Berita

Irnanda Laksanawan

Wawancara

WAWANCARA

Irnanda Laksanawan: Alumni Perguruan Tinggi Diharapkan Berperan Dalam Teknologi & Industri

KAMIS, 13 OKTOBER 2011 | 01:17 WIB

RMOL. Seluruh elemen diharapkan berperan aktif dalam perumusan maupun pelaksanaan kebijakan untuk  perkembangan teknologi dan industri global.

Demikian disampaikan Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Institut Teknologi Sepuluh No­pem­ber (ITS), Irnanda Lak­sa­nawan kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Selain itu, lanjut Deputi Men­teri BUMN Bidang Usaha In­dus­tri Strategis dan Manufaktur ini, alumni perguruan tinggi juga ha­rus berperan aktif dalam peru­mus­an maupun pelaksanaan ke­bijakan nasional di bidang tek­nologi dan pembangunan.

“Iatan alumni perguruan tinggi dapat berperan sebagai pusat in­formasi, penelitian dan kajian, se­hingga dapat memberi re­ko­men­dasi strategis tentang kebijakan publik,” paparnya.


Berikut kutipan selengkapnya;

Bisa disebutkan bagaimana konkretnya?

Alumni perguruan tinggi itu mengambil peran dan me­mak­si­malkan potensi. Rencana Pem­ba­ngunan Jangka Panjang Nasional (RPJM) 2010-2014 menga­ma­natkan kita untuk memantapkan pe­nataan NKRI, Meningkatkan kualitas SDM, membangun ke­ma­puan iptek dan memperkuat daya saing perekonomian.


Apa pemerintah mendukung hal itu?

Tentu. Saat memberi kuliah umum di ITS, akhir tahun lalu, Pre­siden SBY mengajak semua kom­ponen untuk berpikir str­a­tegis, besar, melampaui dimensi ru­ang dan waktu. Presiden ber­harap, ITS dan Institut Teknologi Bantung (ITB), bisa menjadi per­guruan tinggi terkemuka se­ma­cam Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika Serikat.

Presiden mengatakan itu ka­rena beliau menyadari kalau bang­­­­sa ini memiliki idealisme. Un­­tuk itu, kita perlu menyum­bang­­kan visi dan pikiran bagi ke­majuan negeri tercinta ini.


Bagaimana peran IKA ITS?

Sudah mulai bagus sejak Cak Kristiono. Lalu diperkuat zaman Cak Dwi. Mulai ada even ber­kala, diskusi bersama, men­du­kung sinergi bisnis teknologi dan industri. Saya yakin, ke depan akan semakin bagus.


Apa yang kurang?

Menciptakan networking yang lebih terkonsep. Makanya harus ada data base yang kuat, tim ICT yang kuat, webside yang lebih interaktif dan ada moderator yang lebih dinamis.

Namun sejak kepengururan Cak Kristiono semua itu mulai di­buat, termasuk Lembaga Kajian Ke­bijakan Teknologi dan Industri Te­nov yang betul-betul terjun lang­sung kepada masyarakat. Ke depan, kita tinggal melanjutkan dan fokus untuk meningkatkan semua hal yang dinamis.


Bagaimana kiprah alumni ITS di bidang industri?

Cukup banyak dan tersebar. Petrokimia, pupuk, persenjataan, kapal, panser, peledak, industri berat, equipment, power plant. Na­mun, orang-orang ITS cen­de­rung introvert, tak mau menon­jolkan diri.

Ibaratnya, sudah dapat pe­ker­jaan saja bersyukur. Sebetulnya, sikap menerima itu bagus. Na­mun, sikap itu harus dibarengi de­ngan sikap lain, yakni harus mem­berikan yang terbaik, me­nem­patkan diri sebagai leader di tem­patnya masing-masing, se­hingga dapat memberi kontribusi optimal terhadap perusahaan atau negara ini.


Bagaimana kiprah alumni ITS di bidang industri?

Cukup banyak dan tersebar. Petrokimia, pupuk, persenjataan, kapal, panser, peledak, industri berat, equipment, power plant. Na­mun, orang-orang ITS cen­de­rung introvert, tak mau menon­jolkan diri.

Ibaratnya, sudah dapat pe­ker­jaan saja bersyukur. Sebetulnya, sikap menerima itu bagus. Na­mun, sikap itu harus dibarengi de­ngan sikap lain, yakni harus mem­berikan yang terbaik, me­nem­patkan diri sebagai leader di tem­patnya masing-masing, se­hingga dapat memberi kontribusi optimal terhadap perusahaan atau negara ini.


Di bidang kebijakan, apakah alum­ni ITS sudah  punya penga­ruh?

Ya berpengaruh. Namun, kita belum bisa membandingkannya dengan alumni perguruan tinggi lain yang usianya sudah lebih tua. Meski demikian, ITS memiliki alumni angkatan 1978, M Nuh yang pernah menjadi rektor ter­muda di Indonesia, dan sekarang menjadi menteri dengan ang­garan negara terbesar (Kemen­terian Pendidikan Nasional).

Walau hanya memiliki satu orang menteri dalam KIB II, dam­paknya sangat besar terhadap bangsa dan negara. Sebab, pen­didikan usia dini hingga per­gu­ruan tinggi berada di bawah ken­dali Pak Nuh.

Kesuksesan Pak Nuh meru­pa­kan kesuksesan bangsa ini. Beliau bukan lagi milik ITS, tapi aset bangsa yang berperan besar dalam menentukan kompetensi dan daya saing Indonesia di masa depan.


Kalau kiprah alumni untuk me­nentukan arah kebijakan in­dus­tri?

Cukup besar. Di Pertamina ada Rukmini Hadihartini, alumni ITS perempuan pertama yang men­ja­di direktur pengelolaan. Itu posisi yang sangat penting. Di tempat lain, banyak juga yang berprestasi dan memberi warna.


Lalu, apa pengaruh mereka ter­hadap arah kebijakan in­dustri?

Ya, sangat besar dong. Direksi BUMN kan sering diminta pen­da­patnya untuk membuat ke­bijak­an di departemen teknis. Saat ingin membuat undang-un­dang, DPR juga mengundang BUMN-BUMN itu. Secara lang­sung atau tidak, alumni ITS sudah cukup mewarnai.


Menurut Anda, bagaimana kondisi perindustrian Indonesia saat ini?

Tergantung dari klaster dan bisnis portopolionya, apakah me­nyang­kut energi, komunikasi atau infrastruktur. Misalnya untuk ener­gi, karena kebutuhan selalu meningkat, demand tidak pernah turun dan resources-nya makin ter­batas, harganya pun semakin mahal. Hal itu membuat bisnis energi tidak pernah habis. Kare­na­nya, kita harus mencari dan mengembangakan sejumlah energi alternatif, seperti matahari, angin atau bioenergi.

Tapi, kalau industri yang sifat­nya low technology, dan lebih me­ng­andalkan manusia yang ber­pen­didikan tidak terlalu tinggi, maka akan pindah bayar mahal ke mu­rah, karena added value-nya tidak banyak. Karena itu, industri low to medium ini, harus diting­kat­kan keterampilannya. Dengan de­mi­kian, meski low technology har­gan­nya bisa mahal, jika krea­ti­fi­tasnya tinggi dan bagus.


Namun, banyak yang bilang industri kita terpuruk?

Industri maufaktur itu harus volume base. Kalau kebutuh­an­nya sedikit pasti unit cost-nya ma­hal. Nah, kalau kita lihat di In­do­nesia volumenya sudah cu­kup, kita harus melihat kebutuhan regional, harus memanfaatkan China-AFTA.

Manufaktur itu kan marginnya kecil, hanya sekitar lima persen. Jadi, kalau terkena bunga bank 10 persen atau kena pajak tinggi, bea masuk tinggi, atau ongkos trans­portasi tinggi, ya tidak bisa ber­saing. Karena itu, kita harus me­ne­mukan inovasi produk-produk baru agar kita mampu menembus pasar dan memenangkan per­saing­an.    [rm]


Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Masalah Klasik Tak Boleh Terulang di Musim Haji 2026

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:15

BSI Semakin Diminati, Tabungan Tumbuh Tertinggi di Industri

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:13

Jembatan Rusak di Pandeglang Diperbaiki Usai Tiga Siswa Jatuh

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:05

ATR/BPN Rumuskan Pola Kerja Efektif Berbasis Kewilayahan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:53

Tim Kuasa Hukum Nilai Tuntutan Nadiem Tak Berdasar Fakta Persidangan

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:44

Kelantan Siapkan Kota Bharu Jadi Hub Asia, Sasar Direct Flight Bangkok hingga Osaka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:33

PLN Luncurkan Green Future Powered Today

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:30

Riki Sendjaja dan Petrus Halim Dikorek KPK soal Kredit Macet di LPEI

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:27

Juri LCC MPR Harus Minta Maaf Terbuka

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:21

Polisi Jaga Ratusan Gereja di Jadetabek

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:14

Selengkapnya