Berita

Adhie M Massardi

Negeri Auto Pilot atau Sopirnya Mabuk?

Oleh Adhie M. Massardi
KAMIS, 26 JANUARI 2012 | 12:17 WIB

PEMIMPIN yang doyan nyanyi-nyanyi ternyata bisa menimbulkan malapetaka. Kapal pesiar besar nan mewah Costa Condordia, yang dua pekan lalu nabrak terumbu karang di lepas pantai Italia hingga kandas dan terbalik, gara-gara Francesco Schettino, sang nakhoda, asyik nyanyi di bar bersama Dominica Cemorman, teman kencannya.

Mudah dibayangkan, sebelum kapal oleng, Sang Nakhoda pasti sedang menikmati puji-pujian karena suaranya. Mungkin ada juga yang menyuruh membuat album lagu seperti Yudhoyono, Presiden RI. Tak perduli pada nasib ribuan penumpang yang semula ingin senang-senang tapi akhirnya harus cemas karena maut mengintai.

Bagi yang suka mengumpamakan Indonesia sebagai kapal besar, tentu saja kejadian yang menimpa Costa Condordia bikin perut mereka mual. Soalnya sang nakhoda, Presiden Yudhoyono, juga senang nyanyi seperti Francesco Schettino. Padahal cuaca (ekonomi, politik, keamanan) di dalam dan luar negeri sedang bermasalah.


Selain kapal, ada juga yang menganggap Indonesia sebagai pesawat. Menjelang kejatuhan Orde Baru, istilah "tinggal landas" sangat populer karena pemerintahan Soeharto sangat yakin tak lama lagi (perekonomian dan tingkat kesejahteraan rakyat) Indonesia akan terbang seperti Korea Selatan, Taiwan, Singapura dan Malaysia. Pada awal 1997 itu, perekonomian rezim Soeharto memang banyak dipuji lembaga asing. Termasuk Bank Dunia dan IMF. Bahkan negara-negara asing yang banyak merampok kekayaan negara kita meramalkan Indonesia bakal menjadi salah satu “macan Asia”.

Seperti rezim Yudhoyono sekarang ini, pemerintahan Soeharto juga terbuai oleh puja-puji pihak asing. Akibatnya, mereka terlena, lalu tembok kekuasaan yang dibangun puluhan tahun itu pun akhirnya rontok secara tragis. Soeharto cukup beruntung karena waktu tren mengadili dan menghukum pemimpin yang menyimpang belum muncul seperti sekarang. Sehingga nasibnya jauh lebih baik jika dibandingkan Saddam Hussein, Khaddafi atau Hosni Mubarak.

Tapi benarkah Indonesia sebagai negara-bangsa bisa diibaratkan pesawat? Kalau melihat opini yang berkembang luas di masyarakat, kita memang seperti berada di dalam pesawat. Tapi diset "auto pilot" karena "pilotnya lagi asyik sendiri" menikmati kemewahan di kokpit. Atau, jangan-jangan pilotnya terkunci di toilet seperti dialami pesawat komersial Delta yang terbang dari North Carolina menuju New York, AS akhir November tahun lalu.

Melihat kondisi bangsa yang semerawut seperti sekarang ini, di mana masyarakat menghadapi sendiri persoalan hidupnya, bahkan tak jarang malah harus  berhadapan dengan aparatur negara dengan bertaruh nyawa, republik ini memang seperti tak ada yang mengendalikan.  Lembaga-lembaga negara, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif , asyik-asyik sendiri setelah menggasak uang negara. Lalu di mana Yudhoyono yang kepala negara merangkap presiden?

Itulah sebabnya ratusan mahasiswa yang geram, yang menamakan dirinya Geruduc (Gerakan Rakyat untuk Duduki Cikeas) menggelar aksi di komplek rumah Presiden Yudhoyono yang megah. Di hadapan ribuan polisi dan Paspampres, mereka menggelar poster dan spanduk berbunyi: Negeri auto pilot tak perlu presiden. SBY lebih baik di rumah saja. Ada juga spanduk bertulis: Karena tidak menjalankan kewajibannya sebagai presiden, stop gaji dan fasilitas SBY. Ada lagi: SBY, tak ada gunanya bagi rakyat. Karena itu, bagi mereka, SBY sudah tak perlu lagi ke Istana, karena hanya bikin macet jalanan saja.

Tapi menurut teman saya Sri Palupi, ketua Institute for Ecosoc Rights, Yudhoyono itu pilot andal. Cuma yang diterbangkan pesawat yang salah karena penumpangnya adalah pengusaha asing, koruptor, para komprador dan kroni-kroninya sendiri. Sedangkan rakyatnya ditinggal di landasan yang diguyur hujan badai. Makanya, teman saya yang Tionghoa makin cemas. Apalagi pada malam tahun baru Imlek 2563 tak ada hujan sama sekali. Padahal bagi masyarakat Tionghoa, hujan di tahun baru indikator adanya berkah.

"Malah memasuki Tahun Naga Air kita dikejutkan oleh ulah sopir mabuk (Apriyani Susanti) yang nabrak belasan orang di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Kejadian ini pasti bikin pening orang yang gemar angka 9 (sembilan) karena dari belasan yang diterjang Xenia hitam ini, yang tewas sembilan orang," katanya.

Jadi apakah ini negeri auto pilot atau sopirnya sedang mabuk? Teman saya bertanya. Tugas Anda menjawabnya. [***]

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya