim kon­s­titusi sudah bertekad tidak akan berbicara posisi politik saya sebelum bulan Mei 2013 saat sa­ya tidak aktif sebagai hakim.

   

Memangnya 2013 Anda tidak mencalonkan lagi sebagai hakim?

Saya sudah memutuskan untuk berhenti sebagai hakim konstitusi pada tahun 2013. Saya tidak mau menggunakan peluang untuk memperpanjang lagi meskipun masih terbuka menurut Undang-Undang.

   

Artinya 2013, Anda menen­tukan sikap?

  Ya. Saat itulah saya akan me­nentukan jawaban saya apakah saya akan kesana. Apakah saya juga akan menerima tawaran si A, si B, atau si C.

Karena yang me­nawarkan saya itu banyak. Atau saya akan men­dukung yang lain. Pokoknya hak politik akan saya pergunakan nanti.

   

Apakah sudah ada pende­katan dari salah satu parpol?

Yang muncul di koran-koran itu hampir semuanya sudah berte­mu, he-he-he. Bukan hanya satu partai. Banyak yang sudah berte­mu dengan saya meski tidak secara official.

   

Maksudnya?

Maksud saya, DPP belum seca­ra resmi mengirim surat kepada saya. Tetapi tokoh-tokoh pada level terasnya sudah berbicara dengan saya, dan saya tidak bisa menyebutkannya.

   

Apa jawaban Anda kepada mereka?

Jawaban saya sama seperti yang saya berikan kepada Anda. Yakni tetap menunggu 2013.

   

Anda tidak takut kehilangan momentum?

Ya, nggak apa-apa. Sebab, sa­ya memang tidak mencari mo­men­tum. Kalau 2013 ada mo­men­tum, saya jawab. Kalau ti­dak ada mo­mentum, ya tidak apa-apa juga. Saya ini hakim yang harus tahu etika.

Tunggu 2013 saja. Saya akan menjawab untuk menentukan sikap politik karena itu saatnya bisa menjadi capres, cawapres atau bisa mendukung calon yang sudah ada.

Tetapi sekarang ini langkah-langkah politik yang konkrit tidak boleh saya lakukan, dan tidak akan saya lakukan. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya