Berita

ramadhan pohan

Demokrat Minta PKS Legowo Kadernya Dicopot

RABU, 19 OKTOBER 2011 | 09:35 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. PKS diminta legowo menerima keputusan Presiden SBY yang mencopot salah seorang kadernya di pemerintahan. PKS harus menempatkan kepentingan nasional di atas kelompok dan jangan terlalu memaksakan segala sesuatu yang diinginkan.

"Semua itu adalah persemaian dari berbagai arah politik dan dinamika. Tirulah Demokrat, Golkar dan yang lain yang menerima ini secara legowo," kata Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini (Rabu, 19/10).

Soal PKS yang kerap mengungkit kontrak politik yang ditandatangani pada 2009 lalu disayangkan Ramadhan. Dalam kontrak itu memang disebutkan bahwa PKS mendapatkan empat jatah menteri. Tapi, kontrak itu sudah diperbarui pada Maret 2011 yang menekankan bahwa Presiden SBY memiliki kewenangan penuh untuk mengkocok ulang kabinet. Dan Presiden SBY dipastikan sudah berkomunikasi dengan PKS sebelum mencopot Menristek Suharna Surapranata.


"(Sebenarnya) disitu juga diingatkan, koalisi ini kerjasama di parlemen dan di pemerintahan. Ketika itu dilanggar, kok tidak ribut mereka. Berapa kali mereka membangun serangan. Itu pertama. Kedua, cara mereka itu menempatkan janji, kontrak seolah-olah abadi. Jadi mau seburuk apa pun tidak mau diganti. Itu kan arogan sekali. Hanya Alquran yang tidak bisa diobah," tegas Ramadhan.

Apakah itu berarti pengurangan jatah PKS ini sebagai hukuman?

"Saya kira tidak dilihat dari konteks hukuman. Saya kira reshuffle ini, reshuffle untuk rakyat. Reshuffle bukan untuk kepentingan politik. Kepentingan politik itu penting. Tapi bukan satu-satunya faktor, ada faktor lain, seperti pakta integritas, dan banyak sekali," jawabnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya