Berita

Ferry Liauw Yan Siang yang Ikut Mengautopsi Mayat Pahlawan Revolusi Pun "Melarikan Diri"

JUMAT, 25 NOVEMBER 2011 | 20:01 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Kini hanya dr. Ferry Liauw Yan Siang yang, mungkin, masih hidup. Mantan dokter Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) Jakarta dan pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu meninggalkan Indonesia dan pindah ke Amerika Serikat tak lama setelah ia dan empat dokter lain selesai menjalankan tugas mengautopsi mayat tujuh korban pembunuhan kelompok Letkol Untung dinihari 1 Oktober 1965.

Tim autopsi tersebut dibentuk atas perintah Panglima Kostrad dan Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, Mayjen Soeharto, kepada Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) setelah mayat tujuh perwira TNI Angkatan Darat yang kemudian menjadi Pahlawan Revolusi ditemukan di sebuah sumur tua di sekitar Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sore hari tanggal 4 Oktober 1965.

Ketika autopsi dilakukan ketujuh mayat dalam keadaan busuk setelah dipendam sejak dinihari 1 Oktober 1965. Dari autopsi yang dilakukan dengan rinci diketahui bahwa ketujuh perwira tersebut tewas karena tembakan senjata api sebelum dibuang ke dalam sumur tua yang dikenal dengan nama Lubang Buaya. Tetapi hasil autopsi itu tampaknya tidak pernah dipublikasikan atau dijadikan rujukan sama sekali oleh kelompok yang berkuasa setelah peristiwa yang oleh banyak kalangan dikenal dengan nama G30S/PKI dan oleh sementara lainnya disebut Gerakan Satu Oktober (Gestok).

Media massa yang dikuasai kelompok militer kala itu pun menurunkan informasi yang menggambarkan kekejaman tak terperi kelompok penculik. Kelompok penculik, misalnya, disebutkan mencungkil mata dan memotong kemaluan korban. Bahkan ada berita yang menyebutkan kelompok wanita Kancing Hitam menari telanjang saat melakukan pembantaian.

Kelompok yang berkuasa kala itu sama sekali tidak bereaksi terhadap pemberitaan yang telah mengobarkan kemarahan di hati rakyat terhadap Partai Komunis Indonesia, anggota, simpatisan, dan orang-orang yang diduga memiliki hubungan dengannya. Akibat dari pembiaran ini, sampai 1966 terjadi pembunuhan massal di banyak tempat di Indonesia.

Tidak ada jumlah resmi yang pasti. Biasanya jumlah korban disebutkan antara 500 ribu hingga 1,5 juta jiwa. Tetapi, menurut sebuah catatan, almarhum Sarwo Edhie yang di masa itu adalah Komandan Resimen Para Komando (RPKAD) atau Kopassus saat ini pernah mengakui bertanggung jawab atas kematian 3 juta jiwa dalam pembantaian itu. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa pembunuhan massal itu juga dilakukan oleh organisasi sipil, baik yang berlatar belakang keagamaan maupun tidak.

Bung Karno, yang ketika itu masih menjabat sebagai presiden, pun tak bisa berbuat apa-apa selain mengecam pemberitaan-pemberitaan yang sepertinya merupakan bagian dari skenario perebutan kekuasaan. Ia pernah memerintahkan lembaga-lembaga pemberitaan yang dikuasai pemerintah untuk menghentikan propaganda tersebut. Tetapi seiring dengan kekuasaannya yang kian meredup perintah bung besar itu pun menguap begitu saja.

Karena informasi yang berkembang tak sesuai dengan temuan tim autopsi sehingga kondisi di tanah air semakin mencekam, dr. Ferry Liauw Yan Siang akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Indonesia.

"Kini ia bekerja sebagai ahli patologi di Amerika Serikat," ujar dr. Djaja Suryaatmadja, kepada Rakyat Merdeka Online, Jumat pagi (24/11).

Dr. Djaja adalah ahli forensik DNA. Ia merupakan salah seorang mahasiswa FKUI yang dibimbing dr. Lim Joe Thay antara 1985 hingga 1991. dr. Lim Joe Thay meninggal dunia dua hari lalu (Selasa, 22/11).

Bersama dr. Ferry Liauw Yan Siang, dr. Lim Joe Thay ikut mengautopsi tujuh mayat pahlawan revolusi tersebut. Tiga anggota tim autopsi telah lebih dahulu meninggal dunia. Mereka adalah dr. Brigjen Roebiono Kertopati, dr. Kolonel Frans Pattiasina, dan dr. Sutomo Tjokronegoro.

"Setelah kejadian itu, dia (dr. Ferry Liauw Yan Siang) trauma, dan karena takut untuk bicara akhirnya pergi ke Amerika," cerita dr. Djaja lagi.

Dr. Djaja pernah bertemu dengan dr. Ferry suatu hari di awal 1990an. Dalam pertemuan, kenang dr. Djaja, dr. Ferry masih trauma dan tak mau bicara sama sekali mengenai autopsi yang mereka lakukan dan hal-hal lain yang berkaitan dengan peristiwa berdarah yang mengoyak bangsa tersebut. Itu adalah pertemuan terakhir dr. Djaja dengan dr. Ferry Liauw Yan Siang. [guh]


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

UPDATE

Perlindungan Orang Utan Kalimantan dari Karhutla Terus Diperkuat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:43

Benarkah Hari Kliwon Lebih Rawan Kecelakaan?

Rabu, 14 Oktober 2026 | 03:17

Lindungi Kehidupan Nelayan, KKP Segel Tambak Udang Tak Berizin di Karimunjawa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:46

Pasis Dikreg Seskoad Peroleh Doktrin Kepemimpinan dari Wapang TNI

Rabu, 14 Oktober 2026 | 02:20

Dampak MBG Bikin Konsumsi Protein Anak Naik hingga Hampir 80 Persen

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:57

Ekonomi Biru Dijaga, Nelayan Disejahterakan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:40

Peradi Profesional Dukung Langkah Presiden Bersih-bersih Mafia Tambang

Rabu, 14 Oktober 2026 | 01:16

DPR Minta PLN Percepat Pemulihan Listrik di Batam-Bintan

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:59

Staf Ahli Kapolri Pastikan Penanganan Maksimal Kabut Asap di Kalteng

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:43

Kepala BRAN dan Menteri PKP Bidik Percepatan Lahan untuk Rumah Rakyat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 00:20

Selengkapnya