Perdana Wahyu Santosa/ist
Perdana Wahyu Santosa/ist
RMOL. Keputusan Presiden SBY mencopot Marie Elka Pangestu (MEP) dari kursi menteri perdagangan yang telah didudukinya sejak Kabinet Indonesia Bersatu I dinilai tidak lepas dari kebijakannya selama ini yang mengundang kemarahan publik. Banyak kebijakan mantan peneliti CSIS itu lebih pro asing dan membuat daya saing ekonomi UKM dan industri tidak meningkat secara signifikan.
"Maka tidak mengherankan jika SBY memberikan mandat kepada GW (Gita Wirjawan) untuk mengendalikan kebijakan perdagangan ekspor-impor yang lebih berpihak kepada perekonomian nasional, khususnya UKM dan petani dan nelayan," kata Direktur Riset dan Keuangan Sabang Merauke-Circle, Perdana Wahyu Santosa, saat menyampaikan keterangan pers, di Warung Daun, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, (Kamis, 20/10).
Makanya, Gita yang juga mantan investment banker Goldman Sach dan JP Morgan itu diharapkan cepat menyesuaikan diri dengan berbagai persiapan pasar bebas Asean Economic Community (AEC), AFTA dan lain-lain. Kontrak-kontrak perdagangan yang kurang memihak pada industri nasional harus ditinjau ulang.
Populer
Senin, 20 April 2026 | 14:11
Sabtu, 18 April 2026 | 02:00
Sabtu, 25 April 2026 | 15:43
Jumat, 17 April 2026 | 17:46
Kamis, 16 April 2026 | 00:32
Senin, 20 April 2026 | 12:50
Kamis, 23 April 2026 | 01:30
UPDATE
Minggu, 26 April 2026 | 17:35
Minggu, 26 April 2026 | 17:18
Minggu, 26 April 2026 | 16:38
Minggu, 26 April 2026 | 16:37
Minggu, 26 April 2026 | 16:01
Minggu, 26 April 2026 | 15:50
Minggu, 26 April 2026 | 15:50
Minggu, 26 April 2026 | 15:42
Minggu, 26 April 2026 | 15:40
Minggu, 26 April 2026 | 14:57