ilustrasi/ist
ilustrasi/ist
RMOL.Para orangtua seharusnya meÂwasÂpadai gejala epilepsi pada anaknya sejak dini. Periksalah anak Anda ke dokter, jika sering meÂlakukan gerakan-gerakan aneh. Peranan orang tua itu penÂting meÂlakukan deteksi dini, yaitu memÂperhatikan perkembangan anak dan kelainan yang mungkin terÂjadi selama tumbuh kembangnya.
“Orangtua harus memÂperÂhaÂtiÂkan, seperti gerakan-gerakan aneh tanpa sebab dan berulang, serta reaksi terkejut (kaget) tanpa sebab yang jelas dan terjadi berulang hingga beberapa kali,†kata Ketua Perhimpunan PeÂnanggulangan Epilepsi di IndoÂnesia (PERPEI) dr Anna Marita Gelgel SpS(K).
Dijelaskannya, Epilepsi meruÂpakan gangguan yang terjadi pada sistem saraf otak manusia. Gangguan epilepsi dapat meÂnyerang siapapun, tidak hanya orang dewasa dan anak-anak, orangtua dan bayi yang baru lahir pun dapat terserang.
Kepatuhan dalam mengonÂsumsi obat antiepilepsi adalah kunci utama mengontrol seraÂngan epilepsi. Sedangkan, ketiÂdakÂpatuhan terhadap pengobatan epilepsi dapat memperparah peÂnyakit epilepsi itu sendiri akibat serangan yang tidak terkontrol.
Akibatnya, akan memicu peruÂbahan neuron, sehingga menyuÂlitkan terapi epilepsi, bahkan menimbulkan risiko yang memÂbaÂhayakan keselamatan pasien epilepsi, seperti serangan epilepsi beruntun lebih dari 30 menit yang disebut status epileptikus yang berdampak kematian.
“Serangan kejang yang sering berulang akibat ketidakpatuhan minum obat akan menyebabkan jaringan otak yang tidak rusak menjadi rusak, sehingga dapat menyulitkan terapi epilepsi, bahkan menimbulkan risiko yang membahayakan keselamatan paÂsien epilepsi,†jelas Dokter Anak dari Departemen Ilmu KeÂsehatan Anak FKUI-RSCM dr Irawan Mangunatmadja, SpA (K).
Lebih lanjut, dr Irawan meÂnyampaikan bahwa anak yang masih mempunyai plastisitas otak yang baik akan berusaha memÂperbaiki keÂrusakan jaringan yang ada. Apabila serangan kejang maÂsih terjadi, plastisitas otak tidak bisa bekerja dengan baik, seÂhingga kÂeÂrusakan jaringan seÂmakin nyata. PlasÂtisitas otak senÂdiri merupakan kemamÂpuan otak melakukan reÂorganisasi dalam bentuk adanya interkoneksi baru pada saraf. [Harian Rakyat Merdeka]
Populer
Senin, 05 Januari 2026 | 16:47
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Kamis, 15 Januari 2026 | 12:08
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:48
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:34
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:19
Kamis, 15 Januari 2026 | 11:04
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:54
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:43
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:28
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:27
Kamis, 15 Januari 2026 | 10:17