Berita

Max Sopacua

Wawancara

WAWANCARA

Max Sopacua: Kami Tidak Pernah Bilang PKS Kekanak-kanakan

MINGGU, 23 OKTOBER 2011 | 03:17 WIB

RMOL. Partai Demokrat secara institusi tidak pernah mengeluarkan pernyataan PKS tidak Islami dan kekanak-kanakan. Itu hanya pendapat pribadi.

Demikian disampaikan Wa­kil ketua Umum Partai Demo­krat Max Sopacua kepada Rak­yat Merdeka di Jakarta, Kamis (20/10).

“Saya harus meluruskan, per­­nyataan beberapa kader kami itu adalah pendapat pri­badi. Hu­bu­ngan antar partai koalisi ha­rus tetap menjadi acuan untuk men­­dukung kebijakan peme­rintah SBY ke depan,” pa­parnya.

Seperti diketahui, Wakil Sek­jen Partai Demokrat Ramadhan Po­han mengkritik sikap PKS yang ragu ingin keluar atau tetap di koa­­­lisi. Ramadhan me­­nilai, apabila mau berkoalisi ha­rus konsisten. Kalau bermain dua kaki, sangat tidak Islami.

Max Sopacua selanjutkan me­nga­takan, semua harus berpikir dingin dalam menyikapi perma­salahan reshuffle kabinet yang sudah dilakukan Presiden. Ja­ngan sampai pernyataan tersebut mem­buat friksi semakin tajam di dalam koalisi.

“Kami mengharapkan PKS bersama-sama membangun koa­lisi. Sebab, koalisi ini punya niat yang sama sejak dibentuk tahun 2004,” kat anggota Komisi I DPR itu.

Berikut kutipan selengkapnya;

      

Apa kader yang mengeluar­kan pernyataan itu akan dite­gur?

Intinya saya ingin sam­pai­kan, pen­dapat yang seolah-olah me­nim­bulkan friksi di dalam koalisi adalah pendapat pribadi, bukan atas nama partai. Terus te­rang saja, saya ba­nyak men­dapat per­tanyaan yang intinya menanya­kan kenapa PKS di­bi­lang tidak Islami dan lain-lain.

 

Apa hubungan PKS dan De­mokrat tetap baik?

Teori partai politik bukan ha­nya membenahi ke dalam inter­nal partai kita saja. Tapi bagai­mana kita bisa menjaga hu­bu­ngan baik sesama partai.

Kami tidak membanding-ban­­­­­dingkan kalau partai kami di­­kurangi kursi menteri di ka­binet, maka parpol lain juga di­­­­ku­rangi. Kami tidak berpen­dapat seperti itu.

 

PKS pernah menuding re­shuffle dijadikan sebagai fund raising?

Saya sudah berbicara dengan Pak Hidayat Nurwahid mengenai hal itu, kami menganggap itu pen­dapat pribadi. PKS tidak per­nah mengeluarkan pernyataan seperti itu.

Saya kira kita harus menjaga kondisi koalisi tetap kondusif. Ka­lau kita saling berbalas pan­tun, persoalan tidak akan habis. Ja­ngan sampai membuat hubu­ngan antar partai menjadi retak.

 

Lalu sikap Demokrat pada pihak yang menyerang SBY?

Kami memilih cara elegan, men­­jawab kritikan itu dengan ar­gumentasi yang kuat. Misalnya  Rabu (19/10) di Metro TV saya adu argumen dengan Pak Syafii Ma’arif. Saya bisa bertahan, se­hingga banyak yang menga­pre­siasi.

Saya mengatakan, sangat me­ng­apresisasi apa yang dilaku­kan Pak Syafii dan teman-teman dari forum lintas agama. Walau umur tidak muda lagi, mereka masih memikirkan bangsa. Ini kan ba­gaimana kita menyampaikan so­lusi dan menjawab pertanyaan dengan elegan, bukan dengan cara frontal.

 

Apa koalisi akan pecah kalau terus-terusan ada friksi?

Saya tidak berpikir sampai ke arah itu. Tapi bagaimana kita men­jaga semua kondisi peme­rin­­tahan dengan baik. Kita hor­mati pendapat semua orang yang me­rasa tidak senang dengan  pengurangan jatah menteri, itu wajar saja.

Semua partai politik akan ber­pikir Pemilu 2014, sehingga me­reka tidak akan berbuat se­suatu yang merugikan. Begitu juga dengan PKS.

 

Reshuffle kabinet dianggap tidak mengakomodir kepen­tingan PKS?

Tidak bisa kita lihat siapa yang diakomodir, dan siapa yang tidak diakomodir. Presiden meng­ingin­­kan agar semua legowo untuk membangun koalisi yang lebih baik lagi.

Pak Anas Urbaningrum me­nya­rankan agar pengurangan kursi menteri jangan menjadi friksi. Tapi harus disikapi dengan pe­mikiran jauh ke depan, yakni ba­gaimana kita membangun bangsa.

Saya tidak setuju dengan te­man-teman yang pendapatnya mempertajam friksi antara PKS dan Demokrat.

 

Apa yang diharapkan Partai Demokrat terhadap koalisi?

Koalisi ini punya harapan yang sama, mendukung kebija­kan pe­merintah ke depan agar lebih baik. Siapapun akan ber­pikir un­tuk 2014. Tapi harus ber­buat se­suatu untuk rakyat, itulah yang menjadi tujuannya.   [rm]


Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Rismon Dituding Bohong soal Ijazah Jokowi

Minggu, 15 Maret 2026 | 05:04

UPDATE

H+3 Lebaran Emas Antam Stagnan, Buyback Merosot Rp80 Ribu

Selasa, 24 Maret 2026 | 10:01

NTT Butuh Alat Berat dan Logistik Mendesak Pasca Banjir dan Longsor

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:47

Rahasia AC Mobil Tetap Beku di Tengah Kemacetan Arus Balik Lebaran 2026

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:40

Prabowo Telepon Presiden Palestina, Tegaskan Solidaritas dari Indonesia

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:34

Harga Minyak Anjlok 11 Persen

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:22

Menanti Pembukaan Bursa Usai Libur Lebaran: Peluang dan Risiko di Pasar Saham RI

Selasa, 24 Maret 2026 | 09:01

Saham-saham Asia Terbang Usai Keputusan Trump

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:44

Iran: Tidak Ada Negosiasi dengan AS, Itu Berita Bohong untuk Manipulasi Pasar

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:33

Pasar Saham AS Melonjak Setelah Trump Tunda Serangan ke Iran

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:18

Leonid Radvinsky Wafat: Jejak Sang Raja Platform OnlyFans yang Fenomenal

Selasa, 24 Maret 2026 | 08:07

Selengkapnya