Berita

ilsutrasi/ist

Bisnis

Inilah Sebab Mengapa Nokia Akhirnya Tersungkur

MINGGU, 29 APRIL 2012 | 21:58 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Setelah menguasai pasar telepon selular selama 14 tahun, Nokia akhirnya tersungkur oleh sodokan Samsung. Menurut data yang dipublikasikan dua lembaga pemeringkat IT, IHS iSuppli dan Strategy Analytics, yang diluncurkan hari Kamis lalu (26/4), kini Samsung memproduksi lebih banyak telepon genggam dibandingkan Nokia.

Menurut IHS iSuppli Nokia mengapalkan 83 juta handsets dalam kuartal pertama 2012, sementara Samsung mengapalkan 92 juta handsets. Adapun Strategy Analytics menyebutkan jumlah telepon genggam yang diproduksi Nokia sebesar 82,7 juta, lebih sedikit dari Samsung yakni 93,5 juta.

Sementara lembaga pemeringkat Standard & Poor menurunkan nilai surat utang Nokia menjadi BB+/B.

Dalam beberapa tahun terakhir, pamor Nokia memang terus menurun. Setidaknya, menurut Wired.Com ada beberapa hal penting yang membuat Nokia akhirnya tersungkur.

Pertama Nokia bergerak terlalu lambat. Sebelumnya Nokia dikenal sebagai pelopor di pasar telepon genggam pintar. Adalah Symbian Series 60 buatan Nokia di tahun 2002 yang pertama kali memperkenalkan konsep telepon genggam pintar itu. Tetapi dalam lima tahun setelah diproduksi, Symbian tak mampu mempertahankan kedudukan.

Di tahun 2007 giliran Apple memproduksi iPhone dengan layar sentuh yang ajaib dan sistem operasi berbagai aplikasi yang tak kalah ajaib. Tak pelak lagi, iPhone mengubah definisi telepon genggam pintar yang telah diperkenalkan Symbian Series 60 dari Nokia.

Kehadiran iPhone tak segera diantisipasi Nokia. Begitu juga ketika Android muncul, Nokia lagi-lagi tak mengantisipasi.

"Kalau Anda lihat Samsung beberapa tahun yang lalu, mereka sama sekali tidak ada di pasar telepon pintar, di saat Nokia dan RIM (Blackberry) merajai," ujar Wayne Lam, analis senior di IHS kepada Wired.

Nokia juga tak melakukan perkembangan teknologi seperti yang dilakukan Samsung.

Selain cepat Samsung juga mengembangkan berbagai bentuk platform secara mandiri. Android yang kini dikenal luas bukan satu-satunya platform yang dikembangkan Samsung. Samsung juga sempat mengembangkan Windows Phone dan sistem operasi Bada. Tetapi akhirnya, Android menjadi OS unggulan Samsung.

Di saat yang sama Nokia menghabisan waktu untuk fokus pada Symbian sampai kerjasama Nokia baru-baru ini dengan Microsoft ditandatangani. Kerjasama itu menurut Lam hanya bagus di atas kertas, dan jelas terlambat karena iPhone dan Android sudah mengambil alih pimpinan pasar.

Bukan hanya lelet di pasar telepon pintar, Nokia juga tidak mengantisipasi persaingan di kelas bawah. Akhirnya, perusahaan lain seperti HTC, Huawei dan ZTE berhasil menaklukkan Nokia untuk pasar telepon genggam di kelasnya.

Nokia juga dianggap tidak memiliki kemampuan membangun pesona. Ia terjebak pada masa lalu yang indah, sementara para pesaing sudah berlari sedemikian kencang.

Model telepon kotak klasik yang diproduksi Nokia, bersama permainan ular yang khas, menjadi masalah dan membuat Nokia diidentikkan dengan teknologi di masa lalu. Adapun kini konsumen lebih peduli pada telepon genggam bergaya baru dan benar-benar pintar.

"Nokia merupakan merek kuno. Tidak ada pesona. Sementar Samsung dikenal sebagai inovator," kata Lam lagi.

Samsung dan Apple dipuji karena perkembangan teknologinya yang terjadi terus menerus. Konsumen kini menyadari bahwa baik Samsung dan Apple menawarkan teknologi baru setiap tahun. Strategi ini dinilai jitu karena bisa mengarahkan dan menciptakan ketergantungan konsumen pada produk.

Sementara Nokia, seperti telah disebutkan berkali-kali selalu terlambat, atau bahkan tidak bereaksi apapun melihat perkembangan yang terjadi di pasar telepon genggam. Jadi tak usah heran, bila mungkin saja Nokia akan menjadi bagian dari catatan sejarah. [guh]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Istana Minta Kritik terhadap BI Dijadikan Evaluasi Penguatan Komunikasi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:23

Kursi Dua Wamen Kosong, Pemerintah Belum Siapkan Pengganti

Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:10

Mensesneg soal Kabar Said Iqbal Masuk Kabinet: Masih Didiskusikan

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:59

Mubes V Kosgoro 1957 Digoyang Penolakan Daerah

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:52

AS Hantam Iran dengan Sanksi Baru, Jaringan Penyelundupan LPG Jadi Target

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:37

Istana Bantah Isu Menkeu dan Gubernur BI Bakal Dicopot

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:31

Prasetyo Hadi: Sinergi Pemerintah, DPR, dan BI Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:20

Bank Indonesia Sudah Intervensi, Mengapa Rupiah Tetap Melemah?

Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:08

Menkeu Purbaya Bantah Omzet Warteg Turun Jadi Bukti Daya Beli Lesu

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:47

Daftar Komoditas Dirilis, Danantara SDI Siap Kendalikan Rezim Baru Ekspor RI

Sabtu, 06 Juni 2026 | 12:21

Selengkapnya