Berita

@erikarlebang

17 Kicauan Singkat tentang Presiden Kita dan Media Kita

SELASA, 24 JANUARI 2012 | 10:04 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Seorang pengguna jejaring sosial dunia maya Twitter dengan akun @erikarlebang biasanya menuliskan hal-hal yang berkaitan dengan fungsi air, makanan, pola makanan, dan lain-lain seputar masalah itu.

Sejauh ini, tidak ada masalah "politik berat" yang disinggungnya, sampai tadi pagi (Selasa, 24/1), @erikarlebang berkicau tentang hubungan antara presiden dan media di Indonesia. Dalam kicauan singkat sebanyak 17 kali, ia mencoba memotret dengan jernih plus dan minus kebebasan pers Indonesia. Ke-17 kicauan itu tidak diberi hastag. Kalau boleh diberi judul, maka judul yang kira-kira tepat adalah "Presiden Kita dan Media Kita".

Berikut kicauan @erikarlebang.

1. Lucu juga memperhatikan dinamika media dan kebebasan yg dimilikinya dalam mengkritisi pemerintah saat ini. Saya belum lahir jaman yg pertama.

2. Tapi dr pemerintahan presiden kedua sampai sekarang dinamika media itu menarik sekali. Presiden ketiga sih lebih tepatnya media baru bebas.

3. Kalau yg kedua kan memerintah dgn tangan besi. Praktis media dikuasai oleh maunya dia. Membangkang sedikit, ditutup! 'Dibredel' jaman itu.

4. Wajar kalau pemerintahannya berkesan mulus. Api dinamika cuma ada di lingkungan dalam, itupun gejolaknya kecil. Makanya 3 dekade lancar jaya.

5. Tapi pemerintahan tidak dikontrol media, rapuhnya luar biasa. Kerusakan 2 dekade terakhir tidak terdeteksi luas. Hancur saat tiba saatnya.

6. Tapi media kelewat terbuka, orientasinya jadi komersil. Basisnya "Bad News is a Good (Selling) News" angkat yg jelek-jelek, isyu yg menarik.

7. Belum kalau tai-pan pemilik medianya berambisi menjadi pemimpin negara, wah makin banyak sesi pemerintah diserang oleh media milik mereka.

8. Presiden ketiga dan keempat, yang berbasis sipil, rasakan sekali imbas keterbukaan media yg menjadi bumerang untuk masa pemerintahan mereka.

9. Presiden keempat yg paling merana. Permainan politik dan kompor media membuat kebijaksanaan yg dekat dengan kepentingan rakyat jadi sia-sia.

10. Ia adalah pemimipin kedua (setelah presiden pertama) yg merasakan 'kudeta', didongkel dari jabatannya. Walau nasibnya tetap lebih bagus ksanaan (kebijaksanaan? red) yg dekat dengan kepentingan rakyat jadi sia-sia.

11. Presiden sesudah dia, karena memang minim prestasi dan kapabilitas, wajar kalau 'dibantai' habis-habisan oleh media. Gak salah juga ksanaan (kebijaksanaan? red) yg dekat dengan kepentingan rakyat jadi sia-sia.

12. Presiden sekarang? Sama saja. Media tetap 'mengawal'nya secara keras. Opini rakyat 'dipelintir' sedemikian rupa, agar membuat semua jd buruk.

13. Tapi dia malah melenggang hingga memenangi pemilihan kedua, walau demikian media tetap keras. Ke sisi buruk opini publik 'diarahkan'.

14. Tapi mungkin karena basisnya militer dan pengaruhnya kuat, politik dan media agak kesulitan mendongkelnya dari kursi sekarang. Masih kokoh!

15. Intinya? Jangan mudah begitu saja termakan oleh media tentang penggambaran keburukan pemerintahan. Mengacu pd presiden ketiga dan keempat.

16. Hingga kini mereka dielu-elukan. Disanjung dan dianggap legendaris. Kenapa? Karena mereka memang negarawan besar yang memiliki prestasi.

17. Bisa jadi pengalaman itu terulang ke presiden sekarang. Dicaci sana sini, tp kebelakangnya akan dipuji setengah mati. Kita lihat saja nanti.

Ada yang ingin menanggapi kicauannya? [guh]


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

NATO Turun Gunung Usai Trump Mau Tarik 5 Ribu Pasukan dari Jerman

Minggu, 03 Mei 2026 | 00:03

Komdigi Dorong Sinergi Penegakan Hukum Ruang Digital

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:45

Wamenkeu soal Purbaya Masuk RS: Insya Allah Sehat, Doakan Saja!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:32

Negosiasi Berjalan Buntu, Trump Tuding Iran Tidak Punya Pemimpin Jelas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:19

Pernyataan Amien Rais di Luar Batas Kritik Objektif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:51

Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:38

Aktivis 98: Pernyataan Amien Rais Tidak Cerminkan Intelektual

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:18

Wakil Wali Kota Banjarmasin Dinobatkan Sebagai Perempuan Inspiratif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:48

KAI Pasang Pemasangan Palang Pintu Sementara di Perlintasan Jalan Ampera

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:34

Paguyuban Tak Pernah Ideal, Tapi Harus Berdampak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:52

Selengkapnya