Berita

Sukmawati Soekarnoputri

Wawancara

WAWANCARA

Sukmawati Soekarnoputri: Pernyataan Taufik Kiemas Lebay, Bukan Hanya Mega Jatuhkan Orba

SENIN, 20 FEBRUARI 2012 | 08:53 WIB

RMOL.Perjuangan politisi perempuan menumbangkan rezim Soeharto tahun 1998 bukan hanya didominasi satu tokoh.

“Saya mau meluruskan komen­tar Taufik Kiemas yang penuh kebohongan di buku Megawati Anak Putra Sang Fajar,” ungkap Ketua Umum PNI Marhaenisme, Sukmawati Soekarnoputri, ke­pada Rakyat Merdeka, Sabtu (18/2).

Seperti diberitakan, di dalam buku Megawati Anak Putra Sang Fajar, Taufik Kiemas mengung­kapkan, Megawati adalah satu-satunya politisi perempuan yang menentang rezim Soeharto.

Komentar tersebut menimbul­kan pro dan kontra, khususnya dari kalangan politisi perempuan saat menumbangkan rezim Soeharto.

Sukmawati Soekarnoputri se­lanjutnya mengatakan, komentar Ketua MPR tersebut merupakan kebohongan dan memutar­balik­kan sejarah.

Menurutnya, masih banyak politisi perempuan yang ikut serta dalam menumbangkan re­zim Soeharto. Mereka turut serta da­lam aksi massa yang dilaku­kan mahasiswa ketika itu.

“Saya nggak mau Indonesia punya Ketua MPR pembohong. Tidak hanya Mega yang menen­tang rezim Orba (Orde Baru). Per­nyataan Taufik Kie­mas ber­lebihan. Ba­hasa gaulnya le­bay,” ujar putri ke­empat Soekarno itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Kenapa Anda mem­permasa­lah­kan buku itu?

Ini kan menyang­kut sejarah. Buku itu berisi komentar dari beberapa tokoh ma­syarakat, dan ke­luarga. Taufik Kie­mas dan saya juga memberi­kan komentar.

Buku tersebut banyak dibaca masyarakat. Saya  mengkritik dan mengoreksi isinya agar tidak menjadi pembohongan sejarah.

Kenapa Taufik Kiemas me­nge­luarkan komentar itu?

Taufik hanya mau melihat peran Megawati saja. Jangan se­perti itu dong. Saya malah ragu, apakah Megawati benar-benar menentang Soeharto ketika itu.

Ada unsur pencitraan?

Saya melihat seperti itu. Tapi kan tidak fair bila seperti itu. Tidak bijak Ketua MPR ngo­mong seperti itu. Berbicara harus sesuai fakta. Jangan mengabur­kan fakta sejarah yang ada.

Siapa tokoh pe­rempuan yang me­nentang rezim Soeharto ketika itu?

Yang ada di DPR bersama ma­ha­sis­wa adalah seluruh petinggi PNI, de­ngan Ketua Umum­nya, Ibu Supeni, dan saya sebagai salah satu ketua ketika itu.

Saya bisa menga­takan seperti itu karena saya pelaku sejarah yang menentang Soeharto hingga lengser. Mega saja tidak ada di DPR  tahun 1998.

Bukankah Mega­wati menen­tang rezim Orba?

Saya tidak melihat ada orang PDI ketika itu. Yang saya lihat hanya orang PNI. Satu bus ke DPR. Sehari sebe­lum Soeharto lengser, kami men­duduki gedung DPR.

Bukankah to­koh-tokoh PDI ikut berperan?

People power mendukung se­kali ketika terjadi­nya reformasi. Ti­dak semua­nya dari kala­ngan na­sio­nalis dan PDI. Yang berge­rak saat itu adalah people power, bukan hanya PDI dan Megawati.

Apa Anda sudah konfirmasi ke Taufik Kiemas?

Saya tidak mau. Saya sudah merasa habis manis sepah di­buang.

Kenapa?

Saya ikut berjuang agar Mega berhasil. Saya membantu me­nen­tang kongres PDI Soerjadi.  Se­telah berhasil, saya dicampak­kan. Kan banyak orang yang ikut berjuang, juga dicampakkan.

Apa lagi yang Anda kritisi ter­hadap isi buku itu?

Komentar para tokoh masya­ra­­kat kurang mengerti perjua­ngan melengserkan Soeharto. Semua­nya hanya  memuji-muji Mega­wati.

Mega memang bagus, tapi kalau urusan berjuang melengser­kan Soeharto ketika itu, nanti dulu. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Koordinator KKN UGM Tak Kenal Jokowi

Rabu, 04 Februari 2026 | 08:36

Eks Relawan: Jokowi Manusia Nggedabrus

Minggu, 01 Februari 2026 | 03:33

UPDATE

Presiden Prabowo Disarankan Tak Gandeng Gibran di Pilpres 2029

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:52

Prabowo Ajak Taipan Bersatu dalam Semangat Indonesia Incorporated

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:51

KPK Siap Hadapi Gugatan Praperadilan Mantan Menag Yaqut Cholil

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:44

Perluasan Transjabodetabek ke Soetta Harus Berbasis Integrasi

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:38

Persoalan Utama Polri Bukan Kelembagaan, tapi Perilaku dan Moral Aparat

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:18

Pemerintah Disarankan Pertimbangkan Ulang Pengiriman Prajurit TNI ke Gaza

Rabu, 11 Februari 2026 | 13:00

Menkop Ajak Polri Ikut Sukseskan Kopdes Merah Putih

Rabu, 11 Februari 2026 | 12:01

Iran Sebut AS Tak Layak Pimpin Inisiatif Perdamaian Gaza

Rabu, 11 Februari 2026 | 11:53

MUI Tegaskan Tak Pernah Ajukan Permintaan Gedung ke Pemerintah

Rabu, 11 Februari 2026 | 11:43

Menkes Akui Belum Tahu Batas Penghasilan Desil Penerima BPJS

Rabu, 11 Februari 2026 | 11:32

Selengkapnya