ilustrasi, hybrid
ilustrasi, hybrid
RMOL.Harga mobil hybrid di Indonesia masih terbilang sangat mahal. Bahkan, bahan bakarnya berstandar Euro 4 belum tersedia di pasaran. Mobil mewah Audi, misalnya, hingga saat ini belum pakai mesin hydrid.
PT Garuda Mataram Motor (GMM) selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) Audi di Indonesia masih ogah menggunakan mesin hybrid. Pasalnya, pemerintah yang mulai mencanangkan mobil raÂmah lingkungan ini nggak bisa menyakinkan ATPM atau proÂdusen mobil.
“Kalau bicara hybrid, intinya kan kita juga berbicara soal green car. Yang harus dipikirkan bukan lagi tipe mesin hybridnya seperti diesel maupun elpiji, tapi lebih memikirkan dampak emisinya,†terang Chief Executive Officer (CEO) GMM Andrew Nasuri keÂpada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Rabu (16/5).
Menurut dia, tenaga mesin Audi justru sudah melebihi sisÂtem hybrid. Bahkan, efisiensi teknologi Audi lebih unggul dibandingkan hybrid. “SekaÂrang, kami tinggal tunggu aja ada tidaknya Euro 4. Tapi, bukan berÂarti kami tidak ingin, kalau meÂmang ada peminatnya kenapa tidak?†ujar Andrew.
Dikatakan juga, peÂmerintah sudah menjamin di tahun 2015, bahan bakar Euro 4 sudah ada di Indonesia. SekaÂlipun begitu, pihaknya tetap berÂharap ada komitmen serius dari pemerintah.
“Tak hanya kami, merek-meÂrek lain, seperti BMW maupun Mercedes Benz berharap seceÂpatÂnya bisa menggunakan bahan bakar Euro 4, sehingga juga bisa segera memasukkan mesin berÂtekÂnologi canggih, low emisi ke Indonesia,†harapnya.
Hal pesimistis juga dikemuÂkakan Presiden Komisaris PT Indomobil Sukses Internasional Tbk, Soebronto Laras. Ia mengaÂtakan, strategi kebijakan peruÂsaÂhaan dan investasi yang sudah terlanjur dibuat dan didesain oleh para produsen kendaraan berÂmotor di tanah air tidak mungkin diubah dalam sekejap mata.
“Pemerintah belum memÂbuat gebrakan dalam berbagai kebiÂjakan terkait industri otoÂmotif terÂmasuk standarisasi sisÂtem alat transÂportasi jangka panjang. TerÂutama aplikasi tekÂnologi tinggi berbasis listrik, hybrid ataupun biodiesel,†ucap Soebronto.
Hal tersebut justru berbanding terbalik dibanding ATPM lainÂnya, seperti PT Toyota Astra MoÂtor (TAM) yang merasa lebih siap memproduksi mobil hybrid. Apalagi, mesin hybrid mampu menghemat bahan bakar 30 kiloÂmter (Km) per liter.
“Kami hanya memperjelas keinginan pemerintah yang muÂlai mencanangkan pemakaian mesin hybrid kepada prinsipal Jepang (Toyota Motor CorÂporation),†ucap Presiden DiÂrektur PT ToÂyota Astra Motor Johnny DarÂmawan di Jakarta, akhir pekan lalu.
Seperti diketahui, teknologi hemat bahan bakar dan ramah lingkungan berÂbanÂding lurus antara biaya produksi dan inÂvestasi. Alhasil, harga mobil hybrid lebih mahal. Untuk itu pemeÂrintah seharusnya memberi insenÂtif, berupa pengurangan pajak guna mendorong konsuÂmen agar mau membeli mobil irit bahan bakar dan ramah lingkungan.
Saat ini, Toyota sendiri juga telah mempunyai mobil hibrid yang dipasarkan di Indonesia, yakni Prius dan Camry. Kedua mobil ini dibandrol sebesar 30-40 persen lebih mahal ketimbang mobil konvensional.
“Jadi, rencananya, Toyota akan membuat mobil hibrida sejenis multipurpose vehicle (MPV) dan harganya bisa dijangkau maÂsyaÂrakat. Bukan Prius, tapi harÂganya nanti sekitar Rp 250 juÂtaan,†ungkap Menteri PerinÂdusÂtrian MS Hidayat seusai berÂjumÂpa deÂngan Johnny Darmawan di KanÂtor Kemenperin, Selasa (15/5/).
Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (KeÂmenÂpeÂrin) Budi Darmadi mengaÂtakan, nantinya tidak haÂnya ToÂyota yang akan meÂmaÂparkan produksi mobil hybrid untuk pasar IndoÂnesia, melainkan prinÂcipal lain seperti Honda, BMW, Audi, Mercedes-Benz dan lainnya juga bisa memÂproduksi mobil hibrid.
“Diharapkan, beberapa prinÂsipal lainnya bisa membuat mobil hybrid. Namun, produk mobil hybrid memang harganya lebih mahal 50 persen dibandingkan mobil konvensional,†kata Budi.
Dalam kesempatan itu pula, pihaknya juga memastikan untuk tetap komitmen meneÂruskan program Low Cost Green Car (LCGC) yang direncanakan berÂgulir tahun ini. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03
Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27
Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23