Berita

Lukman Hakim Saifuddin/ist

Wakil Ketua MPR: Potong Gaji Pejabat 10-15 Persen bila Harga BBM Naik

JUMAT, 02 MARET 2012 | 14:58 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

RMOL. Pemerintah dihadapkan pada pilihan yang sulit terkait dengan rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah seperti memakan buah simalakama.

"Pilihan pemerintah tidak sederhana. Rencana penaikan ini, pemerintah seperti menghadapi buah simalakama. Kalau dinaikkan rakyat bawah semakin sulit dan menderita. Kalau tidak dinaikkan, APBN yang menderita," kata Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin dalam jumpa pers di ruang wartawan Nusantara III, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Jumat, (2/3).

Karena itu, Lukman menyarankan pemerintah mengambil langkah strategis dan terobosan baru bila memang pada akhirnya menaikkan harga BBM. Katanya, perlu ada jaminan dari pemerintah bahwa rakyat menikmati kompensasi kenaikan harga BBM itu.

"(Kompensasinya) harus sistemis, fokus, tidak sementara, harus jangka panjang. Seperti, pembangunan infrasturuktur di bidang pendidikan, kesehatan, transportasi pedesaan," jelas Wakil Ketua Umum DPP PPP ini.

Tapi, dia tidak sepakat bila kompensasinya adalah Bantuan Langsung Tunai yang kini diubah menjadi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). "BLT tidak tepat, rawan penyelewengan dan tendensi politiknya amat kuat. BLT ini tidak mendidik. Masyarakat diajari tetap miskin, ramai-ramai mengaku ingin jadi orang miskin," jelasnya.

Kedua, masih kata Lukman, pejabat harus bersedia memotonog gaji mereka. Makanya dituntut kesadaran tinggi dari para elit negeri sebagai penyelenggara negara ini.

"(Pejabat ) harus bersedia potong gajinya 10 sampai 15 persen, mengurangi haknya. Saya bersedia dipotong gaji. Ini memang jumlahnya tidak signifikan. Tapi kalau dikumpul akan membantu keuangan APBN," tandasnya.

Untuk merealisasikan usulannya itu, Lukman mengaku akan mengajak partai lain membicarakannya. [zul]


Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

KPK Panggil Bos Rokok HS di Kasus Suap Cukai

Kamis, 02 April 2026 | 10:39

UPDATE

SBY Desak PBB Investigasi Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon

Minggu, 05 April 2026 | 12:15

Bansos Kunci Redam Gejolak Jika BBM Naik

Minggu, 05 April 2026 | 11:34

Episode Ijazah Jokowi Tak Kunjung Usai

Minggu, 05 April 2026 | 11:20

Indonesia Jangan Diam Atas Kebijakan Kejam Israel

Minggu, 05 April 2026 | 11:08

KPK Buka Peluang Panggil Forkopimda di Skandal THR Cilacap

Minggu, 05 April 2026 | 10:31

Drone Iran Hantam Kompleks Pemerintahan dan Energi Kuwait

Minggu, 05 April 2026 | 10:20

Krisis Global Momentum Perkuat Kemandirian Pangan Nasional

Minggu, 05 April 2026 | 10:14

UU Hukuman Mati Israel untuk Tahanan Palestina Mengarah ke Genosida

Minggu, 05 April 2026 | 09:43

Trump Ancam Iran Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam atau Hadapi Konsekuensi

Minggu, 05 April 2026 | 09:33

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Selengkapnya