Berita

sby

Dramatisasi Reshuffle, Bukti SBY Lempar Tanggung Jawab

JUMAT, 07 OKTOBER 2011 | 13:42 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampaknya mendramatisasi wacana reshuffle yang saat ini menjadi perhatian publik. Selain pihak Istana terus menghembuskan kian kencangnya angin reshuffle, SBY juga mulai berkantor di Ciekas dan memanggil para menterinya.

Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto memandang tidak ada yang aneh dari cara SBY, yang tampak mendramatisir wacana reshuffle ini. Sikap ini menunjukkan bahwa SBY sedang tersandra oleh politik harmoni yang ia bangun sejak awal pemerintahannya.

"Memang sisi lain dari orang yang tersandra politik harmoni itu adalah dramaturgi. Kalau Anda dalam posisi tidak bisa melakukan apa-apa, maka kemudian output-nya lebih banyak pada dramaturgi," katanya kepada Rakyat Merdeka Online pagi tadi.


Semua orang tahu bahwa SBY merupakan penanggung jawab efektivitas kinerja pemerintahan ini. Tapi, lewat dramatisasi reshuffle ini, SBY ingin menunjukkan bahwa menteri-menteri lah yang tidak bekerja dengan baik.

"Kalau dianalisis lebih dalam, dramaturgi itu kan lebih pada bagaimana SBY men-covering kegagalan dia sebagai seorang  Presiden, tetapi mendelegasikan kesalahan itu pada efektifitas kinerja kabinet," ungkapnya.

Dosen komunikasi politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengingatkan, bahwa sejak awal SBY sebenarnya paham bahwa kabinetnya dibangun atas kesepakatan dengan partai politik pendukungnya. Dan bila pun ada menteri yang tidak bisa bekerja, mestinya SBY langsung bertindak tanpa harus menunggu lama sehingga reshuffle ini menjadi perhatian publik.

"Padahal ketika misalnya seorang menteri tidak bisa bekerja, UKP4 bilang merah, kemudian suara publik itu hampir semua bersuara sama tentang pos menteri yang harus diganti, itu indikator jelas. Tapi kenapa butuh waktu tiga bulan untuk bicarkan tentang reshuffle. Dan output-nya pun tentang politik represantasi," ungkapnya.

SBY tidak langsung mengambil sikap terhadap para menterinya, karena sekali lagi, dia ingin menunjukkan kepada publik bahwa menterinya lah yang tidak bekerja. Hal itu ia lakukan lewat dramaturgi tersebut.

"Mekanisme, dia panggil (para menteri) ke Cikeas dan segala macam, itu kan lebih menunjukkan dramatrugi. Kesahalan menjadi di-sharing. Kesahalan tidak semata-mata ada pada nakhoda tapi juga di anak buah," tandas Gun Gun. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya