Berita

Marty Natalegawa

Wawancara

WAWANCARA

Marty Natalegawa: Belanda Sudah Diberi Info Mengenai Kondisi Papua...

SABTU, 03 DESEMBER 2011 | 08:42 WIB

RMOL. Kementerian Luar Negeri terus melakukan dialog dengan pemerintah Belanda mengenai kondisi Papua.

Ini penting dilakukan untuk meng-clear-kan adanya perwa­kilan Organisasi Papua Merdeka (OPM) di negara kincir angin tersebut.

“Memang ada pihak-pihak di luar negeri yang berpandangan seperti itu. Makanya kita terus memberikan penjelasan kepada mereka,” ujar Menteri Luar Ne­geri, Marty Natalegawa, di Ja­karta.

Seperti diberitakan, sejumlah atribut OPM terpajang bebas di etalase sebuah toko di Amster­dam, Belanda. Selain itu, toko tersebut juga menampung donasi dari berbagai pihak demi men­dukung kegiatan OPM di luar negeri.

Marty Natalegawa selanjutnya mengatakan, pihaknya menya­dari ada pihak-pihak di luar negeri yang mendukung gerakan OPM.

Berikut kutipan selengkapnya:


Informasi apa yang disam­pai­kan kepada pihak luar ne­geri itu?

Kami senantiasa memberikan berbagai informasi kepada te­man-teman negara sahabat me­nge­nai berbagai perkembangan Papua. Saya kira masyarakat in­ternasional sudah sangat mema­hami perkembangan di Papua. Terutama ketetapan Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pendekatan kesejahteraan dan upaya kita untuk memberdayakan serta mengefektifkan otonomi khusus bagi Papua.


Apa saja yang dilakukan Kemlu?

Sudah menjadi ketetapan dari pemerintah dan tugas Kemen­terian Luar Negeri adalah mem­berikan info kepada negara sa­habat. Informasi secara keseluru­han, tidak seolah-olah fokus ke masalah Papua saja.


O ya, bagai­ma­na dengan dua pe­lajar Indonesia yang te­was di Ya­man?

Kami tentu sa­ngat berduka cita, ada dua pelajar In­do­nesia yang te­was di Yaman, 26 November 2011. Mereka tewas akibat baku tembak antara satu kelompok dengan kelompok lain di sebuah perguruan tinggi di Ya­man, tempat pelajar kita berada.


Bagaimana langkah peme­rin­tah Indonesia?

Ketika itu terjadi, pihak KBRI segera menghubungi pihak ke­luarga untuk berkomunikasi me­ngenai berita duka tersebut. Ke­mudian memastikan kepada ke­luarga apa yang menjadi pilihan keluarga. Apakah jenazah dima­kamkan di Indonesia atau Yaman. Akhirnya diputuskan untuk di­makamkan di Yaman. Itu sudah dilaksanankan.


Baku tembak karena apa?

Saat ini Yaman dilanda keti­dak­pastian dan ketidakstabilan. Ada dua kelompok bersenjata yang baku tembak. WNI yang ada di sana otomatis menjadi bagian dari kondisi tersebut, sehingga jatuh korban. Makanya, kami mengimbau para WNI untuk menghindari situasi ini.


Baku tembak karena apa?

Saat ini Yaman dilanda keti­dak­pastian dan ketidakstabilan. Ada dua kelompok bersenjata yang baku tembak. WNI yang ada di sana otomatis menjadi bagian dari kondisi tersebut, sehingga jatuh korban. Makanya, kami mengimbau para WNI untuk menghindari situasi ini.


Apa benar ini ter­kait penye­ra­ngan markas Al-Qaeda?

Kami melihat ini sebagai se­buah di­namika. Kondisi di sana memang anar­kis sekali, terjadi per­tikaian, dan baku tembak antar ke­lompok tertentu. Siapa dan ba­gai­mana itu terjadi ti­dak jelas. Yang penting WNI ja­ngan ada lagi yang korban. Maka­nya, kami me­ngan­­jurkan tiap WNI di sana untuk men­daf­tarkan diri. Bila ada ma­salah se­gera mela­por­kan ke­pada pihak KBRI.


Berapa pe­­la­jar kita yang ada di sana?

Sekitar 100 orang yang belajar di perguruan tinggi tersebut. Na­mun selama ini pemerintah Indo­nesia sudah melakukan proses evakuasi secara bertahap dari Yaman sesuai perkembangan dan kondisi.

Kami harapkan dengan kondisi seperti ini, saudara kita yang masih di Yaman, terutama yang masih memerlukan perlindungan peme­rintah, segera berkomu­nikasi agar proses evakuasi bisa dijalankan dengan tertib dan terukur.


Kalau jumlah WNI secara ke­seluruhan?

WNI di Yaman sekitar 1.000 orang. Saya harus cek lebih lanjut mengenai data tersebut. Selama ini kendala evakuasi karena WNI tersebar di beberapa kota. Apalagi banyak yang tidak mendaftarkan diri. Seperti dua saudara kita yang meninggal itu, sepengetahuan kami, mereka belum mendaftar­kan diri. Tapi itu bukan masalah. Bagaimanapun WNI harus kita beri bantuan. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

UPDATE

Wisatawan Banjiri Kepulauan Seribu saat Libur Lebaran

Selasa, 24 Maret 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Meruya, 75 Petugas Pemadam Diterjunkan

Selasa, 24 Maret 2026 | 00:00

10 Desa di NTT Terdampak Banjir

Senin, 23 Maret 2026 | 23:27

KPK Bawa Yaqut Cholil Qoumas ke RS Polri

Senin, 23 Maret 2026 | 23:05

Pengunjung Diimbau Tak Buang Sampah Sembarangan di Taman Bendera Pusaka

Senin, 23 Maret 2026 | 23:01

Yaqut Cholil Kembali ke Rutan KPK

Senin, 23 Maret 2026 | 22:48

Kim Jong Un Terpilih Lagi jadi Presiden Korut

Senin, 23 Maret 2026 | 21:45

Benang Kusut Pengelolaan Keuangan, Kepala BKAD Purwakarta Diminta Mundur

Senin, 23 Maret 2026 | 21:17

Arus Balik H+2 Lebaran Mulai Terlihat di Terminal Rajabasa

Senin, 23 Maret 2026 | 20:24

Pimpinan MPR Sambut Baik Langkah Presiden Prabowo Percepat Transisi Energi

Senin, 23 Maret 2026 | 19:55

Selengkapnya