Berita

Imam Prasodjo/IST

UJI KELAYAKAN CAPIM KPK

Berbahaya, Imbauan Imam Prasodjo Melawan Konstitusi

KAMIS, 10 NOVEMBER 2011 | 09:23 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Imbauan anggota Panitia Seleksi Pimpinan KPK Imam B. Prasodjo agar Komisi III DPR tidak lagi mengutak-atik hasil kerja Pansel, yang telah membuat ranking terhadap ke-8 calon, dikecam.

"Pansel itu jangan merasa absolut. Yang absolut itu adalah kekuatan rakyat yang disalurkan lewat legislatif," kata anggota Komisi III DPR Nudirman Munir kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini, (Kamis, 10/11).

Karena itu, dia mengimbau Imam dan Pansel secara keseluruhan untuk tidak mengatur-atur Komisi III DPR. Menurut Nudirman, yang berhak mengaturnya adalah rakyat, dalam hal ini konstituennya. "Kalau rakyat tak suka, nanti saya tidak dipilih lagi pada 2014," tegasnya.


Menurut politikus Golkar ini, pernyataan sosiolog UI itu tidak hanya berbahaya, tapi juga sudah melawan konstitusi. Pasalnya, DPR jelas bertugas melakukan fit and proper test, baru memilih siapa yang akan jadi pimpinan KPK. Dengan pernyataan Imam tersebut, berarti ingin mengembalikan DPR seperti pada zaman Orde Baru.

"Kalau tidak melakukan fit and proper test, ya sudah maklumatkan saja agar DPR tugasnya hanya mengiyakan saja. Seperti masa Orde Baru, hanya tukang stempel dan 3 D, datang, duduk, diam. Pansel ini seperti orang baru belajar demokrasi," hardik Nudirman.

Keputusan Pansel yang membuat ranking terhadap 8 Capim KPK juga tidak ditolak Nudirman. Karena itu sama saja Pansel mengintervensi dan mengarahkan DPR. Mestinya, jelas Nudirman, Pansel hanya memilih delapan nama tak perlu dibuat ranking.

Kemarin, dalam sebuah diskusi, Imam mengungkapkan hal tersebut. Dia mengingatkan, jangan sampai kerja Pansel yang berlandaskan akademis, dikalahkan kerja politik dan lobi di Komisi III DPR. Delapan nama Capim KPK berdasarkan ranking adalah Bambang Widjojanto, Yunus Husein, Abdullah Hehamahua, Handoyo Sudradjat, Abraham Samad, Zulkarnain, Adnan Pandu Praja, Aryanto Sutandi. [zul]

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya