Berita

Fahmi Idris

Wawancara

WAWANCARA

Fahmi Idris: Pendamping Ical Diobral Strategi Kurang Pas...

MINGGU, 10 JUNI 2012 | 09:20 WIB

RMOL. Kader Partai Golkar diminta tidak cuap-cuap soal pendamping Aburizal Bakrie menjadi calon wakil presiden dalam Pilpres 2014.

“Saya rasa jangan diobral soal calon wakil presiden (cawapres) dari Partai Golkar di media massa atau dibicarakan secara luas ke publik. Kecuali jika su­dah ada ke­pastian, baru boleh dikemukakan secara luas,” kata anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, Fahmi Idris, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, Ketua De­wan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menilai sosok Jenderal TNI Pramono Edhie Wi­bowo yang kini menjabat sebagai KSAD pantas mendampingi Ical di Pilpres 2014.

Akbar Menilai, cawapres pen­damping Ical idealnya Jenderal TNI bintang empat. “Saya pikir Pramono Edhie sangat cocok untuk menjadi cawapres,” kata Akbar.

Fahmi Idris selanjutnya me­nga­takan, sebelum ditentukan secara resmi, sebaiknya jangan dibicarakan di luar Partai Golkar. “Kalau dalam masa pencarian, sampaikanlah secara tertutup di internal partai,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Kenapa tidak perlu disam­pai­kan ke publik?

Ada yang pantas disampaikan. Ada pula yang kurang pantas di­sampaikan. Jika Pak Akbar me­nyampaikan ke publik bahwa pendamping Pak Ical adalah perwira bintang empat, saya rasa kurang pantas untuk dikemuka­kan. Ini strategi kurang pas.

    

Salahnya di mana?

Nanti akan bisa tersinggung orang-orang yang berbintang tiga. Nanti mereka bisa menilai lain terhadap Partai Golkar. Bisa juga yang bintang tiga merasa nggak dianggap.


Anda menyalahkan Akbar Tandjung?

Bukan soal salah atau menya­lahkan. Kalau dari pihak internal sebaiknya dilakukan melalui forum-forum atau jalur yang ada. Jangan setiap saat dibuka di muka umum. Bagi internal Golkar, itu tertutup.


Bagaimana jika ada wacana dari pihak luar Partai Golkar?

Kalau dari luar Partai Golkar, boleh-boleh saja sesuai selera mereka. Untuk orang luar Golkar yang membicarakan cawapres Golkar, nggak masalah. Justru bisa menjadi masukan.

   

Anda sebagai anggota De­wan Penasihat Golkar, apa su­dah memberi masukan ke Ical?

Pastinya kami memberikan ma­sukan. Tapi tidak diketahui pihak luar. Tapi penentuan ca­wapres dari Partai Golkar ini se­suai dengan proses dan prosedur yang ada. Mendapatkan cawapres itu tidak sederhana. Sama halnya menetapkan capres.

Penetapan cawapres itu se­be­narnya unik. Saya sudah menga­lami langsung dua kali mencari cawapres untuk Partai Golkar. Pertama, saat Pak Wiranto men­jadi capres 2004, dan Pak Jusuf Kalla  capres 2009.

   

Kapan penentuan cawapres dari Partai Golkar?

Untuk penentuan cawapres itu masih membutuhkan waktu lama. Bisa tahun depan. Bisa juga tahun 2014.

   

Anda sudah mengantongi be­berapa nama cawapres untuk mendampingi Ical?

Ya dong. Di Indonesia ini kan banyak tokoh yang bagus-bagus. Saya sarankan jika ada usulan nama untuk cawapres, sebaiknya langsung saja ketemu sama Pak Ical sebagai Ketum Golkar.

Kalau tidak bisa, ya kirim surat saja atau rapatkan saja dengan dewan penasihat. Jangan ngo­mong di luar setiap hari. Kalau Ical sudah pasti capres dari Golkar.

   

Bukankah masih ada pro dan kontra soal pencapresan Ical?

Saya ini sudah dua kali ber­pengalaman mengenai hal ini. Yakni saat Pak Wiranto dan Pak Jusuf Kalla menjadi capres. Saat itu, pro dan kontra juga banyak. Itu sudah biasa.

Saya pikir, setiap partai saat mencalonkan itu tidak dengan suara bulat. Pencapresan Pak SBY pun tidak bulat karena ma­sih ada yang tidak setuju. Yang saya tahu, setiap capres atau ca­wapres selalu tidak bulat.

   

Apakah benar Rapimnassus mengukuhkan Ical sebagai ca­pres 2014?

Apapun istilahnya, forum itu untuk menetapkan Ical sebagai capres dari Partai Golkar. Mau namanya pengukuhan atau yang lainnya, hasilnya Pak Ical sebagai capres untuk Pilpres 2014. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya