Berita

tb hasanuddin

Tanpa Keputusan Politik, Pengerahan Militer ke Papua Langgar UU

RABU, 16 NOVEMBER 2011 | 16:52 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

RMOL. Komnas HAM membeberkan temuan di depan Komisi I DPR bahwa respons pemerintah atas konflik di Papua  adalah dengan operasi keamanan yang tidak disebut secara eksplisit atau berlindung di balik operasi "penegakan hukum".

Dari hasil investigasi Komnas HAM, operasi "penegakan hukum" juga ditandai penambahan aparat polisi dan TNI juga aparat intelijen. Dinamika politik Papua selalu dibalas dengan operasi keamanan yang lebih mengedepankan kekerasan untuk mengontrol kegiatan warga negara yang berkumpul.

Wakil Ketua Komisi I Mayjen (Purn) TB Hasanuddin mengatakan bahwa kesepakatan apapun yang dilakukan antar institusi keamanan mengenai pengerahan pasukan TNI, pasti menyalahi UU.


"Kami akan berbicara dengan Panglima TNI dan Menteri Pertahanan. Dan sudah jauh hari kami ingatkan, ini ada kesalahan yang harus diluruskan. Mengacu pada UU, itu harus ada keputusan politik. Juga mengacu kepada Peraturan Presiden tahun 2008," kata TB Hasanuddin di gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/11).

Lagipula, dalam aturan UU TNI ditegaskan bahwa untuk membuat keputusan politik untuk pengerahan pasukan militer harus diputuskan Presiden dan harus disepakati dulu bersama parlemen.

"Apakah ini termasuk separatis pemberontakan bersenjata atau apa, itu harus disepakati dulu oleh pemerintah bersama DPR. Sampai sekarang tidak ada keputusan politik," katanya.

Dia akui, selama ini Panglima TNI membantah operasi militer ke Papua. Panglima berdalih itu hanya program bantuan untuk Pemda..

"Penggunaaan aparat TNI itu menyalahi aturan. Itu tidak sesuai dengan ketentuan menurut aturan perundang-undangan dan peraturan presiden tahun 2008," tegasnya lagi.[ald]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya