Berita

tentara korut berbaris/ist

LAPORAN DARI PYONGYANG

Bukan Korea Utara Tapi Amerika yang Mengancam Dunia

KAMIS, 12 APRIL 2012 | 11:05 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

RMOL. Stabilitas di Semenanjung Korea hanya bisa tercapai bila negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, menarik pasukan Amerika Serikat yang sudah lebih dari 40 tahun ditempatkan di kawasan itu. Hanya dengan stabilitas di Semenanjung Korea, pembicaraan mengenai perdamaian dan penyatuan Korea mungkin untuk dilakukan.
 
Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Pelopor, Ristiyanto, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 12/4).
 
Ristiyanto yang juga Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea sedang berada di Pyongyang, Korea Utara, untuk menghadiri Festival Internasional Seabad Kim Il-sung. Salah satu kegiatan yang diikutinya adalah Kongres Internasional untuk Mendukung Reunifikasi Korea yang dilakukan di Ball Room Hotel Hanggakdo Internasional di Pyongyang, Rabu petang waktu setempat (11/4).
 

 
"Rencana Korea Utara meluncurkan satelit komunikasi ke ruang angkasa diplintir Amerika dan negara-negara Barat lain sebagai ancaman terhadap dunia. Padahal di saat bersamaan, Amerika Serikat tengah mengadakan apa yang mereka sebut sebagai latihan militer besar-besaran di Semenanjung Korea. Justru Amerika yang sedang mengancam dunia dan memprovokasi Korea Utara," ujar Ristiyanto.
 
Menurut Ristiyanto, semua  peserta kongres sepakat bahwa persoalan di Semenanjung Korea saat ini adalah buah karya kolonialisme dan pertarungan kekuatan negara-negara super power yang berlangsung sejak awal abad ke-20 yang lalu. Kini Amerika Serikat berada di atas angin dan dengan demikian merasa memiliki hak untuk menempatkan pasukan sebanyak mungkin di banyak kawasan lain termasuk di Semenanjung Korea dan Asia Timur.
 
"Penempatan pasukan Amerika ini ada hubungannya dengan keinginan mereka mempertahankan status sebagai polisi dunia. Padahal jaman sudah berubah," ujarnya lagi.
 
Dalam kongres itu, salah seorang pembicara dari Jepang mengakui bahwa penjajahan yang dilakukan Jepang di Korea di awal abad ke-20 ikut berperan dalam konflik di Semenanjung Korea saat ini.
 
"Bila Jepang tidak pernah menjajah Korea, maka Korea tidak akan terpisah," ujarnya lagi.
 
Pada tahun 1905 Jepang berhasil mengalahkan Rusia dalam peperangan yang merebak di sekitar perbatasan kedua negara termasuk di wilayah kekaisaran Korea saat itu. Pada perjalanannya, Rusia dan Jepang membagi dua Semenanjung Korea. Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, wilayah Korea yang dikuasai Jepang "diambil alih" Amerika Serikat. Sementara wilayah utara kembali dikuasai Rusia.
 
Eric Sirotkin, seorang pengacara dan mediator dari Amerika Serikat yang juga berbicara dalam kongres, mengakui bahwa stabilitas di Semenanjung Korea adalah prasyarat untuk memulai kembali pembicaraan penyatuan Korea. Seperti Ristiyanto, dia juga mengatakan bahwa hal itu hanya dapat terjadi bila pasukan Amerika Serikat ditarik dari Semenanjung Korea.
 
Dalam perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani dengan Korea Utara di penghujung Perang Korea di tahun 1953 lalu, katanya, pemerintah Amerika Serikat berjanji akan meninggalkan Semenanjung Korea. China meninggalkan Korea pada tahun 1958 diikuti Rusia beberapa tahun kemudian.
 
"Tetapi Amerika Serikat tidak pernah meninggalkan (Korea), dan genderang perang terus berlangsung di kawasan itu," sambung anggota Oregon Mediation Association itu.
 
Sebuah pulau di selatan Semenanjung Korea, sebutnya lagi, dinamai Pulau Perdamaian. Tetapi faktanya, pulau itu menjadi salah satu pangkalan angkatan laut. Sementara daerah perbatasan yang dikenal dengan nama Demilitarized Zone kini menjadi ladang ranjau darat. [guh]

Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Fenomena, Warga Sumsel Ramai-Ramai Siarkan Banjir Secara Live

Minggu, 05 April 2026 | 21:48

Besok Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Polri

Minggu, 05 April 2026 | 21:29

Kejagung Periksa Kajari Karo Danke Rajagukguk

Minggu, 05 April 2026 | 20:57

Rekan Akmil Kenang Dedikasi Mayor Zulmi di Medan Tugas

Minggu, 05 April 2026 | 20:47

LPSK: RUU PSDK Harus Perkuat SIstem Perlindungan Saksi dan Korban

Minggu, 05 April 2026 | 20:31

JK: Saya Kenal Roy Suryo, Tapi Tak Pernah Danai Isu Ijazah Jokowi

Minggu, 05 April 2026 | 19:58

Simpan Telur di Kulkas, Dicuci Dulu atau Tidak?

Minggu, 05 April 2026 | 19:56

BRIN Ungkap Asa-Usul Cahaya Misterius di Langit Lampung

Minggu, 05 April 2026 | 19:15

Mayor Anumerta Zulmi Salah Satu Prajurit Terbaik Kopassus

Minggu, 05 April 2026 | 18:51

Terendus Skema Gulingkan Prabowo Lewat Rekayasa Krisis dan Kerusuhan

Minggu, 05 April 2026 | 18:33

Selengkapnya