Berita

sasmito hadinagoro

Pelopor Gerakan Anti Sri Mulyani Siap Head to Head dengan Boediono

RABU, 15 FEBRUARI 2012 | 06:27 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Pernyataan Presiden SBY bahwa bailout untuk Bank Century yang membengkak menjadi Rp 6,7 triliun tidak merugikan keuangan negara sungguh sebuah keteledoran maha dahsyat. Bagaimana mungkin seorang kepala pemerintahan dapat mengatakan hal itu sementara lembaga legislatif (DPR RI) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dua lembaga tinggi lain yang melakukan penyelidikan khusus untuk megaskandal ini, mengatakan menemukan indikasi pelanggaran hukum dan peraturan.

"Pernyataan SBY itu payah. Dia tidak peka dan kok merasa kena jeratan Centurygate?" ujar Sekjen Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI) Sasmito Hadinagoro dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online Selasa malam (14/2).

"Jawaban normatif yang disampaikan dalam tanya jawab dengan wartawan yang disiarkan langsung itu (Senin, 13/2) sungguh memprihatinkan. Memperlihatkan gejala amnesia," sambung pelopor Gerakan Hindari Memilih Sri Mulyani (HMS) ini.

Dua tahun terakhir ini Sasmito termasuk pihak yang gencar mempersoalkan sejumlah kasus kejahatan kerah putih yang bernuansa criminal policy. Megaskanda dana talangan untuk Bank Century, menurutnya, hanya merupakan satu dari sekian kasus kejahatan keuangan yang melibatkan figur-figur sentral otoritas keuangan dan perbankan. Sasmito baru-baru ini mengembangkan kampanyenya ke dunia internasional dengan menjadi editor khusus versi bahasa Inggris sebuah majalah yang menguliti megaskandal tersebut.

"Ini benar-benara mengelabui rakyat. Apa dikira rakyat buta huruf semua? Silakan undang saya untuk head to head dengan Boediono dan Sri Mulyani yang jadi aktor utama di balik megakasus ini," ujarnya lagi.

"Kalau hasil penyelidikan BPK dan DPR tidak dijadikan acuan dalam prodses hukum, mendingan kedua lembaga itu dibubarkan dan uang yang dipakai untuk membayar gaji mereka dibelikan sembako saja," demikian Sasmito miris. [guh]

Populer

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Megawati: Kudatuli adalah Simbol Ketidakadilan!

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:38

Densus 88 Ciduk Dua Pria Terlibat Jaringan Terorisme di Ciamis dan Lampung

Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11

PDIP Sebut Babinsa Awasi Wajib Pajak Salahi Wewenang

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47

Purbaya Buka Peluang Ubah Status KEK di Bali untuk PFII

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:39

Megawati Minta Pramono dan Doel Kembalikan TIM jadi Tempat Seniman

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:30

Warga Kwini 8 Minta Sengketa Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:28

PPP Dukung Tindakan Tegas Polri Jaga Kamtibmas di Jakarta

Selasa, 21 Juli 2026 | 22:14

KPK Terbitkan Dua Sprindik Pengembangan Kasus Bea Cukai, Sudah Ada Tersangka

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:31

Pakar Soroti Modus Dugaan TPPU Febrie dari Safe House hingga Temuan Emas Batangan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:24

Kiprah Mantri BRI Menjadi Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Selasa, 21 Juli 2026 | 21:14

Selengkapnya