Berita

Lily Wahid

Wawancara

WAWANCARA

Lily Wahid: Tak Setuju Remisi Koruptor Tapi Saya Ajukan Interpelasi

SELASA, 14 FEBRUARI 2012 | 09:21 WIB

RMOL. Lily Wahid tidak setuju pemberian remisi kepada koruptor. Tapi anggota DPR dari PKB ini mengajukan hak interpelasi terkait pengetatan pemberian remisi bagi terpidana korupsi.

“Kebijakan pemerintah seha­rusnya bukan pengetatan remisi, tapi seharusnya tidak ada pem­berian remisi. Saya ajukan inter­pelasi untuk bertanya soal kebi­jakan tersebut,’’ kata Lily Wahid kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, sebanyak 86 anggota DPR mengajukan hak interpelasi terkait moratorium remisi koruptor. Salah satunya Lily Wahid.

Menurut anggota Komisi I DPR itu, koruptor seharusnya dihukum lebih berat lagi dari hukuman yang diterima saat ini. “Hukuman sekarang yang dite­rima koruptor tergolong enteng. Seharusnya dihukum berat, bila perlu dihukum mati,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Kalau Anda tidak setuju re­misi bagi koruptor, kenapa ikut-ikutan mengajukan hak interpelasi?

Landasan hukum moratorium remisi bagi koruptor yang di­lakukan Kemenkumham tidak jelas. Kebijakan ini diambil secara se­wenang-we­nang.

Seharusnya prosedurnya tidak seperti itu. Kan ada beberapa yang akan diremisi, tiba-tiba diberlakukan moratorium. Seo­lah-olah ada ba­las den­dam. Maka­nya saya tidak menyetujui moratorium remisi bagi koruptor tersebut.


Siapa yang seharusnya men­da­pat remisi tapi gagal itu?

Nggak perlu saya ceritakan. Yang jelas, caranya nggak benar.

Sebab, ada teman-teman yang seharusnya mendapatkan remisi, tiba-tiba ada pengetatan remisi. Sepertinya ada kesewenang-wenangan.

Perkara pengetatan remisi ini, merupakan kondisi yang tidak prosedural yang dipaksakan terhadap sesutau yang sudah ber­jalan, walaupun saya sendiri menolak remisi.

Kebijakan moratorium ini se­ma­cam arogansi yang memaksa­kan kehendak. Ini sistemnya yang salah.

Pejabat baru bisa membuat aturan baru seenaknya. Kan ada aturan mainnya di negeri ini.


Bukankah Anda setuju ko­rup­tor dihukum lebih berat?

Remisi itu hak setiap narapi­dana yang sesudah menjalani sebagian tahanannya. Tetapi khusus bagi koruptor, saya pri­badi berpendapat hukumannya saja terlalu ringan. Kalau dire­misi, lebih nggak adil lagi.


Kapan formulir pengajuan hak interpelasi tersebut dise­rah­kan?

Saya kurang tahu persis waktu­nya. Tentunya dilakukan bareng-bareng bersama anggota DPR yang lainnya. Kita belum ngo­mong-ngomong lagi secara khusus mengenai waktu penyera­han formulir itu. Saya belum tahu rencana berikutnya.


Kenapa sekarang diajukan hak interpelasi, bukankah ke­bijakan ini sudah lama?

Ini kan masalah waktunya saja. Setiap kasus, apa pun kasusnya pasti ada tarik ulurnya. Itulah yang terjadi.


Bukankah DPR sudah men­da­patkan penjelasan dari Men­kumham mengenai pengetatan remisi bagi koruptor?

Betul. Tapi tetap perlu diajukan hak interpelasi mengingat ada kesan kebijakan ini diambil se­cara sewenang-wenangh.

Saya setuju koruptor dihukum berat. Sebab, korupsi itu menye­babkan rakyat jadi sengsara. Maka­nya aparat hukum harus melihat rasa keadilan itu.


Bukankah DPR sudah men­da­patkan penjelasan dari Men­kumham mengenai pengetatan remisi bagi koruptor?

Betul. Tapi tetap perlu diajukan hak interpelasi mengingat ada kesan kebijakan ini diambil se­cara sewenang-wenangh.

Saya setuju koruptor dihukum berat. Sebab, korupsi itu menye­babkan rakyat jadi sengsara. Maka­nya aparat hukum harus melihat rasa keadilan itu.


Apa harapan Anda terhadap KPK?

KPK harus menunjukkan ker­ja­nya dengan menangkap semua para koruptor. Kemudian para hakim memberi hukuman yang berat. Kalau sekarang ini, hu­kuman­nya terlalu ringan. Kemu­dian diberikan remisi pula, ini tidak adil dan tidak masuk akal.


Anda berpendapat perlu di­re­visi ketentuannya?

Dalam pandangan saya pri­badi, ya perlu. Tapi sikap teman-teman yang lain saya kurang tahu. Apakah mereka berpan­dangan sama dengan  saya atau tidak. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Parlemen dan Pemerintah Sepakat Lanjutkan Pembahasan RUU Daerah Kepulauan

Kamis, 25 Juni 2026 | 18:09

Caddy Diduga Dianiaya di Lapangan Golf Tangerang, Polisi Diminta Turun Tangan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:38

Menkes: AI Tak Bisa Gantikan Sentuhan Dokter kepada Pasien

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:29

TNI Turun ke Sawah, DPR: Bukan Dwifungsi tapi Optimalisasi

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:17

RI Berkomitmen dalam Transisi Energi Melindungi Lingkungan dan Pekerja

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:15

Trump Sebut Erdogan Nyaris Seret Turki ke Perang Iran

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:09

Indonesia Masih Jadi Destinasi Investasi Menjanjikan di Kawasan

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:04

Peran Bos Maktour Travel Fuad Hasan Dikuliti KPK, Bakal Tersangka?

Kamis, 25 Juni 2026 | 17:00

Dokter Tifa Jalani Sidang Perdana di PN Jaktim 2 Juli

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:50

JMSI Desak Pengembalian Akun IG Hensa yang Hilang Usai Kritik MBG

Kamis, 25 Juni 2026 | 16:46

Selengkapnya