Berita

Lagi, Demokrat Digelari Sarang Koruptor

KAMIS, 02 FEBRUARI 2012 | 18:25 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Akibat dari pembajakan terhadap konstitusi selama 13 tahun reformasi yang mengakibatkan hilangnya kedaulatan dan kemandirian bangsa, budaya korupsi warisan Orde Baru tidak sedikitpun dapat diberantas.

Elit koruptor atau sering disebut "tikus berdasi" beroperasi mulai dari Istana Presiden, kementerian-kementerian, gedung DPR, Gubernur, Bupati sampai Walikota terus menggerogoti APBN/APBD yang mayoritasnya berasal dari pajak rakyat. Karena dari total penerimaan negara pada APBN 2011 sebesar Rp 1.105 triliun, sekitar 76 persennya atau Rp 850,3 triliun bersumber dari sektor pajak.

Menurut Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Lamen Hendra Saputra, modus menghilangkan jejak dari para koruptor dan pengusaha hitam adalah dengan masuk ke partai-partai pemerintah. Salah satunya, Partai Demokrat.


Dia menyebutkan nama M. Nazaruddin, Johny Allen Marbun, Amrun Daulay, Marzuki Ali, Agus Najamuddin, Sukawi Sutarip, Andi Malarangeng, HT Milwan, Yusak Yaluwo. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat sendiri, Susilo Bambang Yudhoyono, pun diduga terlibat Skandal Century bersama Boediono dan Sri Mulyani. Maka julukan ke Demokrat sebagai sarang koruptor kian menggema setelah ketua umumnya terseret dugaan korupsi proyek Wisma Atlet.

"Jelaslah, tikus pasti melindungi tikus. Sangat dimungkinkan masih banyak tikus berdasi di Demokrat yang belum tersentuh hukum. Layak jika Partai Demokrat dianugerahi gelar sebagai sarang koruptor," tegas Lamen.

Menurut dia, jika begitu adanya, tiada beda antara era SBY dengan era mantan Presiden (almarhum) Soeharto. Seperti bagaimana 13 tahun lalu mahasiswa menurunkan Soeharto, Lamen mengatakan, sangat layak mahasiswa Indonesia juga berikhtiar yang sama memaksa SBY-Boediono segera turun.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Terbuka Peluang Duetkan Pramono-AHY di 2029

Jumat, 11 September 2026 | 06:21

Komnas Palestina Salurkan 300.000 Liter Air Bersih ke Gaza

Jumat, 11 September 2026 | 06:08

Buku 'Islam Ala Prabowo' Bukan Produk MUI

Jumat, 11 September 2026 | 05:31

Tak Ada Alasan MK Menolak Gugatan Denny Indrayana Cs

Jumat, 11 September 2026 | 05:14

Kemenhaj Tutup Celah Jual Beli Antrean Haji Khusus

Jumat, 11 September 2026 | 05:04

Tiket Termurah Persija vs Persib Rp150 Ribu, Termahal Rp1,5 Juta

Jumat, 11 September 2026 | 04:24

Pansus Papua DPD RI Harus Bongkar Akar Konflik

Jumat, 11 September 2026 | 04:00

Perampasan Aset: Keharusan Hukum vs Kecemasan Publik

Jumat, 11 September 2026 | 03:39

Kudu Yakin Persib Libas Persija 2-0

Jumat, 11 September 2026 | 03:18

Terima Aspirasi Buruh

Jumat, 11 September 2026 | 03:00

Selengkapnya