Berita

ilustrasi

Staf Khusus Presiden: Penambangan Tembaga di Sumbawa Sebelum 1815

KAMIS, 19 APRIL 2012 | 13:27 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Tim Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden bidang Bencana dan Bantuan Sosial mendapatkan kabar bahwa pihak Newmont masih menyimpan laporan tertulis mengenai penelitian para arkeologi yang meneliti pertama kali potensi alam di beberapa titik di Sumbawa, Nusa Tenggara BArat (NTB).

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa benda-benda yang mereka temukan di puncak bukit Batuhijau sama sekali tidak memiliki nilai, termasuk nilai sejarah. Selanjutnya Newmont melanjutkan eksplorasi hingga Bukithijau kini menjadi seperti kaldera yang begitu dalam.

Dalam penelitian yang dilakukan Tim Katastropik Purba di Sumbawa beberapa hari lalu tentu saja tidak ditemukan benda-benda lain yang kemungkinan besar adalah hasil peradaban di masa lalu atau man made karena sudah habis tertambang.

"Sebagian dari artefak-artefak itu dijadikan souvenir oleh tim eksplorasi Newmont dan sebagian lagi dibawa ke kantor pusat Newmont di Denver," ujar Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief dalam pembicaraan dengan Rakyat Merdeka Online Kamis siang (19/4).

"Tim Katastropik Purba berharap  geologis Indonesia yang sudah keluar dari Newmont masih menyimpannya. Ini penting karena menurut analisis Tim Katastropik Purba adalah sangat aneh kalau ada lapisan arang dengan banyak artefak yang ditutupi endapan gunung api lalu  dianggap tidak punya nilai sejarah. Kalau benar lapisan penguburnya adalah endapan tuffa gunung api, kemungkinan itu adalah endapan piroklastik letusan Tambora tahun 1815," ujar Andi Arief.

"Berarti kegiatan penambangan tembaga di daerah situ sudah terjadi sebelum 1815. Apakah  Tentara Jenghis Khan yang melakukannya, apakah peradaban lain? Sangat disayangkan sampai ada kesimpulan bahwa  lapisan tersebut tidak punya nilai sejarah," sambungnya.

Dia juga mengatakan, dengan dasar itu sah-sah saja bila lapisan-lapisan tersebut dibongkar dalam rangka mengakses cadangan raksasa tembaga, emas, dan perak di bawahnya. [guh]


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Peristiwa Anak Bunuh Diri di NTT Coreng Citra Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:38

SPPG Purwosari Bantah Kematian Siswi SMAN 2 Kudus Akibat MBG

Selasa, 03 Februari 2026 | 05:20

Perdagangan Lesu, IPC TPK Palembang Tetap Tunjukkan Kinerja Positif

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:59

Masalah Haji yang Tak Kunjung Usai

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:42

Kilang Balongan Perkuat Keandalan dan Layanan Energi di Jawa Barat

Selasa, 03 Februari 2026 | 04:21

Kemenhub: KPLP Garda Terdepan Ketertiban Perairan Indonesia

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:59

BMM dan Masjid Istiqlal Luncurkan Program Wakaf Al-Qur’an Isyarat

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:40

Siswa SD Bunuh Diri Akibat Pemerintah Gagal Jamin Keadilan Sosial

Selasa, 03 Februari 2026 | 03:13

Menguak Selisih Kerugian Negara di Kasus Tata Kelola BBM

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:59

Rencana Latihan AL Iran, China dan Rusia Banjir Dukungan Warganet RI

Selasa, 03 Februari 2026 | 02:40

Selengkapnya