Berita

Demokrat Tahu PAN Kecewa

SENIN, 21 NOVEMBER 2011 | 08:56 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Sekretariat Gabungan Partai Politik Pendukung Pemerintah dibentuk sebagai wadah membahas kebijakan pro-growth, pro-poor, pro-job dan pro-environment, lalu dikawal di parlemen dan diimplementasikan pemerintah.

"Kawan-kawan itu kecewa. Tentang PT (parliamentary treshold) beda. Itu bukan kebijakan pemerintah," kata Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Batoegana kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Senin, 21/11).

Hal itu dikatakan Sutan menanggapi atas salah satu agenda pembahasan Rakernas PAN pada 10-11 Desember mendatang yang akan mengevaluasi keberadaan partai tersebut di Setgab. Hal ini karena ada suara yang berkembang di PAN, bahwa Setgab tidak efektif, sebab hanya menyuarakan partai besar.


Menurut Sutan, ambang batas atau (parliamentary treshold) harus memiliki peningkatan. Bila sebelumnya hanya 2,5 persen, mestinya naik menjadi 5 persen. Kalau mengikuti suara partai kecil-menengah dimana kenaikan maksimal menjadi 3 persen, menurut Sutan penambahan 0,5 persen itu terlalu kecil.

Demokrat, katanya, mengikuti pendapat pemerintah yaitu empat persen. Empat persen ini merupakan angka yang moderat, antara partai  kecil-menengah yang meminta 3 persen dan Partai Golkar-PDIP yang ngotot 5 persen.

Bukankah itu tandanya bahwa PT ini juga merupakan kebijakan pemerintah, karena merekomendasikan angka 4 persen? Kata Sutan, justru, menaikkan angka ambang batas itu demi rakyat. Jelasnya, bila angka ambang batas dinaikkan maka akan terjadi penyederhanaan partai di parlemen. Dengan itu, pemerintah bisa langsung merespon segala kebutuhan rakyat dengan cepat tanpa harus berbelit-belit di DPR.

"Kalau banyak (partai di DPR) digoreng dulu, menjadi lama. Mestinya hari ini rakyat lapar, langsung dikirim beras hari itu juga. Cepat. Ini kan tidak, (karena banyak partai) digoreng dulu, jadi nggak sederhana memutuskannya. Rakyat sudah keburu meninggal," tegasnya. [zul]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya