Berita

Djohar Arifin Husin

Wawancara

WAWANCARA

Djohar Arifin Husin: Jika Ubinnya Tak Bagus Silakan Marahi Kami...

RABU, 22 FEBRUARI 2012 | 08:56 WIB

RMOL. Kongres Luar Biasa PSSI yang diselenggarakan Komite Penyelamat Sepak bola Indonesia (KPSI) akan dilaksanakan 21 Maret mendatang.

Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin menanggapinya secara dingin mengenai rencana KLB tersebut.  ‘’Kami nggak me­ngurusi KLB itu. Ketua Umum PSSI kan saya,’’ ujar Djohar Ari­fin Husin kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Kursi kepemimpinan Djohar Arifin kembali digoyang seke­lom­pok orang dari KPSI. Mereka akan menyelenggarakan KLB untuk memilih Ketua Umum PSSI. Sebab, Djohar dinilai telah melanggar statuta PSSI dan tidak bisa mengakomodir para pemain tim nasional yang bermain di Indonesia Super League (ISL). PSSI hanya mengakui Indonesia Premier League (IPL) sebagai liga resmi.

Di hari terakhir pendaftaran calon ketua umum PSSI (16/2), terdapat 87 orang yang meng­ambil formulir. Namun hanya 19 orang yang dinyatakan lolos verifikasi administrasi.

Djohar Arifin Husin selanjut­nya mengatakan, dirinya me­nyam­but dengan gembira dari tiap orang yang ingin memper­baiki PSSI demi kepentingan bangsa, termasuk memperbaiki kompetisi liga yang sedang kisruh.

“Kalau Anda menanyakan mengenai rencana penyatuan IPL dan ISL, kami mau itu segera dilakukan,” tandas Djohar.

Berikut kutipan selengkapnya:


Apa Anda legowo diganti?

Dari awal kami terbuka,  siapa saja untuk mengurus PSSI, tapi sesuai aturannya. Ibarat atap ru­mah yang bocor, mari kita per­baiki. Namun bila tidak suka, jangan rumah tersebut dilempari dengan batu. Kami buka pintu untuk menyelesaikan masalah.


Bagaimana dengan kisruh dua­lisme kompetisi di Indone­sia?

Kan FIFA tidak suka ada kompetisi yang tidak resmi. Kom­petisi harus memenuhi syarat dari FIFA. Saya tegaskan, kami tidak ingin mencari untung.

Kami ingin mengurus prestasi dan mengurus program yang sudah disusun. Sekarang ini sedang mencari dana besar untuk membangun prestasi. Sebab, mem­bangun prestasi itu me­merlu­kan dana besar.


Kepengurusan Anda baru ter­bentuk, kenapa digoyang?

Saya menganggap kami di sini ibarat dikontrak untuk membuat rumah, dengan target 2015 se­lesai. Namun sekarang ketika kami baru membangun fondasi, tiba-tiba kami diminta untuk menunjukkan jendela dan ubin dari bangunan itu.

Hasil yang kami buat saat ini akan terlihat 2015. Nah ketika itu sudah jadi dan ternyata jendela dan ubinnya tidak bagus, silakan marahi kami. Tapi saat ini kan posisi kami baru menjalankan proses itu.


Anda dan PSSI ingin fokus pada program?

Ya. Pola pikirnya harus di­rubah, yaitu yang harus menge­depankan prestasi. Hal-hal yang mengganggu timbulnya prestasi harus dihilangkan. Misalnya kami ingin menghilangkan ber­bagai kecurangan dalam sepak bola, dan hal ini yang tidak di­ingin­kan beberapa orang.


Salah satu langkah membuat klub-klub profesional?

Ketika kami menjadi pengurus PSSI, kami diberikan deadline oleh AFC. Intinya, bila kami ingin menyelenggarakan kompe­tisi yang profesional, para klub­nya harus profesional juga.


Salah satu langkah membuat klub-klub profesional?

Ketika kami menjadi pengurus PSSI, kami diberikan deadline oleh AFC. Intinya, bila kami ingin menyelenggarakan kompe­tisi yang profesional, para klub­nya harus profesional juga.


Apa saja yang disyaratkan AFC?

Ada lima syarat, yaitu memiliki ba­dan hukum, memiliki infra­struk­­tur seperti lapangan, punya dana pendukung sendiri, punya pem­binaan usia muda, dan me­miliki manajeman yang profe­sional.

Ya, memang menghentikan dari APBD. Kami ingin klub-klub profesional dengan biaya man­diri. Itulah yang kami dorong. Misalnya mencari sumber dana dari masyarakat, itu yang harus dikembangkan. Malaysia saja bisa mengumpulkan dana lebih besar dari Indonesia. Masa kita tidak bisa.


Bagaimana dengan pembi­naan pemain usia muda?

Pengurus kami fokus dengan hal itu. Khusus terkait dengan pengembangan karakter para pemain muda. Kami sudah mem­buat MoU (Memorandum of Understanding) dengan ESQ untuk pembinaan mental dan membentuk karakter nasiona­lisme. Pelatih dan para pengurus juga diikutkan

Hal ini tidak mudah. Rusaknya bangsa disebabkan rusaknya karakter kita. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

UPDATE

Lurah Cengkareng Barat Dilaporkan ke Polisi Buntut Putusan KIP

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:36

Menteri Pigai Sebut Penyelesaian Konflik Papua Butuh Keputusan Nasional

Minggu, 10 Mei 2026 | 21:25

Prabowo Diminta Segera Bentuk Satgas Penyelundupan BBL

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:56

Segera Dibentuk Satgas Anti-Kekerasan Pesantren

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:35

Tata Kelola SDA Era Prabowo Disebut Berpihak ke Rakyat

Minggu, 10 Mei 2026 | 20:10

Ribuan Bobotoh Turun ke Jalan, Purwakarta Berubah Jadi Lautan Biru

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:42

Lonjakan Gila Minyakita Rapor Merah Zulkifli Hasan

Minggu, 10 Mei 2026 | 19:12

PKS Ingin Cetak Pemimpin Berbasis Iman, Bukan Sekadar Kejar Kursi

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:32

Dalam Lindungan Aktor Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:59

BNI dan Kementerian PKP Sosialisasi Kresit Perumahan di Brebes

Minggu, 10 Mei 2026 | 17:34

Selengkapnya