Berita

ilustrasi

Hanura: Ironis, Jantung Iklim Investasi Koyak

SABTU, 21 JANUARI 2012 | 11:37 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sedang berpolemik soal upah buruh Indonesia. Ketua Bidang Pengupahan dan Jaminan Sosial Apindo Hariyadi Sukamdani baru-baru ini mengecam Gita yang mengatakan bahwa upah buruh di Indonesia masih minim dan lebih kecil bila dibandingkan dengan negara seperti China dan Vietnam.

Menurut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Erik Satrya Wardhana, pernyataan Gita Wirjawan ada benarnya.

“Faktanya bisa terlihat dari terkoyaknya harmonisasi hubungan industrial melalui berbagai aksi buruh yang disertai dengan pembangkangan berupa pemblokiran jalan,” ujar Erik yang ketika dihubungi (Sabtu, 21/1) tengah berada di Universitas Muhamadiyah Surakarta, untuk membedah buku "UUD 1945 Sebagai Revolutiegrondwet.

“Jangan sampai terjadi ironi pada negeri ini. Di saat pemerintah berhasil menggawangi makro ekonomi dengan meraih investmentgrade, jantung iklim investasi yaitu hubungan industrial terkoyak karena masalah mendasar, yakni upah,” kata kader Partai Hanura ini lagi.

Dia mengingatkan, kisruh upah seakan menjadi agenda yang terjadi mengikuti musim tertentu. Bila dibiarkan, hal ini akan berdampak serius pada iklim investasi dan daya saing nasional. Menurut hemat Erik, kekisruhan ini disebabkan tiga faktor. Pertama, kelemahan kapasitas kelembagaan di level Dewan Pengupahan yang terdiri dari unsur tripartite, yaitu buruh, pengusaha dan pemerintah. Ketidakpuasan atas ketetapan upah mengalir ke luar forum tripartite.

Kedua, paradigma upah dalam hubungan industrial di Indonesia masih dinilai sebagai pengeluaran atau cost, bukan bagian dari investasi yang dapat memicu produktivitas. Sementara ketiga, pemerintah tampak ambigu dalam perannya sebagai wasit antara pengusaha dan buruh. Pemerintah, masih menurut Erik, cenderung membiarkan pertarungan antara pengusaha dan buruh serta mengabaikan berbagai dampak yang diakibatkannya. [guh]


Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya