Berita

Irgan Chairul Mahfiz

Ketua PPP: Boleh Jadi PKS dan Presiden punya Kontrak Spesial

JUMAT, 07 OKTOBER 2011 | 10:43 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Partai Keadilan Sejahtera memastikan punya kontrak khusus dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang membedakannya dengan partai koalisi lainnya. Klaim PKS, yang kerap disampaikan Sekjen PKS Anis Matta, boleh jadi betul. Karena setiap partai memiliki kontrak masing-masing dengan Presiden SBY.

"Kita kan kurang tahu. Kurang paham ya. Karena kontrak politik dibuat per partai kan. Jadi masing-masing partai punya kontrak koalisi masing-masing (dengan Presiden)," kata Ketua DPP Irgan Chairul Mahfiz kepada Rakyat Merdeka Online pagi ini.

Tapi, kata Irgan, setiap partai memiliki kontrak masing-masing dengan Presiden SBY itu pada saat menjelang pemilihan presiden 2009. Irgan saat itu menjabat sebagai Sekjen DPP PPP.


Tapi, lanjut Irgan, Presiden SBY kembali melakukan kontrak koalisi dengan partai politik untuk yang kedua, pada Maret lalu, setelah Pansus Pajak gagal dibentuk di parlemen. Pada kontrak kedua ini, semua semua partai politik dengan Presiden memiliki kedudukan yang sama.

"Kalau yang kedua, kayaknya semua antara presiden dengan partai koalisi," lanjut Wakil Ketua Komisi IX DPR ini.

Tapi, bukan kah pada waktu itu, pimpinan PKS tidak diajak bicara oleh Presiden, berbeda dengan pimpinan partai lainnya?

"Saya kurang tahu persis ya. Tapi yang jelas, kontrak kedua itu semua partai koalisi bersama Presiden. Jadi yang kedua itu sema semua (kedudukannya). Yang disepakati juga sema. Kan antarpresiden dengan seluruh partai koalisi," ungkapnya.

Pada kontrak kedua, berisi kesepakatan antara lain, semua partai koalisi bersama-sama menjaga kesinambungan pembangunan baik di eksekutif maupun di legislasif. Tak hanya itu, disebutkan juga, kalau Presiden mau merombak kabinet, harus mengkomunikasikan dengan partai koalisi.

"Walaupun, sesungguhnya semua otoritas Presiden. Tapi punya komitmen moral politik saja," tandasnya. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya