Newmont Nusa Tenggara (NNT)
Newmont Nusa Tenggara (NNT)
RMOL.Pusat Investasi PemeÂrintah (PIP) enggan menanggapi desakan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menindaklanjuti hasil audit divestasi saham Newmont Nusa Tenggara (NNT). Ada kelalaian dalam penjualan saham perusahaan tambang emas ini.
Kepala PIP Soritaon Siregar tiÂdak habis pikir dengan adanya desakan BPK agar pemerintah meÂÂlaksanakan hasil audit divesÂtasi Newmont. Menurutnya, hal itu sudah masuk ke ranah hukum sehingga lebih baik ditanyakan kepada pihak yang lebih memaÂhami.
“Masalah itu sudah termasuk masalah hukum. Saya tidak bisa memberikan keteraÂngan lebih laÂgi. Lebih baik ditaÂnyakan kepada Kepala Biro BanÂtuan Hukum Kementerian KeÂuangan. Kalau saya yang komenÂtar takut keliru,†ujarnya kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, Selasa (3/4).
Kepala Biro BanÂtuan Hukum Kementerian KeÂuangan Indra Surya saat diÂhubungi Rakyat Merdeka mengaÂtakan, pemerinÂtah merespons hasil audit BPK tersebut dengan mengajukan perÂmohonan sengÂketa kewenangan lembaga negara (SKLN) ke MahÂkamah KonstiÂtusi (MK).
“Saat ini prosesnya masih berÂlangsung di MK. Untuk langkah selanjutnya pemerintah masih menunggu hasil keputusan MK,†ujarnya, Selasa (3/4).
Sebelumnya, Ketua BPK Hadi Purnomo menyatakan, sesuai paÂsal 23e UUD 1945, laporan BPK bersikap final dan wajib diÂtindakÂlanjuti. PemerinÂtah terancam terkena sanksi jika tidak meninÂdaklanjuti temuan BPK, termaÂsuk dalam divestasi Newmont.
“Masalah Newmont bukan BPK ngotot atau tidak, tapi seÂsuai UUD laporan peÂmeriksaan BPK wajib ditinÂdakÂlanjuti,†ujar Hadi di Jakarta, Selasa (3/4).
Seperti diketahui, kepastian pemÂbelian saham divestasi NewÂmont diperoleh setelah dilakuÂkan penandatanganan perjanjian jual beli saham divestasi antara peÂmerintah yang diwakili KeÂpala PIP dan pihak NNT. PenanÂ- daÂtaÂnganan perjanjian jual beli diÂlakuÂkan pada 6 Mei 2011.
Dalam transaksi tersebut, peÂmerintah Indonesia membeli jaÂtah saham divestasi 2010 sebesar 7 persen dengan nilai 246,8 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,2 triÂliun. Harga itu lebih rendah dari penawaran yang semula diajukan Newmont sebesar 271 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,43 triliun.
Usai pembelian saham terseÂbut, DPR meminta agar BPK meÂlakukan audit terhadap keputusan pemerintah itu. BPK pun mengÂaudit pembelian saham NewÂmont dari sisi investasi atau penyertaan modal pemerintah. Untuk memÂbeÂdahnya, BPK mengÂgunakan lanÂdasan hukum berdasarkan Undang-Undang (UU) No.17 TaÂhun 2003 tentang Keuangan Negara dan UU No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.
Sedangkan menurut Pakar EkoÂnomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Anggito AbiÂmanyu, PeÂmeÂrintah dan DPR lalai dalam proÂses penyusunan Anggaran PenÂdapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 terkait pembelian 7 persen saham Newmont.
“Dalam rapat Badan AnggarÂan (Banggar) DPR dengan PeÂmerintah telah diÂseÂpaÂkati dana investasi sebesar Rp 1 triliun. NaÂmun telah terjadi kelaÂlaian oleh pihak Pemerintah dan DPR mengenai tindak lanjut seÂtelah persetujuan APBN tersebut dicaÂpai,†kata Anggito, ahli yang di- daÂtangkan oleh pihak MK ini.
Dia lantas menambahkan, seÂbelum pembahasan di tingkat BaÂdan Anggaran terjadi, harusÂnya didahului atau ditindaklanjuti deÂngan pembahasan oleh komisi terkait. Ia juga mengatakan, daÂlam APBN 2011 yang telah diseÂpakati, tidak ada alokasi dana unÂtuk investasi Newmont.
“PerÂsetujuan APBN 2011 adaÂnya alokasi dana investasi sebeÂsar Rp 1 triliun tidak dicantumÂkan rinÂÂcian penggunaan untuk dana inÂvestasi NNT,†katanya.
Anggito yang pernah dicalonÂkan jadi wakil menteri keuangan ini juga menyatakan, rencana pemÂbelian saham divestasi NNT harus tetap dibahas oleh DPR terÂlebih dahulu dan mesti dijalankan baik dalam kondisi tidak ada anggaran mauÂpun ada anggaran tetapi belum mencukupi. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17