Berita

gunung padang/ist

Ali Akbar: Ada Perbedaan Metode dalam Mengukur Usia Piramida Gunung Padang

MINGGU, 20 MEI 2012 | 13:27 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Uji karbon yang dilakukan Tim Bencana Katastropik Purba beberapa waktu lalu mengatakan bahwa bangunan berbentuk piramida atau punden berundak yang diperkirakan tertimbun di bawah Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, berasal dari masa 10 ribu tahun sebelum Masehi.

Menurut Dr. Budiarto Ontowirjo, salah seorang peneliti TBKP, uji karbon terhadap sample yang diperoleh dari pengeboran di bulan Februari 2012 pada teras 5 titik bor 2 dengan kedalaman 8,1 meter sampai dengan 10,1 meter memperlihatkan hasil 11.060 tahun, dan plus-minus 140 tahun before present.

"Kalau dikonversikan ke umur kalender setara dengan 10 ribu tahun sebelum Masehi," ujar Dr. Ontowirjo ketika itu. Dia juga mengatakan bahwa pengujian umur sisa arang tumbuhan organik paleosoil di Gunung Padang dilakukan dengan metoda Carbon Dating C14 menggunakan peralatan Liquid Scintillation Counting (LSC).

Sementara itu, tim arkeologi yang dipimpin Dr. Ali Akbar yang saat ini sedang melakukan eskavasi di Gunung Padang mengatakan bahwa mereka menggunakan metode penghitungan usia yang berbeda. Tidak seperti yang dilakukan TBKP, tim yang dipimpin arkeolog dari Universitas Indonesia ini berusaha menemukan bangunan atau benda-benda yang memperlihatkan aktivitas manusia di masa lalu. Setelah ditemukan, barulah karbon di sekitar benda-benda itu akan diuji umurnya.

"Kami sudah mengambil contoh karbon," ujar Dr. Ali Akbar kepada Rakyat Merdeka Online, Minggu siang (20/5).

"Ada perbedaan prinsip dalam pengambilan sample. Tim Katastropik mengambil sample tanah dengan teknik pengeboran. Lalu diuji. Menurut teori, semakin dalam lapisan tanah, semakin tua usianya," katanya lagi.

Menurut Dr. Ali Akbar, untuk menguji benda-benda yang ditemukan mereka menggunakan dua laboratorium, milik UI dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Selain tim arkeologi yang dipimpin Dr. Ali Akbar, tim lain yang meneliti Gunung Padang dipimpin ahli gempa dan geolog Dr. Danny Hilman. Tim Danny Hilman ini mencoba menemukan keterkaitan antara bangunan yang tertimbun itu dengan aktivitas geologi di patahan Simandiri yang kerap menimbulkan gempa. Penelitian dilakukan kedua tim sebagai kelanjutan dari penelitian terdahulu. [guh]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya