Berita

surono/ist

Mbah Rono Menjelaskan Karakter Tanah Hambalang

RABU, 30 MEI 2012 | 21:02 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Venue bulutangkis di Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Jawa Barat, amblas pada 14-15 Desember 2011 lalu.

Nah, Kepala Badan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, punya catatan penting mengenai pergerakan di Desa Hambalang yang sedang dipergunjingkan banyak orang itu.

Menurut Mbah Rono, pada Februari 2002 ia pernah memimpin tim khusus untuk memeriksa kondisi tanah Hambalang menyusul longsor yang merusakkan 79 rumah ketika itu.

Dari kejadian tersebut diketahui bahwa gerakan tanah yang terjadi berjenis rayapan. Tanah bergerak lambat, disusul oleh retakan dan amblesan, mencakup areal sekitar 3.5 hektar dan panjang retakan bervariasi antara 75 hingga 150 meter, lebar retakan 5 hingga 10 cm. Adapun amblesan atau penurunan tanah 0,5 hingga 3 meter. Gerakan tanah tejadi pada kelerengan relatif landai 15 -25 derajat.

Desa Hambalang merupakan perbukitan dengan ketinggian sekitar 630 m dpl, berada pada lereng barat Gunung Hambalang dengan kemiringan lereng 15 hingga 25 derajat. Batuan dasar Desa Hambalang disusun oleh batu lempung formasi Jatiluhur, berwarna abu-abu sampai hitam, bersifat mudah hancur dan mengembang, ekspansif jika terkena air, kedap air, dan tersingkap di kaki lereng bagian bawah.

Lempung ini jika kena air akan mengembang, bila kena panas akan pecah, karena kedap air. Maka di daerah tersebut sulit diperoleh air tanah.

Pada tahun 2002, tata lahan Desa Hambalang berupa kebun campuran, sebagian kecil persawahan yang berada pada kaki lereng bagian atas dan bagian bawah.

Karena merupakan zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi, makan daerah tersebut sering tejadi gerakan tanah. Sementara gerakan tanah lama dapat aktif kembali jika terjadi hujan lebat yang berlangsung lama dan atau terjadi gangguan pada lereng.

Tanah dan batuan permukaan ataupembentuk lereng berupa breksi tufa yang telah setengah hingga melapuk tinggi, bersifat lolos air, berada di atas batuan lempung yang kedap air. Namun lempung ini jika terkena air, akan mengembang dan berpotensi menjadi bidang gelincir yang sangat ideal untuk terjadi gerakan tanah.

Pada Februari 2002, terjadi hujan lebat. Lahan persawahan yang memerlukan air, sekaligus membasahi batuan dasar lempung, sehingga mengembang.

Gerakan tanah di Februari 2002 dipicu hujan lebat. Tanah permukaan yang berupa breksi tufa yang bersifat lolos air, berada di atas batuan lempung yg mudah mengembang bila kena air.

Air permukaan masuk melalui lapisan tanah penutup menjenuhkan lempung. Kemudian lempung tersebut mengembang menjadi licin. Dimana lapisan di atasnya mudah bergerak dengan bidang gelincir permukaan batu lempung.

Karena kecepatan gerakan tanah tidak homogen dan isotropis, maka terjadi retakan. Dan karena lapisan lempung yang tidak rata, maka terjadi amblesan. Bangunan yang didirikan di atasnya yang besifat kaku, lantai keramik dan tembok akan retak akibat gerakan tanah tersebut.

Dengan kejadian tersebut, Mbah Rono merekomendasikan agar penduduk mengosongkan bangunan pemukiman yang telah rusak berat, karena berbahaya bagi penghuninya. Lalu merelokasi penduduk ke daerah yang aman terhadap ancaman bahaya gerakan tanah. Selain itu mengatur saluran air agar tidak meresap ke dalam tanah membasahi batuan lempung.

Mbah Rono menyimpulkan bahwa Desa Hambalang masih masuk zona kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi. Dengan karakter tanah seperti ini, menurutnya, rumah panggung yang pernah diciptakan masyarakat Sunda adalah bentuk bangunan tempat tinggal yang ideal.

Apakah daerah tersebut masih boleh dibangun untuk pemukiman atau bangunan lainnya?

"Boleh, asalkan mempertimbangkan daya dukung tanah, menghormati sifat lempung yang ekspansif, sehingga konstruksinya harus menyesuaikan kondisi tersebut," jawab Mbah Rono.

"Daerah tersebut boleh dibangun asal harus jujur dan berani menyesuikan kondisi alam yang unik," sambung Mbah Rono menutup penjelasannya. [guh]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya