Berita

Harifin A Tumpa

Wawancara

WAWANCARA

Harifin A Tumpa: Silakan Diusut Apakah Ada Aliran Dana Kepada Hakim

MINGGU, 13 NOVEMBER 2011 | 08:39 WIB

RMOL. Keberadaan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di daerah tidak bisa ditunda. Sebab, itu amanat  Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009.

“Selama Undang-Undang itu tidak dicabut, selama itu pula Pengadilan Tipikor tidak akan dibubarkan dan tidak akan di­tunda,” ujar Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin A Tumpa.

Harifin menekankan, Undang-Undang menyebutkan, semua tin­­dak pidana korupsi harus di­adili di Pengadilan Tipikor. Ka­lau ditunda keberadaannya atau di­bubarkan, maka beraki­bat ba­nyak koruptor yang bebas dari hukum.

“Terkadang orang yang mem­buat wacana seperti itu tidak ber­pikir apa akibatnya. Bila tidak ada Pengadilan Tipikor, berapa orang yang bebas dari hukum,” kata Harifin.

Berikut kutipan selengkapnya:

 

Bagaimana langkah MA ke depan terkait dengan hakim ad hoc Tipikor?

Hari Minggu (13/11) kami be­rencana mengumpulkan semua hakim ad hoc Pengadilan Tipikor seluruh Indonesia untuk diberi­kan pendalaman tentang tindak pidana korupsi selama satu ming­gu. Jumlahnya hakim yang ikut 122 hakim.


Ada yang mengata­kan, rek­rut­men hakim ad hoc ter­buru-buru?

Harus dipahami terlebih da­hulu, rekrutmen ini dilakukan MA. Undang-Undang memberi­kan jangka waktu dua tahun bagi kami untuk melakukan rekrut­men hakim ad hoc. Kami mulai rekrutmen Oktober 2009 sampai Oktober 2011. Proses seleksi itu kami lakukan dengan maksimal dan dengan segala upaya agar perin­tah Undang-Undang bisa kami laksanakan.

Pada seleksi pertama, kami menjaring 27 orang. Kedua 50 orang. Apabila ada orang yang mengatakan proses seleksi itu ter­gesa-gesa, mungkin orang ter­se­but tidak mengikuti prosesnya. Ti­dak membaca Undang-Undang.

 Apa benar pengetahuan ha­kim ad hoc Tipikor tidak se­perti hakim karier?

Orang bisa menilai apapun. Tapi penilaian seperti itu saya ra­sa si­fatnya subjektif. Dari bukti yang saya sampaikan, para hakim ad hoc itu banyak yang bagus. Ki­ta harus menyadari, semua ins­titusi itu ada yang bagus dan baik.

 

Bagaimana bekas terdakwa bisa menjadi hakim?

Saat Mahkamah Agung akan melakukan rekrutmen calon ha­kim ad hoc, kami umumkan ke­pada publik semua calon ter­sebut. Ini bertujuan agar masya­rakat memberikan masukan kepada kami mengenai track record calon hakim itu.

 Namun, tidak ada satu pun yang memberi masukan. Bagai­mana Mahkamah Agung bisa mengetahui track record calon ha­kim apabila tidak laporan dari masyarakat. Mahkamah Agung bukan malaikat.

 

Apa rekrutmen hakim ad hoc akan melibatkan pihak lain seperti Komisi Yudisial?

Selama Undang-Undang tidak menyebutkan itu, maka tidak mung­kin melibatkan institusi tersebut. Undang-Undang menye­butkan, untuk melibatkan unsur-unsur masyarakat. Ini sudah kami lakukan. Beberapa pakar hukum dan LSM seperti Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MAPPI) sudah dilibatkan. Lagi­pula, apakah dengan meminta me­libatkan institusi lain dijamin prosesnya akan baik.

 

Apa mekanisme pemerik­saan internal sudah ada?

Sudah ada. Kami mencari apa­kah ada hakim yang disuap. Dan hasilnya tidak ada hakim yang melakukan hal berbau busuk se­perti itu.

 

Soal desakan perlunya pe­nga­­dilan Tipikor dievaluasi, bagaimana tanggapan MA?

Silakan saja, asalkan sesuai de­ngan koridor yang berlaku. Ka­rena apapun yang kita laku­kan, lan­da­sannya harus Undang-Undang.


Nama Anda sempat disebut dalam kasus DL Sitorus, apa ko­mentarnya?

Saya sudah tanyakan tapi itu tidak benar. Saya tidak bisa me­nyatakan apakah ada atau tidak ada pihak yang menjual nama ha­kim agung. Tapi mungkin saja itu terjadi. Setiap ada kepentingan se­lalu ada orang yang mencari kesempatan memperoleh keun­tungan.

Terkait ada atau tidak ada alir­an dana kepada hakim, itu adalah we­wenangnya penegak hukum. Sila­kan diusut apakah ada atau tidak ada hakim yang terlibat. [Harian Rakyat Merdeka]


Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

UPDATE

Wisatawan Banjiri Kepulauan Seribu saat Libur Lebaran

Selasa, 24 Maret 2026 | 00:21

Kebakaran Rumah di Meruya, 75 Petugas Pemadam Diterjunkan

Selasa, 24 Maret 2026 | 00:00

10 Desa di NTT Terdampak Banjir

Senin, 23 Maret 2026 | 23:27

KPK Bawa Yaqut Cholil Qoumas ke RS Polri

Senin, 23 Maret 2026 | 23:05

Pengunjung Diimbau Tak Buang Sampah Sembarangan di Taman Bendera Pusaka

Senin, 23 Maret 2026 | 23:01

Yaqut Cholil Kembali ke Rutan KPK

Senin, 23 Maret 2026 | 22:48

Kim Jong Un Terpilih Lagi jadi Presiden Korut

Senin, 23 Maret 2026 | 21:45

Benang Kusut Pengelolaan Keuangan, Kepala BKAD Purwakarta Diminta Mundur

Senin, 23 Maret 2026 | 21:17

Arus Balik H+2 Lebaran Mulai Terlihat di Terminal Rajabasa

Senin, 23 Maret 2026 | 20:24

Pimpinan MPR Sambut Baik Langkah Presiden Prabowo Percepat Transisi Energi

Senin, 23 Maret 2026 | 19:55

Selengkapnya