Berita

Boy Rafli Amar

Wawancara

WAWANCARA

Boy Rafli Amar: Kalau Tidak Ada Petugas, Korban Mesuji Lebih Banyak

JUMAT, 16 DESEMBER 2011 | 09:10 WIB

RMOL. Kepolisian sudah mengambil langkah hukum menangani kasus Mesuji, Lampung. Bahkan, Mabes Polri telah membentuk tim untuk mengawal penyelidikan.

“Tim terdiri dari banyak unsur, termasuk dari Inspektorat,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar, kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, tim ini dibentuk berdasarkan perintah Kapolri Jen­deral Timur Pradopo. De­ngan adanya tim ini diharapkan delapan orang yang masuk daftar pen­carian orang (DPO) segera di­tang­kap.  

“Terkait penayangan-penaya­ngan yang memperlihatkan ada­nya masyarakat yang terge­letak, itu bukan tindakan kepo­lisian,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Bagaimana tanggapan Anda terhadap adanya video menge­nai kekerasan di Mesuji?

Video kekerasan yang dilapor­kan ke DPR diambil dari dua daerah yang berbeda. Di Lam­pung itu, Mesuji sebagai Kabu­paten. Tapi kalau di Ogan Kome­ring Ilir, Sumatera Selatan, ada Kecamatan Mesuji. Kalau digam­bar seolah-olah satu daerah. Padahal itu berbeda.


Kenapa terjadi kekerasan?

Warga berusaha me­nye­­rang pe­tugas yang melaku­kan sosia­lisasi perlindungan hu­tan. Ya, tentunya petugas me­la­kukan perlawanan untuk me­nga­man­kan.

Keberadaan kepolisian dalam keadaan seperti itu didasarkan upaya untuk memberikan perlin­dungan dan pelayanan kepada masyarakat.

Berupaya mengeliminir gang­­­­guan ancaman atau gang­guan keamanan yang ada di wila­yah itu.

Kepolisian mempunyai kepen­tingan agar potensi konflik yang dapat mengganggu keamanan itu bisa dieliminir. Keterlibatan kita secara profesional dan propor­sional terhadap upaya-upaya yang harus dilakukan, agar kea­manan tetap kondusif.


Kasus ini sudah lama, ke­na­pa baru sekarang dibentuk tim?

Khususnya peristiwa yang ter­jadi di Kecamatan Mesuji, Suma­tera Selatan, itu sudah ada pene­tapan enam tersangka. Artinya, sudah dilakukan proses hukum.


Apa mungkin ada penamba­han tersangka?

Kepolisian masih mela­kukan penyelidikan. Tapi ada delapan daftar pencarian orang yang dinilai bertanggung jawab terhadap perbuatan pembunuhan dan penganiayaan berat yang terjadi di lahan kelapa sawit PT SWA itu.

Dengan adanya tim ini, diha­rapkan delapan DPO ini segera ditangkap. Ini akan mengungkap siapa yang memenggal dan mem­bunuh karyawan SWA.


Targetnya?

Secepatnya. Kita berharap ke­pada semua pihak untuk menahan diri. Jangan terprovokasi. Kita akan terus bersama-sama dengan unsur Pemda di wilayah masing-masing.


Targetnya?

Secepatnya. Kita berharap ke­pada semua pihak untuk menahan diri. Jangan terprovokasi. Kita akan terus bersama-sama dengan unsur Pemda di wilayah masing-masing.


Kekerasan itu murni dipicu masalah sengketa?

Ya. Kekerasan itu tidak ada kaitannya dengan petugas ke­poli­sian. Sekali lagi saya tegas­kan, tidak benar gambar-gam­bar aksi kekerasan itu dila­ku­kan petugas.

Kalau tidak ada petu­gas, kor­ban akan le­bih ba­nyak lagi. Kebera­daan petugas di lokasi tersebut justru untuk meredakan situasi yang me­manas, bukan memihak ke­­lompok ter­tentu.


Data di kepolisian, ada be­rapa korban?

Ada tujuh korban. Kalau tidak dievakuasi bisa lebih dari itu. Saya dapat informasi bahwa angka 30 korban yang dilapor­kan warga Lampung ke DPR itu karena menggabung-gabungkan dengan peristiwa lain. Angkanya masih tidak dapat dipertang­gungjawabkan. Jika punya data, sebaiknya dikomunikasikan de­ngan petugas.


Apa yang paling penting di­lakukan kepolisian?

Kita prioritaskan untuk me­nye­lesaikan akar masalahnya. Ke depan jangan ada lagi tinda­kan main hakim sendiri dengan tin­dakan anarkis, sehingga menga­ki­batkan korban jiwa.

Jika terjadi konflik seperti seng­keta lahan hendaknya upaya-upaya yang dilakukan menggu­nakan jalur hukum.

 Masyarakat perlu diberikan pemahaman terhadap hak dan kewajiban yang mereka miliki. Sebab, ada perbedaan pemaha­man atau perbedaan persepsi dengan hukum lahan. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya