Berita

sby

Di Dunia Ini, Cuma SBY Presiden Negara Presidensial yang Berkoalisi

RABU, 05 OKTOBER 2011 | 22:27 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

RMOL. Tampaknya ada yang salah dalam cara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam menata Kabinet Indonesia Bersatu yang telah dua periode dia pimpin. Dalam membentuk kabinet, SBY terbawa pemikiran sistem parlementer, sehingga harus berkoalisi dengan partai politik lainnya. Padahal, dalam sistem presidensial, seperti Indonesia, presiden tidak perlu membentuk koalisi.

Hal itu dikatakan ahli hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra kepada Rakyat Merdeka Online malam ini.

"SBY itu dalam menyusun kabinet terbawa kepada pemikiran seolah-olah pemerintah kita ini parlementer. Menyusun kabinet itu, dia hitung betul kekuatan di DPR. Berapa banyak yang ada di pemerintahan, berapa banyak yang ada di oposisi. Makanya dia bentuk terus koalisi," katanya.


Makanya, hanya di Indonesia negara yang menerapkan sistem presidensial tapi pemerintahannya membentuk koalisi.

"Anda lihat saja di dunia ini, apa ada (negara) presidensial yang punya koalisi. Nggak ada. Hanya SBY saja. Mana ada koalisi di Brazil, di Filipina yang menggunakan sistem presidensial. Amerika apalagi. Mana ada koalisi. Koalisi itu ada pada sistem parlementer. Sistem presidensial pakai koalisi, aneh," cetus mantan menteri kehakiman ini.
 
SBY membentuk koalisi karena selalu ketakutan menghadapi DPR. Dia kuatir, kalau sewaktu-waktu DPR mengajukan interpelasi, angket, apa lagi impeachment, sementara pemerintahannya tidak mendapatkan back-up yang kuat.

"Presiden dilanda kekuatiran yang sangat besar dalam hal ini. Akibatnya dia menyusun kabinet itu menghitung kekuatan yang ada di DPR," demikian Yusril. [zul]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

KPK: Capres hingga Kepala Daerah Idealnya Tidak Karbitan

Minggu, 26 April 2026 | 17:35

Victor Orban Angkat Kaki dari Parlemen Hongaria, Fokus Benahi Partai

Minggu, 26 April 2026 | 17:18

Menlu Iran Temui Sultan Oman setelah Mediasi di Pakistan Gagal

Minggu, 26 April 2026 | 16:38

Respons Dedi Mulyadi Disindir "Shut Up KDM"

Minggu, 26 April 2026 | 16:37

PAD Retribusi Sampah Bocor Rp20 Miliar, Baunya di Saku Birokrat?

Minggu, 26 April 2026 | 16:01

Beyond Nostalgia ALJIRO Dorong Alumni Berperan untuk SDM

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Tersangka Penembakan Gala Dinner Wartawan Incar Pejabat Trump

Minggu, 26 April 2026 | 15:50

Comeback Sempurna di Bawah Keteduhan Trembesi

Minggu, 26 April 2026 | 15:42

Dua Laksamana Masuk Bursa Kuat KSAL

Minggu, 26 April 2026 | 15:40

Daycare Lakukan Kekerasan Harus Dicabut Izin dan Pelaku Dipenjara

Minggu, 26 April 2026 | 14:57

Selengkapnya