Berita

citra sadahurip

Tak Mudah Menentukan Jenis Kelamin Gunung Sadahurip

RABU, 25 JANUARI 2012 | 13:53 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Tak mudah menjawab pertanyaan apakah benar Gunung Sadahurip di Garut, Jawa Barat, adalah ciptaan manusia yang tertutupi lapisan tanah, atau gunung api biasa. Diperlukan studi yang sangat serius, yang melibatkan ahli-ahli dari berbagai disiplin ilmu kebumian.

Demikian disampaikan geolog dari BP Migas, Awang H. Satyana, dalam perbincangan dengan Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 25/1).

"Dari satu sisi bentuknya memang mirip seperti piramida di Mesir. Bentuk  inilah yang memicu kontroversi: satu kelompok yakin  Sadahurip memang sebuah piramida seperti di Mesir. Kelompok lain mengatakan Sadahurip adalah gunung api atau paling tidak bukit volkanik," ujar alumni Universitas Padjadjaran itu.

Awang meminta agar kedua kelompok yang berbeda pandangan ini dapat menahan diri dan lebih mengedepankan upaya penelitian lebih lanjut sebelum mengklaim "jenis kelamin" Sadahurip.

Kenyataan bahwa belum ditemukan sumbat lava seperti di kebanyakan gunung api membuat  status Sadahurip sebagai gunung api diragukan. Di sisi lain, keberadaan batuan volkanik di lereng gunung setinggi 1.463 meter di atas permukaan laut ini juga dapat mengartikan dua hal. Pertama, ia adalah bukit volkanik. Kedua, bebatuan itu justru merupakan jejak tradisi megalitik seperti reruntuhan bangunan yang ditemukan di Gunung Padang, Cianjur, yang dibangun masyarakat prasejarah di lereng-puncak bukit volkanik.

Awang dan kawan-kawannya di Geotrek Indonesia (GI) akan meninjau langsung Gunung Sadahurip hari Sabtu mendatang (28/1). Geolog yang cukup produktif dalam dunia penelitian ini telah mengumpulkan bukti yang cukup banyak dari berbagai pihak, baik yang menganggap Sadahurip adalah bangunan buatan manusia yang tertimbun, maupun kelompok yang menganggap Sadahurip adalah gunung api biasa. 

Dari bukti-bukti itulah dia menyimpulkan tidak mudah menjawab pertanyaan mengenai "jenis kelamin" Sadahurip. 

Bukti-bukti yang diperolehnya dari berbagai pihak itu akan diuji di lapangan.

"Butuh seminggu untuk memperoleh hasil dari penelitian saya nanti," ujarnya.

Namun demikian, Awang yakin, kesimpulan penelitiannya nanti tetap tidak bisa menghentikan perdebatan mengenai Sadahurip.

"Ini pasti masih akan diikuti pro dan kontra. Karena interpretasi yang berbeda terhadap data cukup kuat," ujarnya lagi.

Bagaimana dengan eskavasi?Katanya, memang sepintas cara yang terbaik adalah dengan eskavasi atau penggalian. Tetapi menggali satu gunung hampir bisa dipastikan tak mungkin dilakukan. Satu-satunya cara adalah dengan menggali tempat-tempat tertentu sebagai contoh. Tetapi, ini pun akan terbentur pada perdebatan mengenai interpretasi data. [guh]


Populer

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Harga Emas Dunia Terkoreksi Saat Ultimatum Trump Dekati Tenggat

Senin, 06 April 2026 | 08:19

Krisis Global Memanas, Industri Air Minum Tercekik Lonjakan Harga Kemasan

Senin, 06 April 2026 | 08:06

Sektor Bisnis Arab Saudi Terpukul, Pertama Kalinya dalam 6 Tahun

Senin, 06 April 2026 | 08:00

Trump Ancam Ciptakan Neraka untuk Iran jika Selat Hormuz Tak Dibuka

Senin, 06 April 2026 | 07:48

AS Berhasil Selamatkan Pilot Jet Tempur F-15 di Pegunungan Iran

Senin, 06 April 2026 | 07:36

Strategi WFH di Berbagai Negara Demi Efisiensi Energi

Senin, 06 April 2026 | 07:21

Cadangan Pangan Pemerintah Capai Level Tertinggi, Aman hingga Tahun Depan

Senin, 06 April 2026 | 07:06

Daya Kritis PBNU ke Pemerintah Makin Melempem

Senin, 06 April 2026 | 06:32

Amerika Negara dengan Ideologi Kapitalisme Menindas

Senin, 06 April 2026 | 06:12

Isu Pemakzulan Prabowo Belum Padam Total

Senin, 06 April 2026 | 06:07

Selengkapnya