Berita

peta papua

Diapresiasi, Klarifikasi Cepat Pemerintah Aussie soal Pertemuan Parlemen untuk Papua

RABU, 29 FEBRUARI 2012 | 11:19 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah mengapresiasi respon cepat Pemerintah Australia melalui kedutaan besarnya di Jakarta terkait pertemuan International Parliamentarians for West Papua (IPWP) yang dihadiri oleh beberapa orang anggota parlemen dari Partai Buruh Australia.

Respon dan penjelasan yang diberikan oleh kedutaan besar Australia merupakan langkah yang sangat baik dalam menjaga keharmonisan hubungan antara dua negara yang telah terjalin selama ini. Tindakan ini sekaligus menjelaskan posisi resmi pemerintah Australia dalam menghargai kedaulatan negara Republik Indonesia.

"Tentu kita sangat menyayangkan tindakan beberapa anggota parlemen dari partai buruh tersebut. Namun dengan penjelasan yang diberikan kedubes Australia, kita menjadi yakin bahwa pemerintah Australia tidak pernah ingin mencampuri urusan dalam negeri Indonesia. Mereka menyadari bahwa persoalan Papua adalah persoalan internal Indonesia yang tidak bisa dicampuri negara lain," ujar Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah, Saleh Daulay, kepada Rakyat Merdeka Online (Rabu, 29/2).

Sikap pembangkangan yang dilakukan beberapa orang anggota partai buruh itu terhadap pelaksana tugas menteri luar negeri Australia, Creig Emmerson, menurut Saleh, hanyalah manuver politik internal di Australia. Oleh karena itu, tidak elok kalau disikapi serius oleh pemerintah Indonesia. Manuver-manuver semacam ini justru harus disikapi secara arif dan bijak. Apalagi, pemerintah Australia secara terang-terangan telah menyatakan sikapnya terhadap pertemuan tersebut.

"Selama ini, Indonesia dan Australia telah memiliki hubungan yang sangat baik. Kedua negara ini memiliki posisi yang strategis dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Karena itu, sangat tidak baik jika hubungan tersebut rusak hanya karena ulah dua atau tiga orang anggota parlemen Australia," tambah Saleh.

Namun demikian, Saleh menghimbau agar pemerintah Australia berusaha untuk memberikan teguran keras kepada beberapa orang anggota parlemen tersebut. Bagaimanapun juga, tindakan mereka jelas-jelas sangat merugikan kepentingan kedua negara. Karena bagaimana pun juga, bila kegiatan-kegiatan seperti ini terus dilakukan, lama-lama akan tetap menimbulkan prasangka tidak baik bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia.

"Saya tidak mengetahui secara luas sistem politik di Australia. Tetapi, menurut saya, pasti ada mekanisme pemberian teguran dan sanksi bagi anggota parlemen yang dinilai merugikan kepentingan negara Australia. Seperti di Indonesia, kita mempunyai Badan Kehormatan DPR, kemungkinan Australia juga memiliki lembaga yang sejenis. Lembaga seperti inilah yang paling tepat menegur dan memberi sanksi kepada beberapa orang anggota parlemen dari partai buruh itu," demikian Saleh, jebolan Colorado State University Amerika Serikat yang juga dosen FISIP UIN Jakarta ini. [zul]


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Menelusuri Perjalanan Baru Vision dalam Serial VisionQuest

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:29

Usai Mandek, Harga Emas Antam Langsung Anjlok Hari Ini

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:22

Polisi Rilis 13 Korban Ledakan Pertokoan Pasar Cimanggis Tangsel

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:17

COP31 Jadi Momentum Prabowo Percepat Transisi Energi

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:08

PM Baru Maroko Temui Raja, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Kamis, 15 Oktober 2026 | 10:03

Pertamina Kerahkan Armada Tambahan dan Terminal 24 Jam untuk Normalisasi BBM di Bal

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:54

4,4 Juta Sertifikat Halal Terbit Jelang Batas Akhir, Didominasi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:46

Pengamat Dorong Percepatan Jargas dan CNG untuk Tekan Impor LPG

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:42

Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Langsung Buka Suara

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:38

Badai PHK Melanda Netflix Saat Pertumbuhan Melambat

Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:27

Selengkapnya