Berita

ilustrasi, lokasi kejadian Sukhoi Superjet 100 jatuh

Wawancara

WAWANCARA

Kompol Suprastiono: Korban Sukhoi Terpotong-potong Perlu Dilakukan Tes DNA...

JUMAT, 11 MEI 2012 | 09:17 WIB

RMOL. Kepolisian mendirikan Posko Diseaster Victim Investigation (DVI) di Terminal Kedatangan Bandara Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Tim ini mengumpulkan data Antemortem yang terdiri dari DNA keluarga korban Sukhoi Superjet 100.

“Ini perlu dilakukan kepada keluarga korban agar mengetahui bagian tubuh keluarganya yang menjadi korban pesawat Sukhoi. Sebab, korbannya terpotong-po­tong,’’ ujar

Penanggung Jawab DVI Ke­luarga Korban Sukhoi, Kompol Suprastiono, kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui pesawat Su­khoi menabrak tebing Gunung Sa­lak, Bogor, Rabu (9/5). Pesa­wat itu take off sekitar pukul 14.00 WIB dari Bandar Udara Halim Per­danakusuma dan hi­lang kontak sejak pukul 14.30 WIB.

Pesawat itu dilaporkan lost contact dan hilang dari pantau radar setelah meminta izin turun dari ketinggian 10 ribu kaki ke 6.000 kaki.  

Pesawat Rusia itu datang ke Jakarta untuk road show kepada maskapai penerbangan di Indo­nesia.  

Suprastiono selanjutnya me­ngatakan, para keluarga korban Sukhoi Superjet 100 dimintakan contoh DNA, sidik jari, rekam medik dokter gigi, rekam medik apabila yang bersangkutan per­nah dioperasi, dan foto rontgen.

“Keluarga korban juga mengisi biodata dan menuliskan data fisik kerabat mereka yang ikut dalam penerbangan maut itu. Ini demi keperluan identifikasi korban,’’ katanya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Apa yang dilakukan tim pe­nanggung jawab DVI dalam ka­sus kecelakaan sukhoi ini?

Petugas mengumpulkan infor­masi tentang ciri-ciri fisik anggota keluarga yang ikut dalam penerbangan maut tersebut.


Apa saja yang ditanya?

Keluarganya itu  mengenakan pakaian apa secara detail. Misal­nya, asesoris yang dikenakan apa saja. Tinggi badan berapa. Warna kulit dan sebagainya.

Selain itu DVI juga mengambil contoh DNA dari keluarga kor­ban, serta sidik jari, rekam medik dokter gigi, rekam medik korban apa­bila yang bersangkutan per­nah dioperasi, dan foto rontgen.


Contoh DNA yang diambil apa saja?

Kami mengambil sel-sel epitel atau jaringan-jaringan lunak yang ada di dalam mulut yang diambil melalui rongga mulut.


Berapa orang keluarga kor­ban yang sudah memberikan con­toh DNA?

Saya lupa. Yang pasti lebih dari 30 orang.


Dari data DNA tersebut apa­kah sudah ada data DNA dari war­ga asing yang ikut terbang de­ngan pasawat Sukhoi ter­se­but?

Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya berasal dari data milik warga negara Rusia.


Dari data DNA tersebut apa­kah sudah ada data DNA dari war­ga asing yang ikut terbang de­ngan pasawat Sukhoi ter­se­but?

Dari jumlah tersebut, tiga di antaranya berasal dari data milik warga negara Rusia.


Berapa jumlah korban yang meninggal?

Wah, saya nggak tahu. Sebab, dari data saja belum diketahui kor­ban. Basarnas lebih tahu me­ngenai hal itu.


Selain mengidentifikasi DNA, apa lagi yang dilakukan?

Saya dari tim pencari data hanya pembanding. Pembanding­nya itu kan banyak. Misalnya gigi, sidik jari, atau data diri. Nanti kita bandingkan dengan data-data yang kita temukan di lapangan


Siapa saja keluarga yang ber­hak memberikan DNA?

Dari ibunya atau bapaknya atau anaknya dari korban itu, se­dang­kan yang boleh mem­beri­kan ke­terangan harus yang benar-benar tahu atau bertemu terakhir de­ngan korban sebelum berangkat.


Berapa lama proses identifi­kasi pencocokan DNA korban di­lakukan hingga dapat teriden­tifikasi dengan jelas?

Kalau melalui DNA kan me­ma­kan waktu 14 hari. Tapi kan ada cara lain selain melalui DNA, yaitu melalui proses identifikasi langsung melalui keterangan ciri-ciri yang diberikan.

Pengambilan DNA ini kan untuk antisipasi kalau-kalau ada korban yang ditemukan dalam keadaan tubuhnya tidak utuh. Mi­salnya kakinya saja atau bagian tubuh lainnya. Kita kan belum tahu apakah keadaan korban da­lam keadaan utuh atau tidak.


O ya, siapa saja yang berga­bung dalam tim DVI?

Ini merupakan gabungan Pus­dokkes Mabes Polri dan Disdok­kes Polda Metro Jaya.


Bagaimana mengenai jumlah korban?

Untuk kejelasannya besok (hari ini) atau tunggu nanti hingga pemberitahuan final dari Basar­nas. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

IHSG Merah, Rupiah Tembus Rp17.130 Usai Negosiasi AS-Iran Gagal

Senin, 13 April 2026 | 10:15

Kebangkitan Saham AI Asia: Investor Global Mulai Agresif Pasca-Redanya Tensi Geopolitik

Senin, 13 April 2026 | 10:02

Kasus Tas Branded Dicuri, EcoRing Diminta Tak Lepas Tangan

Senin, 13 April 2026 | 10:02

AS Blokade Kapal yang Keluar Masuk Pelabuhan Iran Mulai Hari Ini

Senin, 13 April 2026 | 09:52

Pembangunan Kawasan Legislatif dan Yudikatif IKN Terus Dikebut

Senin, 13 April 2026 | 09:43

Feel Good Network Bidik Pasar Ekonomi Digital Asia Tenggara

Senin, 13 April 2026 | 09:24

Australia Tolak Gabung Blokade AS di Selat Hormuz

Senin, 13 April 2026 | 09:21

PM Viktor Orban Tumbang setelah 16 Tahun Berkuasa

Senin, 13 April 2026 | 09:18

Tidak Ada Ajaran Kristen Benarkan Membunuh Sebagai Jalan Spiritual

Senin, 13 April 2026 | 09:16

Ubah Krisis Jadi Peluang: Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Ekonomi

Senin, 13 April 2026 | 09:09

Selengkapnya